Iran Tegaskan Serangan ke Khamenei Dianggap Deklarasi Perang

JAKARTA – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan peringatan keras terkait keselamatan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Peringatan tersebut muncul di tengah memanasnya dinamika politik internasional menyusul pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyinggung kemungkinan perubahan kepemimpinan di Iran.

Pezeshkian menegaskan bahwa setiap tindakan yang mengarah pada serangan terhadap Ayatollah Ali Khamenei akan dipandang sebagai ancaman serius terhadap kedaulatan Iran dan dapat memicu konflik terbuka berskala besar. Menurutnya, posisi pemimpin tertinggi bukan sekadar simbol kekuasaan, melainkan representasi langsung dari stabilitas negara dan kehormatan bangsa Iran.

“Serangan terhadap pemimpin besar negara kita sama saja dengan perang skala penuh dengan bangsa Iran,” kata Pezeshkian dalam sebuah unggahan di X.

Pernyataan tersebut mencerminkan sikap tegas pemerintah Iran dalam merespons tekanan eksternal, sekaligus menjadi sinyal bahwa Teheran tidak akan mentoleransi bentuk ancaman apa pun terhadap struktur kepemimpinan tertinggi negara. Pernyataan Pezeshkian juga dipandang sebagai upaya mempertegas garis merah Iran di tengah meningkatnya ketegangan regional dan global.

Situasi ini tidak terlepas dari rangkaian unjuk rasa besar-besaran yang sebelumnya mengguncang Iran selama beberapa pekan. Demonstrasi yang awalnya bersifat domestik tersebut berkembang menjadi krisis keamanan serius dan berujung pada bentrokan berdarah. Dalam konteks itu, Ayatollah Ali Khamenei menyampaikan tudingan keras terhadap pihak-pihak asing yang dinilainya terlibat dalam kekacauan tersebut.

“Mereka yang terkait dengan Israel dan AS menyebabkan kerusakan besar dan membunuh beberapa ribu orang selama protes yang mengguncang Iran selama lebih dari dua minggu,” kata Khamenei.

Menurut Khamenei, skala kerusuhan yang terjadi tidak dapat dilepaskan dari campur tangan luar yang bertujuan melemahkan Iran dari dalam. Ia menilai bahwa aksi-aksi tersebut bukan sekadar bentuk protes spontan, melainkan bagian dari skenario politik yang lebih besar untuk menciptakan instabilitas nasional.

Lebih lanjut, Khamenei menuding adanya keterlibatan langsung dua negara tersebut dalam kekerasan yang terjadi selama gelombang demonstrasi. Ia juga melontarkan kritik tajam terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan menyebutnya sebagai pihak yang memiliki tanggung jawab moral atas eskalasi konflik.

“Pemberontakan anti-Iran terbaru berbeda karena presiden AS secara pribadi terlibat,” ujarnya.

Pernyataan itu memperkuat narasi pemerintah Iran bahwa ketegangan saat ini bukan sekadar persoalan dalam negeri, melainkan bagian dari konfrontasi geopolitik yang lebih luas. Pemerintah Iran menilai bahwa tekanan politik, sanksi ekonomi, serta pernyataan terbuka dari pejabat tinggi Amerika Serikat telah memperburuk situasi dan mempersempit ruang dialog.

Di tengah meningkatnya tensi, pernyataan Presiden Pezeshkian dinilai sebagai pesan diplomatik sekaligus peringatan strategis kepada komunitas internasional. Iran menegaskan bahwa stabilitas kepemimpinan tertinggi merupakan isu sensitif yang tidak dapat dinegosiasikan.

Pengamat menilai, eskalasi pernyataan dari kedua belah pihak berpotensi memperlebar jurang konflik jika tidak diimbangi dengan upaya deeskalasi. Hingga kini, belum ada indikasi meredanya ketegangan, sementara dinamika politik di kawasan Timur Tengah terus berada dalam sorotan dunia. []

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *