Taiwan Perkuat Pertahanan, China Tegaskan Reunifikasi

JAKARTA — Ketegangan di Selat Taiwan kembali mengemuka pada awal Tahun Baru setelah Presiden Taiwan Lai Ching-te menegaskan komitmennya untuk mempertahankan kedaulatan nasional dan memperkuat pertahanan negara. Pernyataan tersebut disampaikan dalam pidato Tahun Baru yang disiarkan secara nasional, hanya sehari setelah China menuntaskan latihan militer berskala besar di sekitar perairan Taiwan.

Dalam pidatonya, Lai menyoroti meningkatnya tekanan geopolitik dan ancaman militer yang dihadapi Taiwan, terutama dari Beijing yang terus mengklaim pulau tersebut sebagai bagian dari wilayahnya. Ia menyebut bahwa sikap dan keteguhan rakyat Taiwan kini menjadi perhatian dunia internasional.

“Menghadapi ambisi ekspansionis China yang meningkat, komunitas internasional sedang mengamati apakah rakyat Taiwan memiliki tekad untuk membela diri,” kata Lai dalam pidato Tahun Barunya.

Lai menegaskan bahwa sebagai kepala negara, ia akan mengambil sikap tegas dalam menghadapi tantangan tersebut. “Sebagai presiden, pendirian saya selalu jelas: untuk dengan tegas melindungi kedaulatan nasional, memperkuat pertahanan nasional dan ketahanan seluruh masyarakat, dan secara komprehensif membangun mekanisme pencegahan dan pertahanan demokratis yang efektif.”

Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya aktivitas militer China di sekitar Taiwan. Beijing baru saja menggelar latihan militer selama dua hari yang mensimulasikan blokade laut terhadap Taiwan. Dalam latihan tersebut, China mengerahkan armada laut dan udara, termasuk penggunaan peluru hidup di sejumlah zona perairan strategis.

Latihan yang dinamai Misi Keadilan 2025 itu dipandang sebagai sinyal kekuatan militer China sekaligus pesan politik kepada Taipei dan para pendukungnya. Aksi tersebut dilakukan kurang dari dua pekan setelah Amerika Serikat mengumumkan paket penjualan senjata kepada Taiwan senilai €9,43 miliar, atau sekitar Rp185 triliun, serta di tengah pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi yang menegaskan komitmen Tokyo untuk membela Taiwan.

Taiwan sendiri merupakan negara yang dipimpin secara demokratis dan telah terpisah dari China sejak akhir perang saudara pada 1949. Meski demikian, China secara konsisten mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer untuk mengambil alih kendali atas pulau tersebut.

Dalam pidato yang disiarkan dari kantor kepresidenan, Lai juga menyinggung pentingnya persatuan politik di dalam negeri. Ia memperingatkan bahwa penundaan pengesahan rancangan undang-undang pengeluaran pertahanan senilai US$40 miliar dapat melemahkan posisi Taiwan di mata dunia.

“Hanya melalui persatuan, bukan perpecahan, kita dapat menghindari pengiriman sinyal yang salah kepada China bahwa mereka dapat menyerang Taiwan,” tambah presiden.

Meski menegaskan sikap keras soal kedaulatan, Lai menyatakan Taiwan tetap membuka ruang dialog dengan China, dengan syarat Beijing menghormati sistem demokrasi dan kehendak rakyat Taiwan.

Di sisi lain, pemerintah China menolak keras kritik internasional terhadap latihan militernya. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menyebut kecaman tersebut sebagai “kritik yang tidak bertanggung jawab terhadap upaya yang adil dari China untuk mempertahankan kedaulatan dan integritas wilayahnya.” Ia juga menuding adanya “pasukan separatis” di Taiwan yang berupaya mendorong kemerdekaan melalui jalur militer.

Media pemerintah China bahkan menggambarkan pidato Lai sebagai “penuh dengan kebohongan dan omong kosong, permusuhan dan kebencian,” serta menudingnya memicu “konfrontasi lintas selat.”

Presiden China Xi Jinping, dalam pidato Tahun Baru yang disiarkan televisi pada Rabu (31/12/2025), kembali menegaskan posisi Beijing. “Penyatuan kembali” dengan Taiwan, menurut Xi, adalah sesuatu yang tidak terelakkan.

“Kita orang China di kedua sisi Selat Taiwan berbagi ikatan darah dan kekerabatan,” katanya. “Penyatuan kembali tanah air kita, sebuah tren zaman, tidak dapat dihentikan.”

Dalam pidato yang sama, Xi juga menyinggung kemajuan teknologi China, termasuk perkembangan kecerdasan buatan, industri semikonduktor, robot humanoid, dan teknologi drone, yang disebutnya sebagai bukti kekuatan nasional China di tengah persaingan global. []

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *