Olahan Mangrove Jadi Peluang Ekonomi Baru di Pesisir Kukar

KUTAI KARTANEGARA — Pemanfaatan buah mangrove sebagai produk olahan pangan mulai membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat pesisir di Kabupaten Kutai Kartanegara. Usaha pengolahan mangrove yang dirintis warga Desa Handil Muara, Kecamatan Muara Jawa Ilir, sejak 2024 kini berkembang menjadi sumber pendapatan alternatif berbasis potensi lokal dan ramah lingkungan.

Fitriana Rahim, pelaku usaha olahan mangrove di kawasan pesisir Muara Jawa Ilir, mengatakan ide tersebut berawal dari kegiatan pembibitan mangrove yang telah ia lakukan sejak 2021. Melihat buah mangrove belum banyak dimanfaatkan sebagai bahan pangan, ia kemudian mengembangkan produk olahan bernilai tambah.

“Sejak 2024, buah mangrove yang sebelumnya belum banyak dimanfaatkan mulai kami olah menjadi produk pangan. Tujuan utamanya adalah memanfaatkan potensi lokal buah mangrove sekaligus menghadirkan produk unik, seperti kopi mangrove yang sehat untuk lambung,” ujar Fitriana, Jumat (02/01/2026).

Usaha olahan mangrove ini tidak hanya berorientasi pada inovasi produk, tetapi juga bertujuan meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir. Sejumlah produk yang telah dikembangkan antara lain kopi mangrove, sirup mangrove, dan tepung nipah. Kopi mangrove sendiri dipasarkan dengan harga Rp20 ribu per pouch berisi 100 gram.

Menurut Fitriana, keberadaan usaha ini telah memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat sekitar. Ia melibatkan ibu rumah tangga dalam proses pengolahan bahan baku hingga pengemasan produk.

“Usaha ini memberikan kontribusi peningkatan pendapatan masyarakat sekitar. Kami mengajak ibu rumah tangga untuk terlibat langsung dalam pengolahan mangrove, sehingga mereka bisa memiliki penghasilan tambahan,” katanya.

Dari sisi pasar, produk olahan mangrove dinilai memiliki prospek menjanjikan. Keunikan produk serta manfaat kesehatan menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen, dan sejumlah testimoni positif turut memperkuat minat pasar terhadap produk tersebut.

“Respon konsumen cukup baik. Banyak yang tertarik karena produk ini ramah lingkungan dan memiliki manfaat kesehatan. Testimoni positif membuat kami semakin optimistis bahwa produk ini bisa diterima pasar lebih luas,” ujarnya.

Meski demikian, Fitriana mengakui masih terdapat kendala, terutama keterbatasan alat produksi. Dukungan pemerintah daerah sejauh ini lebih banyak berupa pelatihan, pendampingan perizinan, dan promosi.

“Saya berharap ke depan ada bantuan alat produksi agar pengolahan bisa lebih efisien dan mampu bersaing di tingkat regional hingga nasional. Produk olahan mangrove ini berpotensi menjadi oleh-oleh unggulan Kutai Kartanegara,” pungkasnya.

Kepala Bidang Pengembangan UKM Diskop UKM Kukar, Fathul Alamin

Sejalan dengan inisiatif masyarakat, Dinas Koperasi dan UKM (Diskop UKM) Kabupaten Kutai Kartanegara mendorong pengembangan produk olahan mangrove agar menjadi salah satu produk unggulan daerah yang berbasis potensi lokal. Inovasi usaha masyarakat pesisir dinilai memiliki nilai ekonomi, sosial, dan lingkungan yang sejalan dengan arah pengembangan UMKM berkelanjutan di Kukar.

Kepala Bidang Pengembangan UKM Diskop UKM Kukar, Fathul Alamin, mengatakan pemanfaatan mangrove sebagai bahan pangan olahan merupakan langkah strategis dalam menciptakan diferensiasi produk UMKM daerah. Selain unik, produk tersebut memiliki nilai tambah karena mengangkat kearifan lokal dan kepedulian terhadap lingkungan.

“Produk olahan mangrove ini sangat potensial karena tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga membawa pesan pelestarian lingkungan. Ini sejalan dengan visi pengembangan UMKM Kukar yang berbasis potensi lokal dan berkelanjutan,” ujar Fathul Alamin, Jumat (02/01/2026).

Ia menilai, usaha pengolahan mangrove yang berkembang di kawasan pesisir Muara Jawa Ilir telah menunjukkan kontribusi nyata terhadap peningkatan ekonomi masyarakat. Keterlibatan warga, khususnya ibu rumah tangga, dalam proses produksi turut mendukung penguatan ekonomi keluarga dan pemberdayaan masyarakat.

“Dari sisi pemberdayaan, usaha ini sudah melibatkan masyarakat sekitar secara langsung. Ini menjadi contoh UMKM yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga pada dampak sosial,” katanya.

Fathul menambahkan bahwa Diskop UKM Kukar selama ini telah memberikan dukungan melalui berbagai program, seperti pelatihan peningkatan kapasitas usaha, pendampingan perizinan, hingga fasilitasi promosi produk. Dukungan tersebut diharapkan mampu meningkatkan daya saing produk lokal di pasar yang lebih luas.

“Kami terus melakukan pendampingan agar produk UMKM, termasuk olahan mangrove, bisa memenuhi standar kualitas, kemasan, dan legalitas. Dengan begitu, produk dapat menembus pasar regional bahkan nasional,” jelasnya.

Ia mengakui masih terdapat tantangan, terutama keterbatasan sarana dan prasarana produksi.

“Kami mencatat kebutuhan tersebut dan akan mengupayakan sinergi dengan perangkat daerah terkait maupun program bantuan yang tersedia. Harapannya, UMKM olahan mangrove ini bisa berkembang lebih cepat dan menjadi ikon oleh-oleh khas Kutai Kartanegara,” ujarnya.

Fathul menegaskan, Diskop UKM Kukar berkomitmen terus mendorong inovasi UMKM berbasis potensi lokal sebagai bagian dari penguatan ekonomi daerah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir. Melalui pengembangan olahan mangrove, produk diharapkan menjadi ikon kuliner dan oleh-oleh khas Kutai Kartanegara yang dikenal hingga tingkat regional bahkan nasional. []

Penulis: Anggi Triomi | Penyunting: Aulia Setyaningrum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *