AS Kecam Peluncuran Rudal Oreshnik Rusia ke Ukraina
JAKARTA – Ketegangan geopolitik antara Rusia dan Ukraina kembali meningkat setelah Moskow meluncurkan rudal balistik jarak menengah Oreshnik yang memiliki kemampuan membawa hulu ledak nuklir. Serangan tersebut memicu kecaman keras dari Amerika Serikat (AS) dan menjadi sorotan serius dalam pertemuan darurat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Serangan Rusia tersebut terjadi pada Jumat (09/01/2026) waktu setempat dan menyasar wilayah Ukraina bagian barat. Meski rudal Oreshnik yang diluncurkan dilaporkan tidak membawa hulu ledak nuklir, Washington menilai penggunaannya tetap menjadi ancaman serius karena berpotensi meningkatkan eskalasi konflik yang sudah berlangsung hampir empat tahun.
Kecaman AS disampaikan secara resmi dalam pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB pada Senin (12/01/2026) waktu setempat. Pemerintah AS menilai peluncuran rudal berkemampuan nuklir, meski dalam konfigurasi konvensional, merupakan tindakan yang tidak dapat dibenarkan dalam upaya penyelesaian konflik secara diplomatik.
“(Ini) merupakan eskalasi berbahaya dan tak dapat dijelaskan dalam perang ini, bahkan ketika Amerika Serikat sedang bekerja sama secara mendesak dengan Kyiv, mitra-mitra lainnya, dan Moskow untuk mengakhiri perang melalui penyelesaian yang dinegosiasikan,” kata Wakil Duta Besar AS untuk PBB, Tammy Bruce.
Bruce juga menyoroti dampak luas dari serangan Rusia yang terus menyasar infrastruktur sipil dan energi Ukraina. Menurutnya, rentetan serangan tersebut memperparah penderitaan warga sipil, terutama di tengah kondisi musim dingin ekstrem.
“Kami mengutuk serangan Rusia yang terus berlanjut dan semakin intensif terhadap fasilitas energi Ukraina dan infrastruktur sipil lainnya,” imbuh Bruce.
Pemerintah Rusia mengklaim bahwa rudal Oreshnik tersebut menghantam sebuah pabrik perbaikan aviasi di wilayah Lviv, Ukraina bagian barat. Moskow menyebut peluncuran rudal itu sebagai respons atas dugaan upaya Ukraina untuk menyerang salah satu kediaman Presiden Rusia Vladimir Putin. Namun, klaim tersebut secara tegas dibantah oleh pemerintah Ukraina.
Di sisi lain, Ukraina mengonfirmasi bahwa wilayah Lviv memang menjadi sasaran serangan rudal Rusia. Meski demikian, pihak Kyiv tidak secara eksplisit menyebut apakah pabrik aviasi yang dimaksud benar-benar terkena dampak langsung.
Reaksi keras juga datang dari Inggris. Pelaksana tugas Duta Besar Inggris untuk PBB, James Kariuki, menilai penggunaan rudal tersebut sebagai tindakan yang sembrono dan berisiko tinggi terhadap stabilitas kawasan.
Dia menyebut serangan itu “ceroboh”. Dia menambahkan bahwa “serangan itu mengancam keamanan regional dan internasional serta membawa risiko eskalasi dan kesalahan perhitungan yang signifikan.”
Selain meluncurkan rudal Oreshnik, Rusia juga dilaporkan menggencarkan serangan udara ke ibu kota Ukraina, Kyiv. Rentetan serangan tersebut menewaskan sedikitnya empat orang dan menyebabkan sekitar separuh bangunan tempat tinggal di kota itu kehilangan akses pemanas, di tengah suhu musim dingin yang berada di bawah titik beku.
Merespons situasi tersebut, Ukraina mengajukan surat resmi kepada Dewan Keamanan PBB yang berisi kecaman keras terhadap tindakan Rusia. Langkah ini mendorong digelarnya pertemuan darurat guna membahas eskalasi konflik.
“Federasi Rusia telah mencapai tingkat kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang mengerikan dengan terornya terhadap warga sipil,” kata duta besar Ukraina Andriy Melnyk dalam surat kepada Dewan Keamanan.
Wali Kota Kyiv, Vitaliy Klitschko, juga mengungkapkan dampak langsung serangan tersebut terhadap warga sipil.
Serangan telah menyebabkan separuh bangunan tempat tinggal di Kyiv tanpa pemanas dalam suhu di bawah nol derajat, kata Klitschko.
Kremlin kemudian mengonfirmasi bahwa peluncuran rudal balistik Oreshnik ini merupakan kali kedua sejak invasi Rusia ke Ukraina dimulai pada Februari 2022.
“Rezim Federasi Rusia secara resmi mengklaim bahwa mereka menggunakan rudal balistik jarak menengah, yang disebut ‘Oreshnik’, terhadap wilayah Lviv,” lanjut surat duta besar Ukraina tersebut.
“Serangan semacam itu merupakan ancaman serius dan belum pernah terjadi sebelumnya terhadap keamanan benua Eropa,” imbuhnya.
Moskow sendiri mengklaim bahwa rudal Oreshnik, yang dapat membawa hulu ledak nuklir maupun konvensional, tidak mungkin dicegat oleh sistem pertahanan udara yang ada saat ini. []
Siti Sholehah.
