Puluhan Ribu Warga Mengungsi Akibat Kebakaran di Chili

JAKARTA – Kebakaran hutan berskala besar kembali melanda wilayah selatan Chili dan menimbulkan dampak kemanusiaan yang serius. Sedikitnya 15 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara lebih dari 50.000 warga terpaksa meninggalkan rumah mereka demi menyelamatkan diri dari kobaran api yang terus meluas. Peristiwa ini menambah daftar panjang bencana kebakaran hutan yang kerap terjadi di negara tersebut dalam beberapa tahun terakhir.

Wilayah yang paling terdampak berada di Provinsi Nuble dan Biobio, yang terletak sekitar 500 kilometer di selatan ibu kota Santiago. Di kawasan ini, api menyebar dengan cepat akibat kombinasi cuaca panas ekstrem dan angin kencang yang memperparah situasi di tengah musim panas belahan bumi selatan. Kondisi tersebut membuat upaya pemadaman menjadi sangat sulit dan berisiko tinggi bagi petugas di lapangan.

Pemerintah Chili merespons situasi darurat ini dengan menetapkan status keadaan darurat di wilayah terdampak. Presiden Gabriel Boric mengambil langkah tersebut setelah laporan menunjukkan bahwa puluhan titik api muncul hampir bersamaan di berbagai daerah. Langkah darurat itu memungkinkan pengerahan sumber daya nasional secara maksimal, termasuk pelibatan angkatan bersenjata untuk membantu proses evakuasi dan pengamanan wilayah.

“Semua sumber daya tersedia,” tulis Boric.

Keputusan tersebut menegaskan keseriusan pemerintah dalam menghadapi bencana yang berpotensi meluas dan menimbulkan korban lebih besar. Keterlibatan militer dinilai penting, terutama untuk menjangkau wilayah-wilayah yang sulit diakses dan membantu warga yang terisolasi akibat kebakaran.

Situasi di lapangan digambarkan sebagai kondisi yang sangat kompleks dan menantang. Menteri Dalam Negeri Alvaro Elizalde menyatakan bahwa pemerintah menghadapi tekanan besar dalam menangani kebakaran yang terjadi secara bersamaan di banyak lokasi.

“Kita menghadapi situasi yang rumit,” tambah Menteri Dalam Negeri Alvaro Elizalde.

Evakuasi besar-besaran dilakukan untuk melindungi warga sipil. Direktur Layanan Nasional untuk Pencegahan dan Penanggulangan Bencana, Alicia Cebrian, menjelaskan bahwa sebagian besar proses evakuasi dilakukan di kota-kota pesisir dan permukiman padat penduduk.

Alicia Cebrian, direktur Layanan Nasional untuk Pencegahan dan Penanggulangan Bencana, mengatakan sebagian besar evakuasi dilakukan di kota-kota Biobio, Penco dan Lirquen, yang memiliki populasi gabungan sekitar 60.000 jiwa.

Rekaman dari media lokal memperlihatkan dampak kehancuran yang ditimbulkan oleh kebakaran. Api terlihat melahap kawasan permukiman, sementara sejumlah kendaraan tampak hangus di sepanjang jalan. Banyak warga kehilangan tempat tinggal dan harta benda, memaksa mereka bergantung pada bantuan darurat dari pemerintah dan organisasi kemanusiaan.

Kebakaran hutan telah menjadi ancaman berulang bagi wilayah selatan-tengah Chili. Dalam beberapa tahun terakhir, perubahan iklim dan cuaca ekstrem disebut sebagai faktor yang memperburuk intensitas serta frekuensi kebakaran. Tragedi serupa juga terjadi pada Februari 2024, ketika kebakaran di sekitar Vina del Mar menyebabkan ratusan korban jiwa dan berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat.

Pemerintah kini terus memantau perkembangan situasi dan berupaya mencegah munculnya titik api baru. Fokus utama diarahkan pada penyelamatan warga, pemadaman api, serta pemulihan wilayah terdampak agar aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan secara bertahap. []

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *