Petugas Evakuasi Puing Tembok yang Runtuh

JAKARTA – Sebuah tembok pembatas yang juga berfungsi sebagai turap saluran air dilaporkan ambruk dan menimbulkan gangguan pada sistem drainase di kawasan permukiman warga. Peristiwa ini langsung ditangani oleh aparat kelurahan bersama petugas penanganan prasarana dan sarana umum (PPSU) serta satuan tugas sumber daya air guna mencegah dampak lanjutan.

Tembok pembatas tersebut diketahui memiliki panjang sekitar 30 meter dan runtuh pada Rabu (28/01/2026). Material tembok yang roboh sebagian menghantam turap di sisi seberangnya dan jatuh ke area lahan kosong di bawahnya. Kondisi ini berpotensi menimbulkan penyumbatan aliran air apabila tidak segera ditangani.

Petugas PPSU yang berada di lokasi menyatakan bahwa langkah awal yang dilakukan adalah membersihkan saluran dari sampah dan puing agar air tetap dapat mengalir dengan lancar.

“Saya melihat tembok pembatas itu sudah roboh. Tahap awal, kita membersihkan sampah dan sebagian puingnya yang menyumbat saluran ini,” ujar petugas PPSU Cakung Timur, Marzuki (40).

Pihak kelurahan setempat mengerahkan tujuh personel PPSU untuk melakukan penanganan awal sambil menunggu penggunaan alat berat. Penanganan lanjutan akan dilakukan oleh pengelola kawasan yang bertanggung jawab atas tembok tersebut karena dibutuhkan peralatan khusus untuk mengangkat material berukuran besar.

“Kita hanya bantu penanganan awal, untuk selanjutnya diserahkan pada Jakarta Garden City (JGC) karena harus menggunakan alat berat,” kata Kepala Seksi Perekonomian dan Pembangunan Kelurahan Cakung Timur Andreas Dwi Mulyanto.

Selain PPSU, proses penanganan juga melibatkan tim dari pengelola kawasan serta Satuan Tugas Sumber Daya Air (SDA) kecamatan. Kolaborasi lintas pihak ini dilakukan untuk memastikan tidak ada sisa material yang menghambat fungsi saluran air.

Kepala Satuan Pelaksana SDA Kecamatan Cakung, Dian Nur Cahyono, menegaskan bahwa pembersihan puing merupakan prioritas utama. Menurutnya, puing berupa batu, tanah, dan beton yang tertimbun di dasar saluran dapat memperlambat aliran air dan meningkatkan risiko genangan, terutama saat curah hujan tinggi.

“Kita kerahkan 12 personel Satgas SDA untuk penanganan, yaitu seluruh puing, baik batu kali, tembok pembatas maupun tanah merah, dibersihkan dari dasar saluran air,” ungkap Dian.

Ia menambahkan, jika penanganan tidak dilakukan secara menyeluruh, genangan air dapat merembet ke kawasan permukiman warga di sekitarnya. Oleh karena itu, pembersihan dilakukan secara bertahap namun menyeluruh, mulai dari pengangkatan puing besar hingga penyisiran material kecil yang berpotensi menyumbat.

Beruntung, tidak ada korban jiwa maupun luka dalam kejadian ini. Area sekitar lokasi juga telah diamankan agar tidak membahayakan warga yang melintas. Aparat setempat mengimbau masyarakat untuk tetap berhati-hati dan menghindari lokasi hingga proses pembersihan selesai sepenuhnya.

Pembersihan puing ditargetkan rampung dalam waktu tiga hari ke depan. Setelah tahap ini selesai, penanganan lanjutan dan perbaikan struktur tembok akan menjadi tanggung jawab pengelola kawasan. Pemerintah setempat berharap proses perbaikan dapat segera dilakukan agar fungsi pembatas dan saluran air kembali optimal serta kejadian serupa tidak terulang. []

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *