Trump Ancam Delcy Rodriguez, Masa Depan Venezuela Kian Tegang
JAKARTA – Ketegangan politik di Venezuela memasuki babak baru setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melontarkan peringatan keras kepada kepemimpinan baru negara Amerika Latin tersebut. Ultimatum itu disampaikan menyusul penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan AS dalam operasi militer yang mengguncang kawasan dan memicu reaksi keras dari berbagai pihak internasional.
Trump secara terbuka menegaskan bahwa pemerintahan baru Venezuela harus bersikap kooperatif terhadap kepentingan Amerika Serikat. Jika tidak, ia memperingatkan akan ada konsekuensi berat yang harus ditanggung oleh pemimpin baru negara tersebut. Pernyataan ini merujuk pada penunjukan Delcy Rodriguez sebagai pemimpin sementara Venezuela setelah penangkapan Maduro.
Dalam wawancara singkat melalui sambungan telepon dengan media The Atlantic, Trump menyampaikan ancamannya secara gamblang. “Jika dia tidak melakukan apa yang benar, dia akan membayar harga yang sangat mahal, mungkin lebih mahal daripada Maduro,” kata Trump kepada The Atlantic dalam sebuah wawancara telepon singkat dilansir AFP, Senin (05/01/2026).
Delcy Rodriguez diketahui sebelumnya menjabat sebagai wakil presiden di bawah pemerintahan Nicolas Maduro. Penunjukannya sebagai pemimpin sementara justru memantik ketegangan baru, mengingat sikapnya yang dinilai menantang kebijakan Washington. Rodriguez bahkan sempat menyampaikan pernyataan keras beberapa jam setelah serangan militer AS di Caracas.
Dalam pernyataan publiknya pada Sabtu (03/01/2026), Rodriguez menegaskan bahwa Maduro masih merupakan pemimpin sah Venezuela. Ia juga menekankan kesiapan pemerintahannya untuk mempertahankan kedaulatan nasional. Ia menyatakan bahwa Maduro adalah satu-satunya pemimpin sah negara itu dan bahwa “kami siap membela sumber daya alam kami.”
Situasi semakin memanas setelah pasukan AS melancarkan serangan ke ibu kota Venezuela pada Sabtu dini hari. Operasi tersebut menyasar sejumlah target militer strategis. Dalam operasi yang sama, Maduro dan istrinya ditangkap dan diterbangkan ke Amerika Serikat untuk menghadapi dakwaan perdagangan narkoba di pengadilan federal New York. Langkah ini menandai eskalasi tajam kebijakan luar negeri Washington terhadap Caracas.
Meski demikian, pemerintahan Trump membuka peluang kerja sama dengan pemerintahan Venezuela, dengan syarat kepentingan strategis AS dapat dipenuhi. Salah satu kepentingan utama yang disorot adalah akses investasi perusahaan Amerika Serikat terhadap cadangan minyak mentah Venezuela, yang selama ini menjadi salah satu yang terbesar di dunia.
Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak sekadar ingin menjatuhkan rezim, melainkan juga berambisi membentuk ulang Venezuela pasca-Maduro. Dalam wawancara yang sama, ia menyebut kondisi Venezuela saat ini sebagai negara yang mengalami kehancuran sistemik.
“Membangun kembali bukanlah hal yang buruk dalam kasus Venezuela,” katanya.
Trump kemudian melanjutkan kritiknya terhadap kondisi negara tersebut. “Negara itu telah hancur. Itu adalah negara yang gagal. Itu adalah negara yang benar-benar gagal. Itu adalah negara yang merupakan bencana dalam segala hal,” sambung Trump.
Pernyataan Trump tersebut mempertegas arah kebijakan AS yang tidak hanya berfokus pada aspek hukum terhadap Maduro, tetapi juga pada rekonstruksi politik dan ekonomi Venezuela sesuai kepentingan Washington. Hingga kini, situasi di Venezuela masih belum stabil, sementara respons internasional terhadap tindakan AS terus berkembang. []
Siti Sholehah.
