Mantan Diplomat Korut Ungkap Kekhawatiran Kim Jong Un

SEOUL – Operasi cepat Amerika Serikat (AS) yang berhasil menggulingkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dari kekuasaan pada awal Januari 2026 dinilai menimbulkan efek psikologis serius bagi kepemimpinan Korea Utara (Korut). Aksi tersebut disebut menjadi gambaran nyata ancaman terburuk yang selama ini ditakuti Pyongyang, khususnya oleh pemimpin tertinggi Korut, Kim Jong Un.

Penilaian itu disampaikan oleh Lee Ik Kyu, mantan diplomat Korut yang membelot ke Korea Selatan (Korsel) dan kini aktif sebagai analis politik. Dalam keterangannya kepada AFP pada Rabu (28/01/2026), Lee menyebut operasi AS di Caracas kemungkinan besar memicu kesadaran baru di lingkaran elite Korut bahwa skenario “pemenggalan kepemimpinan” bukan lagi sekadar ancaman teoretis.

Lee Ik Kyu merupakan mantan utusan diplomatik Korut untuk Kuba dan pernah menjabat sebagai penasihat politik di negara tersebut pada periode 2019 hingga 2023. Berdasarkan pengalamannya di dalam sistem pemerintahan Korut, ia menilai insiden di Venezuela dapat mengguncang keyakinan lama Pyongyang tentang ketahanan rezim mereka.

“Kim pasti merasa bahwa apa yang disebut sebagai operasi ‘pemenggalan’ benar-benar mungkin terjadi,” kata Lee, yang sekarang bekerja untuk lembaga think-tank di Seoul, Korea Selatan.

Menurut Lee, kekhawatiran semacam itu sejalan dengan narasi lama Korut yang menuduh AS terus berupaya menjatuhkan rezim mereka. Selama bertahun-tahun, Pyongyang menjadikan ancaman perubahan rezim sebagai pembenaran utama pengembangan program nuklir dan rudal balistik, yang diklaim sebagai alat pencegah terhadap intervensi militer asing.

Penggulingan Maduro, kata Lee, berpotensi memperkuat paranoia keamanan di tingkat tertinggi pemerintahan Korut. Ia menilai Kim Jong Un akan merespons situasi tersebut dengan memperketat sistem pengamanan pribadi serta menyiapkan langkah-langkah balasan ekstrem jika mendeteksi ancaman serupa.

Lee mengatakan bahwa Kim Jong Un akan “merombak seluruh sistem terkait keamanannya dan terkait tindakan balasan jika terjadi serangan terhadap dirinya”.

Sejak membelot ke Korsel pada November 2023, Lee Ik Kyu yang kini berusia 53 tahun kerap tampil sebagai pengamat vokal mengenai dinamika politik Korut. Ia secara rutin menulis kolom opini di salah satu surat kabar terbesar di Korea Selatan serta telah menerbitkan memoar berbahasa Jepang berjudul “Kim Jong Un yang Saya Saksikan”. Versi bahasa Inggris dari buku tersebut saat ini masih dalam proses penerbitan.

Pengalamannya hidup di Korsel, menurut Lee, turut mengubah pandangannya terhadap sistem pemerintahan. Ia mengaku semakin menghargai stabilitas demokrasi liberal setelah menyaksikan langsung dinamika politik di Seoul dalam beberapa tahun terakhir.

“Korea Selatan bisa tetap berjalan tanpa presiden selama berbulan-bulan setelah pemakzulan. Bahkan tanpa presiden, sistemnya bekerja dengan sangat baik,” sebutnya, merujuk pada pemakzulan Yoon Suk Yeol sebagai Presiden Korsel beberapa waktu lalu.

Kondisi tersebut, lanjut Lee, hampir mustahil terjadi di Korut. Ia menilai negara itu telah membangun kultus kepemimpinan yang begitu absolut sehingga gagasan tentang penggulingan pemimpin tertinggi dianggap sebagai ancaman eksistensial bagi negara.

“Korea Utara telah sepenuhnya mendewakan kepemimpinannya. Mereka tidak dapat memberikan gagasan kepada rakyatnya bahwa apa yang disebut sebagai pemimpin tertinggi mereka benar-benar dapat digulingkan oleh kehendak rakyat,” ucapnya.

Pernyataan Lee memperlihatkan kontras tajam antara sistem politik tertutup Korut dan dinamika pemerintahan demokratis di Korsel, sekaligus menegaskan betapa sensitifnya isu keamanan pribadi Kim Jong Un di tengah perubahan geopolitik global. []

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *