Keripik Pisang Muara Jawa, Rasa Tradisional dengan Sentuhan Profesional
KUTAI KARTANEGARA – Di tengah ketatnya persaingan usaha kuliner lokal, sebuah produsen keripik pisang rumahan di Muara Jawa justru menunjukkan perkembangan mencolok. Banana’s Ma’dzill, usaha milik Muryani, warga Muara Jawa Pesisir, Handil 4, kini berhasil menembus galeri oleh-oleh di Samarinda dan Balikpapan sebuah capaian yang membuktikan bahwa produk lokal dapat bersaing di tengah dominasi merek modern.
Usaha ini bermula pada 2018, saat Muryani memiliki panen pisang melimpah dari kebun keluarganya. Tidak ingin hasil panen terbuang, ia mulai mengolahnya menjadi keripik pisang untuk konsumsi keluarga. Namun, setelah kerabat dan teman memuji kerenyahan dan rasanya, mereka menyarankan agar produk tersebut dipasarkan lebih luas.
Pemasaran sederhana lewat story WhatsApp menjadi langkah awal yang tak disangka memicu lonjakan pesanan.
“Awalnya hanya dari dapur rumah. Lalu, karena orderan makin banyak, teras rumah kami jadikan tempat produksi untuk mengupas dan menggoreng,” ujar Muryani, Sabtu (24/01/2026).
Seiring meningkatnya permintaan, pasokan pisang dari kebun sendiri tidak lagi cukup. Muryani kini membeli bahan baku dari petani hingga pengepul yang memasok pisang dari Sangkulirang dan Loaduri. Ia memilih pisang mentah untuk menjaga tekstur renyah. Harga bahan baku mencapai Rp95.000 per kilogram, sementara produk dijual Rp13.000 per pouch kemasan biasa dan Rp15.000 untuk kemasan full print.
Meski hanya menggunakan perasa dan pengawet alami demi kualitas, hal ini membuat produk memiliki masa simpan terbatas, sekitar satu bulan untuk kemasan biasa, dan enam bulan untuk kemasan full print.
“Kami mempertahankan bahan alami karena itu yang membuat rasa tetap khas. Keripik kami renyah tanpa meninggalkan minyak dan tidak membuat enek,” tegas Muryani.
Pada 2019, Banana’s Ma’dzill bergabung dalam UMKM Sinergi Muara Jawa binaan PT Pertamina Hulu Mahakam. Program ini membantu peningkatan standar produksi dan membuka akses pasar lebih luas. Hasilnya, produk mereka kini tersedia di dua gerai oleh-oleh besar di Samarinda dan Balikpapan.
Namun, perjalanan usaha ini tidak tanpa hambatan. Muryani mengakui, hingga kini produknya belum bisa masuk minimarket besar seperti Indomaret dan Alfamart karena proses administrasi dan persyaratan yang rumit.
“Itu tantangan terbesar kami. Jadi untuk pemasaran, kami lebih banyak mengandalkan toko-toko kecil dan gerai oleh-oleh,” jelasnya.
Puncak keberhasilan terjadi pada 2024, ketika ia menerima pesanan hingga 5.000 pouch dari Bappeda Kukar dan Samarinda untuk kebutuhan hampers. Pesanan besar itu menjadi momentum penting yang mendorong peningkatan kapasitas produksi dan memperkuat merek.
Menurut Muryani, konsistensi rasa, kontrol ketat bahan baku, serta inovasi kemasan menjadi kunci bertahan di tengah persaingan.
“Kami ingin produk dari Muara Jawa tetap punya tempat di hati masyarakat. Keripik ini bukan hanya makanan, tapi wujud kreativitas dari rumah kecil kami,” ujarnya.
Dengan permintaan yang terus tumbuh, Banana’s Ma’dzill menjadi contoh bahwa usaha rumahan dapat berkembang pesat ketika dikelola dengan komitmen kualitas, ketekunan, serta dukungan program pendampingan. Keberhasilan ini sekaligus menjadi inspirasi bagi UMKM lain, bahwa tantangan administrasi, keterbatasan pemasaran, dan persaingan modern bukan penghalang jika dihadapi dengan strategi yang tepat. []
Penulis: Anggi Triomi | Penyunting: Aulia Setyaningrum
