Revamping Industri Pupuk Jadi Penopang Swasembada Pangan

JAKARTA – Peresmian proyek revamping pabrik ammonia Kaltim 2 menjadi penanda penting bagi upaya penguatan industri pupuk nasional yang selama ini berperan besar dalam menopang sektor pertanian Indonesia. Proyek tersebut diresmikan oleh Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto, dengan didampingi Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman serta Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, dalam sebuah agenda resmi di kawasan industri PT Pupuk Kalimantan Timur, Kota Bontang, Kalimantan Timur.

Dalam sambutannya, Titiek Soeharto menekankan bahwa keberadaan pabrik ammonia tersebut memiliki makna yang melampaui fungsi industri semata. Menurutnya, pabrik ini merupakan bagian penting dari perjalanan panjang ketahanan pangan nasional, sekaligus simbol kemandirian bangsa dalam memenuhi kebutuhan strategis sektor pertanian.

Titiek juga mengajak hadirin untuk menengok kembali sejarah berdirinya pabrik tersebut. Ia mengingatkan bahwa sekitar 42 tahun lalu, pabrik ammonia Kaltim 2 pertama kali diresmikan oleh Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto. Momen tersebut dinilai sebagai tonggak penting dalam pembangunan industri pupuk nasional yang bertujuan mendukung produktivitas pertanian dalam negeri.

“Pabrik ammonia Kaltim 2 ini bukan sekadar fasilitas industri, ini merupakan bagian dari sejarah ketahanan pangan bangsa, dan selama lebih dari 4 dekade pabrik ini telah menjadi penopang penyedia ammonia sebagai bahan baku strategis pupuk nasional yang menjaga produktivitas pertanian serta kehidupan jutaan petani Indonesia,” kata Titiek dalam sambutannya.

Ia menambahkan, sejak awal kemerdekaan, Indonesia telah menegaskan prinsip untuk berdiri di atas kaki sendiri, termasuk dalam urusan pangan. Pembangunan industri pupuk, menurutnya, merupakan salah satu instrumen strategis negara agar sektor pertanian tidak bergantung pada pasokan dari luar negeri.

Dalam konteks tersebut, proyek revamping pabrik ammonia dinilai sebagai langkah strategis untuk menjawab tantangan zaman. Titiek menegaskan bahwa pembaruan ini bukan sekadar penggantian teknologi lama, melainkan bagian dari transformasi menyeluruh industri pupuk agar mampu beradaptasi dengan tuntutan efisiensi dan keberlanjutan.

“Revamping pabrik ammonia Kaltim ini bukan sekedar pembaruan teknologi, ini adalah keputusan strategis untuk memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus mentransformasi industri pupuk agar lebih efisien, berdaya saing, dan berkelanjutan, melalui pergerakan teknologi yang modern, efisiensi energi dan gas alam dapat ditingkatkan,” ucapnya.

Lebih lanjut, Titiek menyebut langkah ini sejalan dengan agenda nasional untuk mewujudkan swasembada pangan yang berkelanjutan serta memperkuat struktur industri nasional agar lebih tangguh dan ramah lingkungan.

“Momentum ini selaras dengan agenda bangsa yaitu mewujudkan swasembada pangan yang berkelanjutan serta mentransformasi industri nasional agar semakin efisien, tangguh, dan ramah lingkungan. Bagi kami di Komisi IV DPR RI, industri pupuk bukan sekedar urusan bisnis, ini menyangkut petani dan masa depan pangan bangsa,” sambungnya.

Sebagai mitra kerja pemerintah di sektor pertanian, Komisi IV DPR RI menilai revamping pabrik ammonia sebagai investasi jangka panjang bagi kedaulatan pangan dan kemandirian industri strategis nasional. Titiek juga menyampaikan apresiasi kepada PT Pupuk Kalimantan Timur dan PT Pupuk Indonesia atas komitmen dan konsistensinya dalam menjaga keberlangsungan industri pupuk nasional.

“Dengan mengucap bismillahirahmanirrahim, pada hari ini saya resmikan revamping pabrik ammonia Kaltim 2, semoga fasilitas ini semakin perkuat kemandirian industri pupuk nasional, menopang produktivitas pertanian, serta memperkokoh ketahanan pangan bangsa Indonesia,” pungkasnya. []

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *