Menlu Iran: Kami Akan Membalas dengan Semua Kekuatan
JAKARTA – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyampaikan pernyataan keras yang dinilai sebagai ancaman paling terbuka terhadap Washington dalam beberapa waktu terakhir. Pernyataan tersebut muncul di tengah pergerakan kekuatan militer Amerika Serikat ke kawasan Timur Tengah, yang memicu kekhawatiran akan potensi eskalasi konflik berskala luas.
Araghchi menegaskan bahwa Iran tidak akan tinggal diam apabila kembali menjadi sasaran serangan militer. Ia menyampaikan peringatan tersebut pada Rabu (21/01/2026) dalam sebuah artikel opini yang dimuat media ternama Amerika Serikat, The Wall Street Journal. Dalam tulisannya, ia menekankan bahwa Teheran telah menunjukkan sikap menahan diri pada konflik sebelumnya, namun kesabaran tersebut memiliki batas.
“Tidak seperti pengendalian diri yang ditunjukkan Iran pada Juni 2025, angkatan bersenjata kami yang kuat, tidak ragu untuk membalas dengan semua yang kami miliki jika kami diserang lagi,” tulis Araghchi, merujuk pada perang selama 12 hari yang dilancarkan Israel terhadap Iran pada Juni tahun lalu.
Ia menegaskan bahwa pernyataannya bukanlah ancaman kosong, melainkan gambaran realistis dari situasi yang dapat terjadi apabila ketegangan terus meningkat.
“Ini bukan ancaman, tetapi kenyataan yang menurut saya perlu saya sampaikan secara eksplisit, karena sebagai seorang diplomat dan veteran, saya membenci perang,” cetusnya, dilansir kantor berita The Associated Press dan Al Arabiya, Rabu (21/01/2026).
Lebih lanjut, Araghchi memperingatkan bahwa konflik terbuka antara Iran dan Amerika Serikat tidak akan berlangsung singkat maupun terbatas secara geografis. Ia menilai adanya narasi keliru yang mencoba menggambarkan potensi perang dapat diselesaikan dalam waktu singkat.
“Konfrontasi habis-habisan pasti akan sangat ganas dan berlangsung jauh lebih lama daripada batas waktu khayalan yang coba disebarkan Israel dan proksinya ke Gedung Putih. Itu pasti akan melanda wilayah yang lebih luas dan berdampak pada orang-orang biasa di seluruh dunia.”
Pernyataan tersebut disampaikan seiring meningkatnya aktivitas militer Amerika Serikat. Kapal induk USS Abraham Lincoln dilaporkan bergerak ke arah barat menuju Timur Tengah setelah sebelumnya berada di kawasan Laut China Selatan. Berdasarkan data pelacakan kapal, kapal induk tersebut telah melewati Selat Malaka pada Selasa (20/01/2026), jalur strategis yang menghubungkan Laut China Selatan dan Samudra Hindia.
Seorang pejabat Angkatan Laut AS, yang berbicara dengan syarat anonim, menyebutkan bahwa USS Abraham Lincoln dikawal oleh tiga kapal perusak dan seluruh armada tersebut sedang bergerak menuju kawasan barat. Pergerakan ini memperkuat spekulasi mengenai kesiapan militer Washington dalam merespons dinamika keamanan di Timur Tengah.
Di sisi lain, sejumlah negara di kawasan Timur Tengah, terutama negara-negara Teluk Arab, dilaporkan telah melakukan pendekatan diplomatik kepada Presiden AS Donald Trump. Para diplomat negara Teluk disebut melobi agar Washington tidak mengambil langkah militer terhadap Iran, mengingat potensi dampak regional dan global yang sangat besar.
Pekan lalu, Iran sempat menutup wilayah udaranya, yang dipandang sebagai langkah antisipatif terhadap kemungkinan serangan. Langkah tersebut semakin menegaskan bahwa Teheran tengah berada dalam kewaspadaan tinggi di tengah meningkatnya tekanan geopolitik.
Situasi ini menambah daftar panjang ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, yang dalam beberapa tahun terakhir kerap diwarnai ancaman, sanksi, serta manuver militer. Para pengamat internasional menilai, pernyataan keras dari Teheran dan pergerakan militer Washington dapat menjadi titik krusial yang menentukan arah stabilitas kawasan Timur Tengah ke depan. []
Siti Sholehah.
