Insiden Tambang Kembali Terjadi, Empat Pekerja Tewas di Afghanistan

KABUL – Tragedi kembali menimpa sektor pertambangan di Afghanistan. Empat orang penambang dilaporkan meninggal dunia saat melakukan aktivitas penggalian batu permata di wilayah utara negara tersebut. Insiden ini diduga kuat berkaitan dengan buruknya sistem keselamatan kerja di lokasi tambang yang berada di bawah tanah.

Peristiwa tersebut terjadi di Distrik Khash, Provinsi Badakhshan, sebuah daerah yang dikenal sebagai salah satu pusat penambangan batu mulia di Afghanistan. Para korban menghembuskan napas terakhir saat sedang bekerja menggali material berharga di dalam lubang tambang.

“Insiden itu terjadi di Distrik Khash, Provinsi Badakhshan, di mana empat pekerja di sebuah tambang meninggal,” kata juru bicara kepolisian Badakhshan, Ehsanullah Kamgar, Minggu (11/01/2026).

Menurut keterangan pihak kepolisian setempat, kejadian nahas itu berlangsung pada Jumat (09/01/2026) waktu setempat. Para penambang saat itu berada di bawah tanah untuk mencari batu permata, sebuah aktivitas yang umum dilakukan warga setempat sebagai sumber mata pencaharian.

Kamgar menjelaskan bahwa kematian keempat penambang tersebut diduga disebabkan oleh gangguan pernapasan serius. Asap yang dihasilkan dari mesin penghancur batu di dalam area tambang disebut menjadi pemicu utama insiden tersebut.

“Para penambang sedang mencari batu mulia di bawah tanah dan meninggal karena sesak napas yang disebabkan oleh asap yang dikeluarkan dari mesin penghancur batu,” tambahnya.

Hingga kini, otoritas setempat belum memberikan keterangan lebih lanjut terkait status legalitas tambang tersebut. Tidak ada penjelasan resmi apakah lokasi penambangan itu beroperasi dengan izin pemerintah atau merupakan tambang ilegal yang dikelola secara tradisional oleh warga.

Kondisi pertambangan di Afghanistan memang kerap menjadi sorotan, terutama terkait aspek keselamatan kerja. Banyak tambang beroperasi dengan peralatan sederhana dan minim standar pengamanan. Para pekerja sering kali tidak dilengkapi alat pelindung diri, sistem ventilasi memadai, maupun prosedur keselamatan dasar.

Afghanistan dikenal memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Negara ini menambang berbagai komoditas, mulai dari marmer, emas, batu mulia, hingga batu bara. Selain itu, cadangan tembaga dan litium yang terkubur di wilayah pegunungan Afghanistan diperkirakan bernilai sangat besar. Penilaian internasional pada awal dekade lalu menyebut nilai potensi sumber daya alam Afghanistan bisa mencapai sekitar satu triliun dolar.

Namun, potensi ekonomi tersebut belum sepenuhnya mampu meningkatkan kesejahteraan pekerja tambang. Sebaliknya, kecelakaan kerja kerap terjadi dan menelan korban jiwa. Aktivitas pertambangan yang dilakukan tanpa pengawasan ketat membuat risiko runtuhan, keracunan gas, hingga sesak napas akibat asap mesin menjadi ancaman nyata.

Insiden di Badakhshan ini bukanlah yang pertama. Pada Juli 2025 lalu, sebuah kecelakaan tambang batu bara di Provinsi Baghlan, Afghanistan utara, menewaskan enam orang dan melukai sedikitnya 18 penambang lainnya. Peristiwa tersebut juga dipicu oleh runtuhnya struktur tambang yang tidak memenuhi standar keselamatan.

Serangkaian kejadian ini menyoroti lemahnya regulasi dan pengawasan di sektor pertambangan Afghanistan. Para pengamat menilai perlunya langkah serius dari pemerintah untuk memperbaiki kondisi kerja di tambang, termasuk penerapan standar keselamatan yang lebih ketat serta penyediaan alat pelindung bagi para pekerja.

Tanpa pembenahan menyeluruh, aktivitas pertambangan yang seharusnya menjadi sumber penghidupan justru terus menyisakan duka bagi keluarga para penambang. Tragedi di Distrik Khash kembali menjadi pengingat bahwa keselamatan kerja masih menjadi persoalan krusial di balik kekayaan alam Afghanistan. []

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *