Tegang dengan Iran, AS Resmikan Pusat Pertahanan Udara di Qatar
JAKARTA – Pemerintah Amerika Serikat mengambil langkah strategis dengan meresmikan pembukaan pusat baru untuk mengoordinasikan pertahanan udara dan pertahanan rudal di Timur Tengah. Fasilitas tersebut berlokasi di Pangkalan Udara Al-Udeid, Qatar, dan diumumkan di tengah meningkatnya tensi regional, terutama setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman intervensi militer terhadap Iran yang sedang dilanda gelombang protes besar-besaran.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Selasa (13/01/2026) waktu setempat, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyebutkan bahwa pusat baru tersebut melibatkan partisipasi aktif dari 17 negara yang beroperasi di fasilitas militer di Qatar. Pusat tersebut dinamakan Pertahanan Udara Timur Tengah – Sel Operasi Pertahanan Gabungan atau Middle East Air Defense–Combined Defense Operations Center (MEAD-CDOC).
Fasilitas MEAD-CDOC ditempatkan di dalam Pusat Operasi Udara Gabungan (Combined Air Operations Center/CAOC), yang selama ini menjadi pusat kendali utama operasi udara AS di kawasan Timur Tengah. Keberadaan sel operasi baru ini diharapkan dapat meningkatkan koordinasi lintas negara dalam menghadapi ancaman udara dan rudal yang semakin kompleks.
“Ini adalah langkah maju yang signifikan dalam memperkuat kerja sama pertahanan regional,” kata Laksamana Brad Cooper, komandan CENTCOM, dilansir Al Arabiya, Rabu (14/01/2026).
Menurut Cooper, pembentukan sel operasi gabungan ini tidak hanya bersifat simbolik, tetapi juga dirancang untuk meningkatkan efektivitas pertahanan kolektif kawasan. “Sel ini akan meningkatkan bagaimana pasukan regional berkoordinasi dan berbagi tanggung jawab pertahanan udara dan rudal di seluruh Timur Tengah,” tambahnya.
CENTCOM menjelaskan bahwa Staf Angkatan Udara Pusat AS (AFCENT) akan berperan aktif dalam mengoperasikan MEAD-CDOC. AFCENT akan bekerja sama dengan mitra-mitra regional untuk merencanakan latihan multinasional, melaksanakan simulasi pertahanan, serta merespons berbagai skenario darurat yang berpotensi mengancam stabilitas kawasan.
Langkah AS ini muncul di tengah hubungan yang semakin tegang dengan Iran. Sebelumnya, pemerintah Iran menuding Washington berupaya menciptakan dalih untuk melakukan intervensi militer. Tuduhan itu mencuat setelah Presiden Trump mengancam akan mengambil “tindakan keras” terhadap Teheran, menyusul laporan penindakan brutal terhadap aksi protes massal di dalam negeri Iran.
“Fantasi dan kebijakan AS terhadap Iran berakar pada perubahan rezim, dengan sanksi, ancaman, kerusuhan yang direkayasa, dan kekacauan sebagai modus operandi untuk menciptakan dalih bagi intervensi militer,” demikian pernyataan misi Iran di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang diunggah melalui media sosial X. Iran juga menegaskan bahwa “strategi” Washington tersebut akan “gagal lagi.”
Konteks geopolitik kawasan semakin rumit mengingat Qatar merupakan satu-satunya negara di wilayah tersebut yang pernah menjadi sasaran serangan baik dari Israel maupun Iran dalam dinamika konflik regional sebelumnya. Posisi Qatar sebagai tuan rumah pangkalan militer AS terbesar di Timur Tengah menjadikan negara tersebut titik strategis dalam arsitektur keamanan kawasan.
Pembukaan MEAD-CDOC ini juga melanjutkan upaya AS dalam memperkuat jaringan pertahanan udara regional. Tahun lalu, Angkatan Darat AS telah membuka dua pos bilateral pertahanan udara dan rudal bersama Qatar dan Bahrain. Langkah tersebut dipandang sebagai bagian dari strategi jangka panjang Washington untuk membangun sistem pertahanan berlapis yang terintegrasi dengan mitra-mitra regionalnya.
Seiring meningkatnya eskalasi politik dan militer di Timur Tengah, pembentukan pusat pertahanan udara gabungan ini mencerminkan upaya AS untuk memperkokoh aliansi keamanan, sekaligus mengirim sinyal tegas mengenai komitmennya dalam menjaga keseimbangan kekuatan dan stabilitas regional di tengah ancaman yang terus berkembang. []
Siti Sholehah.
