Di Balik Megaproyek IKN, Kaltim Tertatih Penuhi Layanan Kesehatan Dasar

ADVERTORIAL — Di tengah gegap gempita pembangunan infrastruktur menuju Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur (Kaltim) masih menghadapi persoalan mendasar yang kerap luput dari sorotan: keterbatasan layanan kesehatan di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Ribuan warga di daerah-daerah terpencil terpaksa menempuh perjalanan jauh ke pusat kota demi mendapatkan pelayanan medis dasar.
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kaltim, Andi Satya Adi Saputra, menyoroti kondisi ini sebagai krisis yang bisa mengancam kualitas layanan publik, khususnya di sektor kesehatan. Ia menyebut, Kaltim masih membutuhkan setidaknya 4.000 tenaga kesehatan tambahan untuk mencapai standar pelayanan ideal di seluruh kabupaten dan kota. “Banyak fasilitas kesehatan di daerah tidak dapat beroperasi maksimal karena minimnya SDM. Ini membuat warga di desa-desa terpencil sangat rentan,” tegasnya.
Sebagai langkah darurat, Andi Satya mengusulkan pemanfaatan teknologi digital, terutama layanan telemedicine atau pelayanan kesehatan jarak jauh berbasis internet. Menurutnya, ketersediaan jaringan yang semakin meluas di berbagai wilayah Kaltim seharusnya dimaksimalkan untuk menjangkau daerah-daerah yang belum memiliki dokter tetap. “Telemedicine sangat relevan untuk Kaltim. Dengan kondisi geografis kita, layanan digital bisa menjadi jembatan penyelamat,” ujarnya pada (23/07/25).
Namun demikian , ia menekankan bahwa digitalisasi layanan kesehatan hanya bisa menjadi solusi sementara. Untuk jangka menengah, ia mendorong pembentukan kemitraan antara pemerintah daerah dengan institusi pendidikan, baik dari Kaltim maupun luar daerah, guna mempercepat penempatan tenaga medis ke wilayah-wilayah yang krisis tenaga kesehatan.
Lebih jauh, langkah jangka panjang dinilainya harus dimulai dari pembinaan sumber daya manusia lokal. Ia menyarankan pemerintah memberikan beasiswa ikatan dinas di bidang kedokteran, dengan kewajiban bagi penerima beasiswa untuk kembali mengabdi di daerah asal setelah menyelesaikan studi. “Kalau beasiswa dikaitkan dengan kewajiban kembali mengabdi, maka kita bisa menjamin ada regenerasi tenaga medis yang berkelanjutan di wilayah terpencil,” tandasnya.
Andi Satya berharap pemerintah tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik semata, tetapi juga memperhatikan peningkatan kualitas layanan dasar seperti kesehatan. Menurutnya, tanpa keberadaan tenaga medis yang memadai, pembangunan sebesar apa pun akan kehilangan makna sosialnya di mata masyarakat. []
Penulis: Selamet | Penyunting: Aulia Setyaningrum