Kerusuhan Indonesia di Mata Dunia: Politik, Ekonomi, dan Ketidakpuasan

JAKARTA – Gelombang demonstrasi yang merebak di sejumlah kota di Indonesia tidak hanya mengundang perhatian publik dalam negeri, tetapi juga menjadi sorotan luas media internasional.

Berbagai pemberitaan menyoroti kematian Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online (ojol) yang tewas terlindas kendaraan taktis Brimob, sebagai pemicu kemarahan massa.

Peristiwa itu dipandang sebagai simbol ketidakpuasan yang lebih luas terhadap kondisi ekonomi dan politik nasional.

Reuters menilai rangkaian aksi tersebut sebagai ujian besar pertama bagi Presiden Prabowo Subianto yang baru hampir setahun memimpin.

Massa yang terdiri dari mahasiswa, pekerja, hingga pengemudi ojol berkumpul di berbagai kota, dari Jakarta hingga Gorontalo.

“Kami tidak ingin rekan kami menjadi korban lagi,” kata Pendi Nasir (43), salah seorang pengemudi ojol kepada Reuters.

Media itu juga menyoroti pelemahan rupiah dan jatuhnya indeks saham usai kerusuhan.

Sementara itu, BBC menekankan bahwa pemakaman Affan menjadi titik emosional perlawanan. Ribuan ojol hadir, bersama sejumlah tokoh politik seperti Anies Baswedan dan Rieke Dyah Pitaloka.

Dalam laporannya, BBC mencatat polisi telah menahan tujuh anggota Brimob yang diduga terlibat, sembari menyoroti tuntutan publik agar tunjangan rumah DPR sebesar Rp 50 juta per bulan dibatalkan.

Al Jazeera menggarisbawahi persoalan ketimpangan. Media asal Qatar itu menilai tunjangan DPR yang mencapai hampir 10 kali lipat UMP Jakarta sebagai simbol ketidakadilan yang menyulut protes.

Video kematian Affan yang tersebar luas di media sosial disebut sebagai pemantik kemarahan publik yang semakin sulit dibendung.

AFP pun melaporkan bahwa aksi ini menjadi protes paling keras sejak Prabowo berkuasa pada 2024.

“Pelaku harus diadili seadil-adilnya, dan dipecat dari institusinya,” ujar Muzakir (52), seorang ojol, dalam wawancaranya.

Dari empat media besar dunia tersebut, terlihat bagaimana narasi tentang Indonesia sedang dibentuk: rakyat yang kecewa, simbol perlawanan yang lahir dari tragedi, serta kepemimpinan nasional yang diuji dalam sorotan global. []

Nur Quratul Nabila A

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *