Rusia Nilai Intervensi Asing Perburuk Situasi Iran
MOSKOW – Pemerintah Rusia menyatakan penolakan keras terhadap segala bentuk campur tangan pihak luar dalam dinamika politik domestik Iran yang tengah dilanda gelombang unjuk rasa antipemerintah. Moskow menilai keterlibatan kekuatan asing berpotensi memperburuk situasi keamanan dan mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah yang sudah rapuh.
Sikap tersebut disampaikan menyusul meningkatnya ketegangan internasional setelah Amerika Serikat melontarkan ancaman intervensi terhadap respons keras otoritas Teheran dalam menangani demonstrasi massal. Rusia memandang langkah semacam itu sebagai preseden berbahaya yang dapat memperluas konflik dan memperkeruh hubungan antarnegara.
Kecaman Rusia disampaikan oleh Sekretaris Dewan Keamanan Rusia, Sergei Shoigu, dalam percakapan telepon dengan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani. Dalam komunikasi tersebut, Shoigu menegaskan posisi Moskow yang menolak segala bentuk tekanan eksternal terhadap kedaulatan Iran.
Tanpa menyebut negara tertentu, Shoigu menyampaikan pernyataan keras terkait upaya campur tangan asing. Ia menyatakan dirinya “dengan tegas mengutuk upaya terbaru oleh kekuatan asing untuk melakukan campur tangan terhadap urusan internal Iran”.
Pernyataan tersebut menjadi respons resmi pertama Rusia terhadap eskalasi kerusuhan yang meluas di berbagai wilayah Iran dalam beberapa hari terakhir. Demonstrasi besar-besaran tersebut dipicu oleh ketidakpuasan publik terhadap kondisi politik dan ekonomi, yang kemudian direspons aparat keamanan dengan tindakan represif.
Dalam percakapan yang sama, Shoigu juga menyampaikan belasungkawa kepada pihak Iran atas jatuhnya korban jiwa akibat kerusuhan tersebut. Ia menyinggung “banyaknya korban” yang timbul selama penanganan unjuk rasa, sekaligus menegaskan pentingnya penyelesaian krisis melalui pendekatan internal tanpa tekanan asing.
Situasi di Iran menjadi sorotan dunia internasional setelah muncul laporan mengenai tingginya jumlah korban tewas dan penahanan massal. Sebagian besar korban dilaporkan berasal dari kalangan demonstran, meskipun sejumlah aparat keamanan Iran juga turut menjadi korban dalam bentrokan yang terjadi.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, sebelumnya menuding Amerika Serikat dan Israel sebagai pihak yang bertanggung jawab atas instabilitas yang terjadi di negaranya. Ia menilai kedua negara tersebut berupaya “menebar kekacauan dan ketidakstabilan” dengan memicu kerusuhan. Meski demikian, pemerintah Iran menegaskan tetap membuka jalur komunikasi diplomatik dengan Washington.
Di sisi lain, tekanan internasional terhadap Teheran terus meningkat. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres, menyerukan agar otoritas Iran menahan diri dalam menghadapi demonstrasi dan menghormati hak asasi manusia, khususnya hak warga untuk menyampaikan pendapat secara damai.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dalam beberapa pernyataan terpisah, menegaskan bahwa negaranya tidak menutup kemungkinan melakukan intervensi. Ia bahkan memperingatkan penguasa Iran agar tidak menggunakan kekerasan terhadap para demonstran. Pada akhir pekan lalu, Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat berada dalam posisi “siap membantu”.
Pernyataan-pernyataan tersebut semakin mempertegas perbedaan pandangan antara Moskow dan Washington dalam menyikapi krisis Iran. Rusia menilai bahwa tekanan dan ancaman justru akan memperparah konflik, sementara penyelesaian harus ditempuh melalui dialog internal dan penghormatan terhadap kedaulatan negara.
Krisis Iran kini menjadi ujian besar bagi stabilitas regional dan tatanan hubungan internasional. Sikap Rusia yang menolak intervensi asing menunjukkan kekhawatiran akan terulangnya konflik berkepanjangan, sekaligus menegaskan posisinya sebagai salah satu aktor utama dalam dinamika geopolitik global. []
Siti Sholehah.
