Kapal Ikan Gabon Dibajak, Empat Awak WNI Hilang
JAKARTA – Aksi kejahatan laut kembali mengancam keselamatan pelaut internasional di perairan Teluk Guinea. Kali ini, sebuah kapal penangkap ikan berbendera Gabon menjadi sasaran serangan kelompok bersenjata yang diduga bajak laut. Dalam insiden tersebut, sembilan awak kapal diculik, termasuk empat warga negara Indonesia (WNI) yang bekerja sebagai anak buah kapal.
Serangan terjadi pada Sabtu malam ketika kapal sedang beroperasi di lepas pantai Gabon, Afrika Tengah. Para pelaku dilaporkan menaiki kapal dengan membawa senjata api dan melakukan penculikan terhadap sebagian awak kapal sebelum melarikan diri. Aksi ini menambah panjang daftar kasus pembajakan di kawasan Teluk Guinea, wilayah yang selama bertahun-tahun dikenal rawan perompakan bersenjata.
“Serangan ini, yang dilakukan oleh tiga orang bersenjata, menyebabkan penculikan sembilan awak kapal, termasuk lima warga negara Tiongkok dan empat warga negara Indonesia,” kata kepala staf angkatan laut Hubert Bekale Meyong dalam pernyataan video yang disiarkan oleh media Gabon.
Ia menjelaskan bahwa kapal yang diserang merupakan kapal penangkap ikan berbendera Gabon yang sedang beroperasi tidak jauh dari garis pantai.
“Kapal penangkap ikan IB Fish 7, yang mengibarkan bendera Gabon, menjadi korban serangan perompak saat sedang menangkap ikan sekitar tujuh mil laut barat daya Ekwata, di perairan Gabon,” tambahnya.
Dalam peristiwa tersebut, tidak seluruh awak kapal dibawa oleh para pelaku. Enam pelaut lainnya yang berasal dari Indonesia, Tiongkok, dan Burkina Faso dilaporkan masih berada di atas kapal. Otoritas Gabon kemudian menemukan kapal tersebut dan mengawalnya ke Pelabuhan Libreville untuk pengamanan lebih lanjut serta kepentingan penyelidikan.
Pihak berwenang Gabon menyatakan tengah mendalami insiden ini dengan melibatkan aparat keamanan laut. Penyelidikan difokuskan pada identifikasi pelaku, pola serangan, serta kemungkinan keterkaitan dengan jaringan pembajakan yang kerap beroperasi di kawasan Teluk Guinea. Wilayah ini membentang sepanjang ribuan kilometer di pesisir barat Afrika dan menjadi jalur strategis bagi pelayaran internasional, khususnya untuk distribusi minyak dan gas.
Kasus ini bukan yang pertama. Pada tahun sebelumnya, sejumlah pelaut juga dilaporkan menjadi korban penculikan bersenjata di perairan yang sama. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius bagi keselamatan awak kapal, termasuk WNI yang bekerja di sektor perikanan dan pelayaran internasional.
Menanggapi kejadian tersebut, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia memastikan telah mengambil langkah-langkah awal untuk melindungi WNI yang diduga menjadi korban penculikan. Perwakilan RI di kawasan setempat telah berkoordinasi dengan otoritas Gabon guna memperoleh informasi terbaru serta memastikan keselamatan para korban.
“Terkait pertanyaan tersebut, dapat kami sampaikan bahwa KBRI di Yaounde, Kamerun, yang wilayah akreditasi kerjanya merangkap Gabon, telah berkoordinasi dengan Konsul Kehormatan RI di Liberville (ibu kota Gabon),” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Vahd Nabyl.
Upaya diplomatik dan koordinasi lintas negara terus dilakukan seiring meningkatnya kekhawatiran atas keamanan pelaut Indonesia di wilayah rawan pembajakan. Pemerintah Indonesia juga mengimbau agar perusahaan pelayaran dan perikanan meningkatkan standar keamanan bagi awak kapal, terutama yang beroperasi di perairan berisiko tinggi.
Insiden ini kembali menegaskan pentingnya kerja sama internasional dalam menjaga keamanan laut, sekaligus menjadi pengingat bahwa perlindungan terhadap pekerja migran Indonesia di sektor maritim harus menjadi perhatian utama di tengah tingginya ancaman kejahatan lintas negara. []
Siti Sholehah.
