Iran Tambah Ribuan Drone, Siap Hadapi Ancaman

JAKARTA – Militer Iran kembali menunjukkan peningkatan signifikan pada kapasitas pertahanannya dengan menambahkan 1.000 unit drone baru ke dalam struktur kekuatan tempurnya. Penambahan ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang Iran dalam memperkuat kesiapan menghadapi potensi ancaman militer eksternal, terutama di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat.

Panglima militer Iran, Amir Hatami, menegaskan bahwa langkah tersebut bukan sekadar modernisasi alutsista, melainkan bagian dari upaya menjaga keunggulan strategis negara. Ia menyatakan bahwa militer Iran siap memberikan respons cepat dan menghancurkan apabila terjadi serangan atau invasi dari pihak mana pun.

“Sesuai dengan ancaman yang kita hadapi, mempertahankan dan meningkatkan keunggulan strategis untuk pertempuran cepat dan respons yang menghancurkan terhadap invasi apa pun… selalu ada dalam agenda militer,” kata Amir Hatami.

Pernyataan tersebut muncul bersamaan dengan pengerahan besar-besaran aset militer Amerika Serikat ke kawasan sekitar Iran. Dalam beberapa hari terakhir, Washington mengumumkan pergerakan tambahan armada laut dan udara sebagai bagian dari langkah penegasan kekuatan militernya. Situasi ini dinilai memperbesar risiko eskalasi konflik terbuka antara kedua negara.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya mengungkapkan bahwa armada militer tambahan sedang bergerak menuju wilayah sekitar Iran. Pernyataan itu disampaikan di tengah laporan masuknya kapal induk dan sejumlah kapal perang ke kawasan yang berada dalam pengawasan Pusat Komando Amerika Serikat.

“Ada armada indah lainnya yang sedang berlayar dengan indah menuju Iran saat ini,” kata Trump.

Meski menunjukkan sikap keras melalui pengerahan militer, Trump juga menyampaikan harapannya agar Iran dapat memilih jalur diplomasi dan mencapai kesepakatan dengan Washington.

“Saya harap mereka mencapai kesepakatan,” ujarnya.

Sikap ganda tersebut mencerminkan dinamika kebijakan Amerika Serikat yang berada di antara tekanan militer dan peluang diplomasi. Sejak terjadinya penindakan keras terhadap demonstrasi anti-pemerintah di Iran pada awal bulan ini, termasuk pembatasan akses internet secara luas, pemerintah AS memberikan sinyal yang berubah-ubah terkait kemungkinan intervensi langsung.

Di sisi lain, sebagian kelompok oposisi Iran memandang tekanan militer eksternal sebagai satu-satunya jalan untuk mendorong perubahan politik di negara tersebut. Namun, pendekatan ini juga memicu kekhawatiran akan dampak kemanusiaan dan instabilitas kawasan yang lebih luas.

Dalam beberapa kesempatan, Trump disebut hampir memerintahkan serangan terhadap target rezim Iran menyusul laporan jatuhnya ribuan korban jiwa dalam aksi demonstrasi. Keputusan tersebut pada akhirnya ditunda, meskipun penguatan kehadiran militer AS di kawasan tetap dilakukan sebagai bentuk tekanan strategis.

Militer Amerika Serikat telah mengonfirmasi bahwa kapal induk USS Abraham Lincoln, yang didampingi kapal perang dengan persenjataan rudal serta jet tempur canggih, telah memasuki wilayah operasi strategis. Pengerahan tersebut memperlihatkan skala kekuatan yang dinilai signifikan dan menjadi sinyal keras kepada Teheran.

Menanggapi situasi ini, Iran menegaskan tidak akan gentar. Penambahan ribuan drone ke dalam resimen tempur dipandang sebagai bagian dari doktrin pertahanan asimetris Iran, yang mengandalkan teknologi tanpa awak untuk memperluas jangkauan serangan, pengintaian, serta kemampuan pertahanan udara.

Ketegangan yang terus meningkat ini memperlihatkan betapa rapuhnya stabilitas kawasan, dengan potensi konflik terbuka yang dapat berdampak luas. Baik Iran maupun Amerika Serikat kini berada dalam posisi saling menguji kekuatan, di tengah harapan komunitas internasional agar jalur diplomasi tetap menjadi pilihan utama.[]

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *