Korut Tuduh Drone Asal Korsel Masuki Wilayah Udara, Seoul Membantah

JAKARTA – Ketegangan di Semenanjung Korea kembali meningkat setelah Korea Utara menuding Korea Selatan melakukan aktivitas pengintaian dengan menerbangkan drone ke wilayah udaranya. Tuduhan tersebut langsung dibantah oleh pihak Seoul, yang menyatakan tidak memiliki catatan maupun keterlibatan dalam penerbangan drone sebagaimana diklaim Pyongyang.

Militer Korea Utara menyatakan telah mendeteksi sebuah drone yang bergerak melintasi wilayah perbatasan pada awal Januari 2026. Drone tersebut disebut terbang dari wilayah Korea Selatan menuju utara sebelum akhirnya ditembak jatuh di sekitar Kota Kaesong, wilayah Korea Utara yang berdekatan dengan garis demarkasi militer.

Dalam pernyataan resminya, juru bicara militer Korea Utara menegaskan bahwa drone tersebut bukan sekadar melanggar wilayah udara, tetapi juga dilengkapi perangkat pengintaian yang digunakan untuk memantau objek-objek strategis.

“Peralatan pengawasan telah dipasang pada drone tersebut dan analisis puing-puing menunjukkan bahwa drone tersebut telah menyimpan rekaman target penting Korea Utara termasuk daerah perbatasan,” kata juru bicara tersebut.

Pihak Korea Utara turut merilis sejumlah foto yang diklaim sebagai puing-puing drone yang berhasil dijatuhkan. Dalam foto tersebut terlihat badan pesawat bersayap yang rusak serta sejumlah komponen berwarna abu-abu dan biru yang disebut sebagai bagian dari kamera dan perangkat perekam.

Selain itu, Korea Utara juga menyebarkan gambar udara wilayah Kaesong yang disebut diambil langsung oleh drone tersebut. Menurut Pyongyang, gambar-gambar tersebut menjadi bukti bahwa pesawat tanpa awak itu benar-benar memasuki wilayah udara mereka untuk tujuan pengawasan.

“Gambar-gambar itu adalah ‘bukti jelas’ bahwa pesawat tersebut telah ‘memasuki wilayah udara (kami) untuk tujuan pengawasan dan pengintaian’,” ujar juru bicara militer Korea Utara.

Namun, klaim tersebut ditolak keras oleh Korea Selatan. Menteri Pertahanan Korea Selatan, Ahn Gyu-back, menegaskan bahwa drone yang ditampilkan dalam foto-foto tersebut bukan milik atau bagian dari sistem persenjataan militer negaranya.

Ia menyatakan bahwa pihaknya tidak menemukan catatan penerbangan drone di wilayah yang disebutkan, serta memastikan bahwa model drone yang ditunjukkan Korea Utara tidak digunakan oleh militer Korea Selatan.

Sementara itu, Kantor Presiden Korea Selatan menyampaikan bahwa pemerintah akan menggelar rapat Dewan Keamanan Nasional untuk membahas tuduhan tersebut dan mengevaluasi dampaknya terhadap stabilitas kawasan.

Wilayah Ganghwa, yang disebut sebagai titik awal lintasan drone menurut Korea Utara, memang dikenal sebagai salah satu wilayah Korea Selatan yang paling dekat dengan Korea Utara. Kawasan ini kerap menjadi sorotan karena posisinya yang strategis dan sensitif secara militer.

Korea Utara juga mengaitkan insiden ini dengan kejadian serupa pada September tahun lalu, ketika Korea Selatan dituduh menerbangkan drone di dekat wilayah Paju. Pyongyang menilai pola tersebut sebagai provokasi berulang yang mengancam keamanan nasionalnya.

Dalam pernyataannya, juru bicara militer Korea Utara melontarkan peringatan keras terhadap Korea Selatan.

Seoul disebut akan terpaksa “membayar mahal atas histeria mereka yang tak termaafkan” apabila tindakan serupa terus dilakukan.

Pernyataan ini mempertegas bahwa hubungan kedua Korea masih berada dalam kondisi rapuh, dengan potensi eskalasi yang sewaktu-waktu dapat memicu ketegangan lebih besar. Hingga kini, belum ada tanda-tanda upaya dialog langsung antara kedua pihak terkait insiden drone tersebut, sementara komunitas internasional terus memantau perkembangan situasi di kawasan Semenanjung Korea. []

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *