Komentar Trump Soal Afghanistan Dinilai Hina Pengorbanan Tentara Inggris
JAKARTA – Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai keterlibatan pasukan NATO dalam perang Afghanistan menuai kecaman keras dari Pemerintah Inggris. Komentar Trump dinilai tidak hanya keliru secara fakta, tetapi juga melukai perasaan keluarga ratusan prajurit Inggris yang gugur selama misi militer di negara tersebut.
Kontroversi ini mencuat setelah Trump, dalam wawancara dengan Fox News yang ditayangkan pada Kamis lalu, menyatakan bahwa pasukan NATO tidak berada di garis depan pertempuran di Afghanistan. Pernyataan tersebut langsung memicu reaksi keras di Inggris, mengingat peran aktif militer Inggris dalam konflik yang berlangsung selama dua dekade pascaserangan teror 11 September 2001 di Amerika Serikat.
“Mereka akan mengatakan mereka mengirim beberapa pasukan ke Afghanistan,” kata Trump kepada media AS tersebut, dilansir kantor berita AFP, Sabtu (24/01/2026).
“Dan memang benar, mereka agak di belakang, sedikit di luar garis depan,” tambahnya.
Trump juga kembali mengulang klaim lamanya bahwa NATO tidak akan membantu Amerika Serikat apabila diminta. Pernyataan ini bertentangan dengan fakta sejarah, di mana NATO untuk pertama dan satu-satunya kalinya mengaktifkan Pasal 5—klausul pertahanan kolektif—justru untuk membantu AS setelah tragedi 11 September 2001.
Sebagai sekutu utama Washington, Inggris mengirimkan ribuan personel militernya ke Afghanistan sejak 2001. Berdasarkan data resmi pemerintah Inggris, sebanyak 457 tentara Inggris tewas selama konflik tersebut, dengan 405 di antaranya gugur akibat aksi militer musuh. Korban jiwa tersebut menjadi bukti nyata bahwa pasukan Inggris terlibat langsung dalam pertempuran, bukan sekadar berada di wilayah belakang sebagaimana diklaim Trump.
Menteri Kesehatan Inggris Stephen Kinnock menyebut pernyataan Trump sebagai sesuatu yang “jelas salah” dan “sangat mengecewakan.” Ia menyatakan keyakinannya bahwa Perdana Menteri Keir Starmer akan menyampaikan keberatan Inggris secara langsung kepada Trump.
“Saya pikir dia pasti akan mengangkat masalah ini dengan presiden… Dia sangat bangga dengan angkatan bersenjata kita, dan dia akan menjelaskan hal itu kepada presiden,” kata Kinnock kepada Radio LBC.
Kinnock juga menegaskan bahwa kontribusi militer Inggris dan negara-negara Eropa lainnya merupakan bentuk solidaritas nyata terhadap Amerika Serikat.
“Apa yang dia katakan tidak masuk akal, karena faktanya, satu-satunya saat pasal 5 diaktifkan adalah untuk membantu Amerika Serikat setelah 11 September,” katanya.
“Dan banyak sekali tentara Inggris dan banyak tentara dari sekutu NATO Eropa lainnya yang mengorbankan nyawa mereka untuk mendukung misi Amerika, misi yang dipimpin Amerika di tempat-tempat seperti Afghanistan dan Irak,” tambahnya.
Kritik serupa disampaikan Ketua Komite Urusan Luar Negeri Parlemen Inggris, Emily Thornberry. Ia menilai pernyataan Trump bukan sekadar kesalahan diplomatik, melainkan bentuk penghinaan terhadap pengorbanan para prajurit Inggris.
“Ini penghinaan mutlak. Ini penghinaan terhadap 457 keluarga yang kehilangan seseorang di Afghanistan. Beraninya dia mengatakan kita tidak berada di garis depan,” kata politisi Partai Buruh itu dalam program Question Time BBC pada Kamis malam.
Selain Inggris, sejumlah negara NATO lain seperti Kanada, Prancis, Jerman, Italia, dan Denmark juga kehilangan prajurit selama misi Afghanistan. Amerika Serikat sendiri dilaporkan kehilangan lebih dari 2.400 tentara dalam konflik tersebut.
Kontroversi ini kembali menyoroti sensitivitas hubungan transatlantik, khususnya terkait sejarah pengorbanan militer dan komitmen kolektif NATO. Di Inggris, pernyataan Trump dipandang tidak hanya meremehkan fakta sejarah, tetapi juga berpotensi mengganggu hubungan diplomatik yang telah lama terjalin antara London dan Washington.[]
Siti Sholehah.
