Insiden Jari Tengah Trump Picu Debat Etika Kepemimpinan
JAKARTA – Sebuah momen tak lazim melibatkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjadi sorotan publik dan memicu perdebatan luas mengenai etika kepemimpinan di ruang publik. Dalam kunjungan kerjanya ke sebuah pabrik otomotif di negara bagian Michigan, Trump terekam kamera mengacungkan jari tengah sebagai respons terhadap teriakan bernada kasar yang diarahkan kepadanya. Rekaman video insiden tersebut dengan cepat menyebar di media sosial dan mendapat perhatian luas dari media internasional.
Peristiwa itu terjadi pada Selasa (13/01/2026) waktu setempat saat Trump mengunjungi fasilitas produksi Ford F-150 di Detroit, Michigan. Dalam rekaman yang beredar, Trump terlihat mengenakan mantel hitam panjang dan berdiri di sebuah jalur setapak yang posisinya lebih tinggi, menghadap ke lantai pabrik tempat para pekerja beraktivitas.
Menurut rekaman video yang beredar, insiden bermula ketika terdengar sejumlah teriakan dari arah lantai pabrik. Trump kemudian terlihat menunjuk ke arah seseorang, mengerutkan kening, dan mengucapkan beberapa kata sebelum akhirnya mengacungkan jari tengah dengan tangan kanannya. Gestur tersebut langsung memicu reaksi publik, mengingat posisi Trump sebagai kepala negara yang tengah melakukan kunjungan resmi.
Media hiburan Amerika Serikat, TMZ, yang pertama kali memperoleh video berdurasi sekitar 30 detik itu, menyebut bahwa seseorang dalam kerumunan pekerja meneriaki Trump dengan sebutan yang bernada tudingan serius.
Video kedua yang beredar kemudian menampilkan sudut pandang lebih dekat dari interaksi tersebut. Dalam laporan TMZ, orang yang berteriak itu disebut meneriakkan frasa “pelindung paedofil” ke arah Trump.
Dalam video yang dirilis TMZ, Trump tampak merespons dengan menunjuk orang tersebut dan mengucapkan “persetan denganmu” sebanyak dua kali.
Menanggapi beredarnya video tersebut, Gedung Putih segera memberikan pembelaan terhadap tindakan Trump. Pihak istana menilai respons Presiden AS itu wajar dalam menghadapi provokasi verbal yang dianggap berlebihan.
“Seseorang yang gila berteriak-teriak dengan kata-kata kasar dalam amarah yang meluap-luap, dan Presiden memberikan respons yang tepat dan tegas,” kata Direktur Komunikasi Gedung Putih, Steven Cheung, dalam pernyataannya.
Laporan terpisah dari media terkemuka The Washington Post, sebagaimana dilansir CNN, mengidentifikasi sosok yang meneriaki Trump sebagai TJ Sabula (40), seorang pekerja di pabrik tersebut. Sabula diketahui telah diskors dari pekerjaannya sementara waktu sambil menunggu hasil penyelidikan internal terkait tindakannya.
Meski demikian, Sabula menyatakan dirinya tidak menyesali perbuatannya. “Setelah menegurnya, saya sama sekali tidak menyesal,” ucapnya kepada The Washington Post.
Insiden ini terjadi di tengah tekanan politik yang sedang dihadapi Trump terkait tuntutan publik agar pemerintahannya merilis dokumen-dokumen yang berkaitan dengan terpidana kejahatan seksual Jeffrey Epstein. Epstein, seorang pemodal ternama AS yang memiliki hubungan pertemanan dengan sejumlah tokoh elite, ditemukan tewas di dalam sel penjara di New York pada 2019 saat menunggu persidangan atas tuduhan perdagangan seks terhadap anak di bawah umur. Meski kematiannya secara resmi dinyatakan sebagai bunuh diri, kasus tersebut terus memicu spekulasi dan teori konspirasi.
Trump sebelumnya telah menyetujui undang-undang yang mengatur pembukaan dokumen kasus Epstein kepada publik. Namun, Departemen Kehakiman AS di bawah pemerintahannya dilaporkan gagal memenuhi tenggat waktu 19 Desember untuk merilis seluruh dokumen terkait, sehingga kembali memicu kritik dan kecurigaan dari berbagai kalangan.
Insiden di Michigan ini pun dinilai sejumlah pihak sebagai refleksi dari ketegangan politik yang masih membayangi kepemimpinan Trump, sekaligus menimbulkan perdebatan tentang batasan sikap seorang presiden dalam menghadapi kritik langsung dari publik. []
Siti Sholehah.
