Gedung Putih Tegaskan Trump Siap Gunakan Kekuatan Militer di Iran

JAKARTA – Gedung Putih menyampaikan sikap tegas Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait situasi di Iran. Pemerintahan AS menegaskan bahwa Trump tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer, termasuk kekuatan mematikan, apabila dianggap perlu dalam merespons dinamika politik dan keamanan di negara tersebut.

Pernyataan ini disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran, menyusul gelombang kerusuhan dan protes besar-besaran yang melanda Iran dalam beberapa pekan terakhir. Situasi tersebut memicu kekhawatiran global akan potensi eskalasi konflik terbuka antara dua negara yang telah lama bersitegang.

“(Trump) Selalu menyatakan bahwa diplomasi adalah pilihan pertama. Namun, dia tidak takut menggunakan kekuatan mematikan dan kekuatan militer Amerika Serikat, jika dan ketika dia menganggapnya perlu,” kata Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt.

“Tidak ada yang lebih tahu tentang hal itu selain rezim Iran,” sambungnya.

Menurut Leavitt, Presiden Trump memiliki kendali penuh atas keputusan strategis berikutnya. Ia menegaskan bahwa arah kebijakan AS ke depan tidak dapat diprediksi oleh pihak mana pun, termasuk oleh para sekutu Amerika sendiri.

“Apa yang akan dilakukan Presiden Trump selanjutnya, hanya dia yang tahu, jadi dunia harus terus menunggu dan menebak,” kata Leavitt.

Pernyataan ini menegaskan pendekatan kepemimpinan Trump yang kerap mengombinasikan diplomasi terbuka dengan ancaman tekanan militer sebagai alat tawar. Gedung Putih menilai pendekatan tersebut diperlukan untuk menghadapi Iran, yang selama ini dipandang Washington sebagai aktor regional yang menantang kepentingan Amerika dan sekutunya.

Dalam pernyataan lanjutan, Leavitt mengungkapkan bahwa di balik retorika keras di ruang publik, terdapat jalur komunikasi tertutup antara pemerintah Iran dan Presiden Trump. Menurutnya, pesan yang disampaikan Iran melalui jalur pribadi tersebut berbeda dari sikap yang ditampilkan secara terbuka di hadapan publik internasional.

“Apa yang dikatakan rezim Iran secara publik sangat berbeda dengan pesan yang mereka kirimkan kepada Amerika Serikat dan pemerintahan Trump secara pribadi,” kata Leavitt.

Meski demikian, Gedung Putih tidak merinci isi komunikasi tersebut maupun sejauh mana pembicaraan itu memengaruhi kebijakan AS.

Sementara itu, Iran tengah berada dalam situasi domestik yang sangat genting. Kerusuhan meluas di berbagai wilayah telah menelan ratusan korban jiwa dan memicu respons keras dari pemerintah. Otoritas Iran menetapkan masa berkabung nasional selama tiga hari untuk menghormati warga yang tewas, yang oleh pemerintah disebut sebagai martir dalam perlawanan nasional.

“Rakyat Iran telah mengalami langsung teroris kriminal yang melancarkan kekerasan perkotaan seperti ISIS terhadap warga sipil, anggota Basij, dan pasukan keamanan, yang mengakibatkan banyak kematian, tingkat kekerasan yang belum pernah terjadi sebelumnya hingga saat ini,” kata Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB).

Laporan kelompok pemantau hak asasi manusia menyebutkan bahwa ratusan demonstran tewas dan ribuan orang ditahan sejak gelombang protes dimulai. Di sisi lain, lebih dari seratus anggota pasukan keamanan Iran juga dilaporkan meninggal dunia dalam bentrokan tersebut.

Pemerintah Iran menuding Amerika Serikat dan Israel berada di balik instabilitas tersebut. Presiden Iran Masoud Pezekshkian bahkan menyerukan aksi turun ke jalan dalam pawai nasional sebagai bentuk perlawanan terhadap apa yang disebutnya sebagai campur tangan asing.

Di tengah situasi ini, pernyataan Gedung Putih mempertegas bahwa opsi militer tetap berada di atas meja. Dunia internasional kini menanti langkah berikutnya dari Presiden Trump, yang berpotensi menentukan arah konflik di Timur Tengah dalam waktu dekat. []

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *