Korut Tuduh AS Rusak Martabat PBB
NEW YORK – Ketegangan diplomatik kembali mencuat di panggung internasional setelah Korea Utara melontarkan kecaman keras terhadap Amerika Serikat. Pemerintah Korea Utara menilai Washington telah bertindak secara sepihak dan tidak bertanggung jawab dengan langkah-langkah yang dianggap merusak peran serta martabat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai forum multilateral dunia.
Dalam pernyataannya, perwakilan diplomatik Korea Utara di PBB menuduh Amerika Serikat bersikap “tidak tahu malu” dan melakukan praktik-praktik yang dinilai bertentangan dengan prinsip keadilan internasional. Pyongyang bahkan menyebut tindakan Washington sebagai “tindakan kriminal yang mengerikan” yang seharusnya menjadi fokus utama pembahasan di tubuh PBB.
Kecaman tersebut muncul menyusul rencana yang beredar mengenai pengarahan khusus di PBB terkait dugaan pelanggaran terhadap sanksi internasional yang selama ini dikenakan kepada Korea Utara. Negara itu memang masih berada di bawah berbagai sanksi Dewan Keamanan PBB terkait program nuklir dan pengembangan rudal balistiknya.
Dalam pernyataan resminya, misi diplomatik Korea Utara menegaskan bahwa perhatian dunia seharusnya tidak diarahkan secara sepihak kepada Pyongyang, melainkan kepada tindakan negara-negara besar yang dinilai telah mencederai tatanan hukum internasional.
“Yang seharusnya dipertanyakan dan dibahas secara terbuka di PBB sebagai isu terpenting yang tertunda adalah tindakan kriminal mengerikan AS,” kata misi diplomatik Korut dalam pernyataannya.
Lebih lanjut, Korea Utara menuding Amerika Serikat justru bersikap antagonis terhadap keberadaan PBB itu sendiri. Tuduhan tersebut memperlihatkan pandangan Pyongyang bahwa Washington kerap memanfaatkan lembaga internasional untuk melayani kepentingan geopolitik sepihak, alih-alih menjaga perdamaian dan stabilitas global.
“AS membenci keberadaan PBB itu sendiri,” imbuh pernyataan itu.
Meski tidak merinci secara spesifik tindakan yang dimaksud, pernyataan keras tersebut disampaikan tidak lama setelah Amerika Serikat melancarkan operasi militer di Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro. Langkah tersebut dinilai Korea Utara sebagai contoh nyata bagaimana Washington mengabaikan kedaulatan negara lain dan prinsip hukum internasional.
Menurut Pyongyang, praktik semacam itu menunjukkan pola lama kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang kerap menggunakan tekanan politik, ekonomi, dan militer dengan dalih hukum internasional. Korea Utara menilai PBB seharusnya menjadi arena netral untuk dialog dan penyelesaian konflik, bukan alat legitimasi bagi kepentingan negara tertentu.
“Irasionalitas dan praktik buruk Washington dalam menyalahgunakan arena PBB untuk memuaskan kepentingan geopolitiknya sendiri, tidak boleh dibiarkan,” tegas misi diplomatik Korut.
Korea Utara juga menuduh Amerika Serikat melakukan “tindakan ilegal dan tidak bermoral yang tidak tahu malu” serta berusaha menjadikan PBB sebagai panggung untuk kepentingan sepihak yang dinilai egois. Tuduhan tersebut mempertegas sikap Pyongyang yang selama ini memandang hubungan internasional berada dalam ketimpangan kekuasaan antara negara besar dan negara yang menjadi sasaran tekanan.
Pernyataan ini turut menyinggung keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang sebelumnya mengumumkan rencana penarikan negaranya dari sejumlah badan PBB. Langkah tersebut, menurut Korea Utara, semakin menunjukkan sikap kontradiktif Washington yang di satu sisi memanfaatkan PBB, namun di sisi lain meremehkan dan meninggalkan lembaga tersebut ketika dinilai tidak sejalan dengan kepentingannya.
Kecaman keras Korea Utara ini menambah daftar panjang ketegangan diplomatik antara Pyongyang dan Washington, sekaligus mencerminkan dinamika kompleks yang terus mewarnai politik internasional dan peran PBB di tengah persaingan kekuatan global. []
Siti Sholehah.
