Cuaca Ekstrem Bekukan AS, Ratusan Ribu Tanpa Listrik
NEW YORK CITY — Gelombang badai musim dingin ekstrem yang melanda Amerika Serikat menyebabkan dampak luas terhadap kehidupan warga, mulai dari pemadaman listrik massal, lumpuhnya transportasi, hingga jatuhnya korban jiwa. Cuaca ekstrem ini memaksa jutaan warga bertahan di tengah suhu di bawah titik beku, sementara salju dan es menutup sebagian besar wilayah negara tersebut.
Badai musim dingin yang dilaporkan Associated Press pada Selasa (27/01/2026) terus memperburuk kondisi di wilayah timur laut Amerika Serikat sejak Senin (26/01/2026). Tidak hanya itu, wilayah selatan AS juga terdampak lapisan es tebal yang menyulitkan mobilitas warga dan aktivitas darurat. Fenomena ini disebut sebagai salah satu badai musim dingin paling luas dalam beberapa tahun terakhir.
Tumpukan salju dengan ketebalan lebih dari 30 sentimeter membentang sepanjang kurang lebih 2.100 kilometer, mulai dari negara bagian Arkansas hingga kawasan New England. Kondisi tersebut mengakibatkan banyak ruas jalan tidak dapat dilalui, memicu kecelakaan lalu lintas, serta memaksa otoritas setempat menutup sekolah dan membatalkan ribuan jadwal penerbangan.
Badan Layanan Cuaca Nasional Amerika Serikat (National Weather Service/NWS) melaporkan situasi yang lebih ekstrem terjadi di wilayah utara Pittsburgh, Pennsylvania. Beberapa daerah dilaporkan tertutup salju hingga setebal 50 sentimeter, disertai hembusan angin dingin dengan suhu mencapai minus 31 derajat Celsius pada Senin malam hingga Selasa dini hari waktu setempat. Kondisi ini meningkatkan risiko hipotermia dan membahayakan keselamatan warga yang terjebak di luar ruangan.
Cuaca ekstrem tersebut diperkirakan belum akan segera mereda. NWS menyebut masuknya massa udara Arktik baru berpotensi mempertahankan suhu beku di wilayah yang sudah tertutup salju dan es. Situasi ini membuat aparat darurat terus bersiaga menghadapi kemungkinan bertambahnya korban dan gangguan infrastruktur.
Dampak badai musim dingin ini telah merenggut sedikitnya 30 nyawa di berbagai negara bagian. Korban jiwa tercatat berasal dari berbagai insiden, mulai dari kecelakaan lalu lintas hingga paparan suhu ekstrem. Dua korban dilaporkan meninggal setelah tertabrak kendaraan pembersih salju masing-masing di Norwood, Massachusetts, dan Dayton, Ohio.
Empat kematian lainnya terjadi di Arkansas dan Texas, termasuk kecelakaan fatal yang melibatkan seluncur salju dan menewaskan seorang remaja di masing-masing negara bagian. Sementara itu, di Emporia, Kansas, aparat kepolisian menemukan seorang perempuan berusia 28 tahun yang berprofesi sebagai guru dalam kondisi meninggal dunia dengan tubuh tertimbun salju tebal. Korban diketahui terakhir terlihat meninggalkan sebuah bar tanpa mengenakan mantel dan tidak membawa ponsel.
Di New York City, dampak cuaca ekstrem turut menimbulkan korban jiwa. Kantor Wali Kota Zohran Mamdani melaporkan setidaknya delapan orang ditemukan meninggal dunia di luar ruangan selama periode akhir pekan, antara Sabtu (24/01/2026) hingga Senin (26/01/2026) pagi, saat suhu anjlok drastis. Hingga kini, penyebab kematian para korban tersebut masih dalam proses penyelidikan.
Selain New York, otoritas setempat juga melaporkan empat kematian di Tennessee, masing-masing tiga kematian di Louisiana dan Pennsylvania, dua kematian di Mississippi, serta masing-masing satu kematian di New Jersey dan South Carolina.
Badai musim dingin ini juga memicu krisis kelistrikan berskala besar. Berdasarkan data poweroutage.com, lebih dari 560.000 pelanggan di berbagai wilayah Amerika Serikat mengalami pemadaman listrik, dengan wilayah selatan menjadi yang paling terdampak. Di sektor transportasi udara, lebih dari 11.000 penerbangan dilaporkan mengalami penundaan atau pembatalan pada Senin (26/01/2026).
Otoritas federal dan pemerintah daerah terus mengimbau warga untuk tetap berada di dalam rumah, menghindari perjalanan yang tidak mendesak, serta memperhatikan keselamatan selama cuaca ekstrem masih berlangsung. []
Siti Sholehah.
