Hujan dan Banjir Tambah Derita Warga Gaza

GAZA – Hujan lebat yang mengguyur Jalur Gaza kembali menambah derita warga Palestina yang telah lama hidup dalam kondisi krisis kemanusiaan. Curah hujan tinggi menyebabkan sejumlah rumah warga runtuh dan tenda-tenda pengungsi terendam banjir, memicu korban jiwa dan memperparah situasi darurat di wilayah tersebut.

Berdasarkan keterangan pejabat kesehatan setempat, sedikitnya enam orang dilaporkan meninggal dunia akibat dampak langsung dari cuaca ekstrem tersebut. Insiden ini terjadi di beberapa lokasi berbeda di Jalur Gaza, yang saat ini dihuni jutaan warga dalam kondisi serba terbatas, terutama mereka yang mengungsi akibat konflik berkepanjangan.

Petugas medis menyampaikan bahwa lima korban jiwa ditemukan di wilayah pesisir Kota Gaza. Mereka meninggal dunia setelah rumah-rumah tempat tinggal mereka roboh diterjang hujan lebat. Korban terdiri atas dua perempuan, seorang anak perempuan, serta dua warga lainnya. Runtuhnya bangunan dipicu oleh kondisi struktur rumah yang rapuh dan tidak mampu menahan terpaan hujan deras yang berlangsung selama berjam-jam.

Selain di Kota Gaza, satu korban lainnya merupakan bayi laki-laki berusia satu tahun yang ditemukan meninggal di dalam tenda pengungsian di wilayah Deir Al-Balah, Gaza Tengah. Bayi tersebut dilaporkan meninggal dunia akibat kedinginan ekstrem setelah tenda tempat ia berlindung tergenang air hujan. Kondisi tenda yang tidak layak dan minim perlindungan membuat pengungsi, khususnya anak-anak dan bayi, sangat rentan terhadap perubahan cuaca.

Hingga kini, identitas lengkap keenam korban tewas tersebut belum diumumkan secara resmi oleh otoritas setempat. Petugas kesehatan masih melakukan pendataan serta penanganan terhadap warga yang mengalami luka-luka maupun kehilangan tempat tinggal akibat hujan lebat tersebut.

Hujan deras ini menjadi tantangan tambahan bagi Gaza yang infrastruktur sipilnya telah rusak parah. Banyak rumah warga sebelumnya telah mengalami kerusakan akibat konflik, sehingga tidak memiliki daya tahan terhadap kondisi cuaca ekstrem. Di sisi lain, ribuan pengungsi terpaksa tinggal di tenda darurat dengan perlengkapan yang sangat terbatas, tanpa perlindungan memadai dari hujan maupun suhu dingin.

Organisasi kemanusiaan setempat menyebut bahwa banjir di area pengungsian memperburuk risiko penyakit, kekurangan gizi, serta hipotermia, terutama bagi anak-anak dan lansia. Genangan air juga menghambat akses bantuan kemanusiaan dan layanan kesehatan yang sudah terbatas.

Situasi ini kembali menyoroti krisis kemanusiaan yang dihadapi warga Gaza, di mana bencana alam kecil sekalipun dapat berujung pada korban jiwa akibat keterbatasan fasilitas dan kondisi hidup yang tidak layak. Para tenaga medis dan relawan di lapangan bekerja dengan sumber daya minim untuk memberikan pertolongan darurat kepada para korban terdampak.

Cuaca ekstrem diperkirakan masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan. Otoritas setempat dan lembaga kemanusiaan terus mengimbau warga untuk meningkatkan kewaspadaan, meski pilihan perlindungan yang tersedia sangat terbatas.

Tragedi akibat hujan lebat ini menambah daftar panjang penderitaan warga sipil di Gaza, yang hingga kini masih berjuang bertahan hidup di tengah konflik, kemiskinan, dan kondisi lingkungan yang semakin tidak menentu. []

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *