Korban Demo Iran Tembus 646 Orang, Krisis Kian Memburuk

TEHERAN – Gelombang unjuk rasa antipemerintah yang melanda Iran dalam beberapa pekan terakhir terus menelan korban jiwa. Jumlah korban tewas dilaporkan meningkat secara signifikan, menandai salah satu episode paling berdarah dalam sejarah protes publik di negara tersebut sejak Revolusi Islam 1979. Aksi massa yang awalnya dipicu oleh keresahan ekonomi kini berkembang menjadi krisis nasional yang mengguncang stabilitas politik dan sosial Iran.

Unjuk rasa bermula pada akhir Desember di kawasan Grand Bazaar, Teheran. Kala itu, para pedagang dan pemilik toko menyuarakan protes terhadap memburuknya kondisi ekonomi nasional. Nilai tukar mata uang Rial yang terus merosot tajam memicu kekhawatiran luas, terutama di kalangan pelaku usaha kecil dan menengah yang terdampak langsung oleh inflasi serta penurunan daya beli masyarakat.

Dalam waktu singkat, protes tersebut meluas ke berbagai kota besar dan kecil. Aksi yang semula bersifat ekonomi berubah menjadi perlawanan terbuka terhadap sistem pemerintahan teokratis yang telah berkuasa selama lebih dari empat dekade. Tuntutan massa pun semakin beragam, mulai dari perbaikan kesejahteraan hingga kritik terhadap kebijakan politik dan keamanan negara.

Seiring meluasnya demonstrasi, eskalasi kekerasan tak terhindarkan. Dalam beberapa hari terakhir, unjuk rasa diwarnai bentrokan antara aparat keamanan dan demonstran. Penindakan keras yang dilakukan otoritas memicu jatuhnya korban jiwa dalam jumlah besar. Hingga kini, belum ada data resmi yang dirilis pemerintah Iran mengenai total korban tewas akibat kerusuhan tersebut.

Laporan terbaru menyebutkan sedikitnya 646 orang meninggal dunia dalam rangkaian penindakan terhadap demonstran. Dari jumlah tersebut, ratusan di antaranya merupakan warga sipil yang terlibat langsung dalam aksi protes, sementara sebagian lainnya berasal dari unsur aparat keamanan. Selain korban tewas, lebih dari seribu orang dilaporkan mengalami luka-luka akibat bentrokan, tembakan, maupun kekerasan fisik lainnya.

Tak hanya korban jiwa, gelombang penahanan massal juga terjadi di berbagai wilayah. Ribuan orang disebut telah diamankan aparat keamanan, dengan penangkapan berlangsung di ratusan titik berbeda, mencakup hampir seluruh provinsi di Iran. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran luas mengenai kondisi para tahanan, termasuk akses terhadap bantuan hukum dan perawatan medis.

Upaya pemantauan dari luar negeri menjadi semakin sulit setelah pemerintah Iran memberlakukan pembatasan ketat terhadap akses informasi. Sejak sepekan terakhir, layanan internet dan jaringan telepon dilaporkan terputus di banyak wilayah. Pemadaman komunikasi ini membuat arus informasi keluar dari Iran tersendat dan mempersulit verifikasi independen atas situasi yang terjadi di lapangan.

Di tengah keterbatasan informasi tersebut, beredar sejumlah rekaman video yang memperlihatkan unjuk rasa masih berlangsung hingga awal pekan ini. Seorang pejabat di Teheran bahkan mengakui bahwa demonstrasi belum sepenuhnya berhenti, meskipun aparat keamanan terus disiagakan.

Namun pemerintah Iran menegaskan bahwa kondisi negara berada dalam kendali penuh. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, saat berbicara di hadapan para diplomat asing di Teheran, menyatakan bahwa “situasi telah sepenuhnya terkendali”. Ia menuding pihak asing berada di balik kerusuhan yang terjadi, dengan menyalahkan Amerika Serikat dan Israel tanpa memaparkan bukti konkret.

Pernyataan tersebut kontras dengan kekhawatiran masyarakat internasional dan warga Iran di luar negeri, yang menilai pembatasan informasi justru berpotensi membuka ruang bagi tindakan represif yang lebih luas. Hingga kini, masa depan unjuk rasa dan stabilitas Iran masih diliputi ketidakpastian. []

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *