Kolaborasi Petani dan Migas Lahirkan Kopi Luwak Liberika Unggulan

KUTAI KARTANEGARA – Sebuah desa di pesisir Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, berhasil mengubah potensi alam menjadi kekuatan ekonomi bernilai tinggi melalui pengembangan kopi luwak liberika. Kampung Kopi Luwak di Desa Perangat Baru, Kecamatan Marang Kayu, kini dikenal sebagai penghasil kopi premium dengan harga jual mencapai Rp4,2 juta per kilogram.

Keberhasilan tersebut tidak terjadi secara instan. Ketua Kelompok Tani Kampung Kopi Luwak Desa Perangat Baru, Rindoni, mengatakan proses pendampingan hingga petani mampu memproduksi kopi luwak liberika secara mandiri memakan waktu sekitar lima tahun. Pendampingan dimulai sejak 2020 dan terus berkembang hingga saat ini.

“Prosesnya bertahap. Mulai dari perbaikan kesuburan tanah, peningkatan kualitas tanaman, hingga petani memahami pengolahan pascapanen kopi luwak yang sesuai standar mutu,” ujar Rindoni, Senin (12/01/2026).

Pendampingan tersebut merupakan bagian dari kerja sama antara kelompok tani dan PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) melalui Program Kapak Prabu, yang merupakan merek sekaligus inisiatif pengembangan kopi liberika desa. Program ini diawali dengan bantuan pupuk kompos hasil biogreening, kemudian berkembang menjadi pendampingan teknis budidaya kopi, pengelolaan lingkungan, serta penguatan kapasitas petani.

Menurut Rindoni, penggunaan jenis kopi liberika yang relatif jarang dibudidayakan, dikombinasikan dengan proses alami melalui luwak, menghasilkan cita rasa khas yang memiliki daya saing di pasar kopi premium. Produk ini kini mulai dipasarkan ke luar daerah dan diminati kolektor kopi spesialti.

Selain meningkatkan pendapatan petani, keberadaan Kampung Kopi Luwak juga mendorong perputaran ekonomi desa. Pemerintah desa bersama kelompok tani tengah menyiapkan pengembangan agrowisata berbasis edukasi kopi. Konsep yang dirancang meliputi kebun wisata kopi, edukasi proses produksi kopi luwak, hingga penjualan produk olahan langsung dari petani.

“Agrowisata akan dikembangkan secara bertahap dengan melibatkan pemuda desa dan pelaku UMKM lokal,” kata Rindoni.

Ke depan, kelompok tani berharap dukungan berkelanjutan datang dari pemerintah daerah, dinas pertanian, sektor swasta, serta pelaku pariwisata. Dengan sinergi tersebut, kopi luwak liberika Perangat Baru diharapkan tidak hanya menjadi komoditas unggulan, tetapi juga simbol keberhasilan kolaborasi desa dan industri dalam membangun ekonomi berkelanjutan di Kutai Kartanegara. []

Penulis: Anggi Triomi | Penyunting: Aulia Setyaningrum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *