Araghchi Sebut Ada Bukti Campur Tangan Mossad di Iran

TEHERAN – Pemerintah Iran kembali menegaskan keyakinannya bahwa rangkaian kekerasan yang terjadi di tengah gelombang unjuk rasa di sejumlah wilayah negara itu bukanlah peristiwa spontan semata. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan terdapat indikasi kuat keterlibatan badan intelijen asing, khususnya Mossad, dalam upaya mengubah protes ekonomi menjadi aksi kerusuhan bersenjata.

Menurut Araghchi, klaim tersebut tidak hanya didasarkan pada analisis internal pemerintah Iran, tetapi juga merujuk pada pernyataan terbuka seorang pejabat tinggi Amerika Serikat di masa lalu. Ia menyinggung unggahan media sosial mantan Direktur Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat, Mike Pompeo, yang menyebut keberadaan agen-agen Mossad di jalanan Iran.

Araghchi menilai pernyataan tersebut menjadi pengakuan tidak langsung atas campur tangan intelijen asing dalam dinamika keamanan domestik Iran. Dalam pandangannya, hal ini sekaligus membantah tudingan bahwa pemerintah Iran bersikap berlebihan dalam merespons unjuk rasa yang awalnya dipicu oleh persoalan ekonomi.

“Menurut pemerintah AS, Iran ‘delusional’ karena menilai bahwa Israel dan AS mengobarkan kerusuhan sarat kekerasan di negara kami,” kata Araghci dalam pernyataan via media sosial X pada Minggu (11/01/2026) waktu setempat.

“Hanya ada satu masalah: mantan Direktur CIA dari Presiden Trump sendiri telah secara terbuka dan tanpa malu-malu menyoroti apa yang sebenarnya dilakukan Mossad dan para pendukungnya di Amerika,” sebut Araghchi, yang menyertakan screenshot postingan Pompeo tersebut dalam unggahannya.

Dalam pernyataan lanjutan, Araghchi menegaskan bahwa aparat keamanan Iran menjadi sasaran serangan mematikan oleh kelompok yang disebutnya sebagai teroris terlatih. Ia mengklaim sejumlah personel kepolisian dieksekusi secara brutal, sementara aksi pembakaran fasilitas umum dilakukan secara terorganisasi untuk menciptakan ketakutan massal.

Di tengah tudingan bahwa Iran bersikap paranoid, Araghchi justru membalikkan narasi tersebut. Dia menyatakan bahwa pihak yang sesungguhnya berada dalam kondisi “delusional” adalah mereka yang meyakini bahwa aksi kekerasan dan sabotase tidak akan berbalik menghantam pelakunya sendiri.

“Satu-satunya aspek ‘delusional’ dari situasi saat ini adalah keyakinan bahwa aksi pembakaran tidak akan membakar pelakunya,” imbuhnya.

Lebih jauh, Araghchi mempertanyakan standar ganda yang diterapkan oleh pemerintah Amerika Serikat dalam menilai kekerasan. Ia menyoroti sikap Washington yang, menurutnya, kerap membenarkan tindakan represif aparat keamanan di dalam negeri dengan dalih pembelaan diri, namun pada saat yang sama mengkritik keras respons negara lain terhadap aksi kerusuhan.

Ia mencontohkan insiden penembakan seorang warga negara Amerika Serikat oleh agen imigrasi di Minneapolis, yang kemudian didukung penuh oleh pemerintahan Presiden Donald Trump. Dalam kasus tersebut, tindakan aparat disebut sebagai upaya membela diri, sementara korban justru dilabeli sebagai teroris domestik.

Araghchi juga menyinggung pernyataan keras Departemen Keamanan Dalam Negeri AS yang memperingatkan warga agar tidak melakukan kontak fisik dengan petugas federal, dengan ancaman konsekuensi hukum penuh. Menurutnya, sikap tersebut menunjukkan kontradiksi ketika AS menuntut negara lain bersikap lunak terhadap pelaku kerusuhan.

Sejalan dengan pernyataan Menlu Iran, Presiden Iran Masoud Pezeshkian sebelumnya juga menuding Amerika Serikat dan Israel berada di balik upaya destabilisasi nasional. Ia menuduh kedua negara tersebut melatih kelompok tertentu, baik di dalam maupun di luar negeri, serta menyusupkan elemen teroris ke Iran untuk memicu kekacauan.

Pemerintah Iran menegaskan akan terus menghadapi aksi kekerasan dengan pendekatan keamanan yang tegas, sembari tetap membuka ruang dialog bagi warga yang menyampaikan aspirasi secara damai. []

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *