Rusia Ingatkan Bahaya Kekerasan terhadap Iran
JAKARTA – Pemerintah Rusia menegaskan bahwa jalur dialog antara Iran dan Amerika Serikat masih terbuka dan belum sepenuhnya tertutup. Moskow menilai bahwa pendekatan diplomasi tetap menjadi pilihan paling rasional untuk mencegah eskalasi konflik yang berpotensi mengguncang stabilitas keamanan kawasan Timur Tengah secara luas.
Peringatan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran, menyusul desakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump agar Iran segera duduk di meja perundingan terkait isu senjata nuklir. Trump juga mengisyaratkan kemungkinan penggunaan kekuatan militer apabila Iran menolak melakukan negosiasi.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menekankan bahwa penggunaan kekerasan tidak akan menyelesaikan persoalan, melainkan justru memperburuk situasi regional yang sudah rapuh. Ia menilai setiap tindakan militer hanya akan membuka babak baru ketidakstabilan dengan dampak yang sulit diprediksi.
“Kami terus menyerukan kepada semua pihak untuk menahan diri dan menolak penggunaan kekerasan apa pun untuk menyelesaikan masalah. Jelas, potensi negosiasi masih jauh dari berakhir … Kita harus fokus terutama pada mekanisme negosiasi,” kata Peskov.
Ia menambahkan bahwa konflik bersenjata terhadap Iran akan membawa konsekuensi yang sangat serius, tidak hanya bagi negara-negara yang terlibat secara langsung, tetapi juga bagi sistem keamanan kawasan secara keseluruhan.
“Tindakan kekerasan apa pun hanya akan menciptakan kekacauan di kawasan ini dan menyebabkan konsekuensi yang sangat berbahaya dalam hal destabilisasi sistem keamanan di seluruh kawasan,” imbuhnya.
Sikap Rusia ini sejalan dengan hubungan bilateral yang semakin erat antara Moskow dan Teheran dalam beberapa tahun terakhir. Sejak dimulainya perang di Ukraina, kedua negara memperkuat kerja sama strategis di berbagai bidang, termasuk pertahanan dan politik luar negeri. Pada awal 2025, Rusia dan Iran bahkan menandatangani perjanjian kemitraan strategis jangka panjang selama 20 tahun.
Di sisi lain, Iran menunjukkan kesiapan militernya dengan meningkatkan kapasitas pertahanan. Di tengah ancaman serangan dari Amerika Serikat, militer Iran menambahkan 1.000 unit drone baru ke dalam resimen tempurnya. Langkah ini dipandang sebagai upaya memperkuat daya tangkal sekaligus sinyal bahwa Teheran siap menghadapi segala kemungkinan.
Panglima militer Iran, Amir Hatami, menegaskan bahwa peningkatan kekuatan tersebut merupakan bagian dari strategi pertahanan nasional yang telah lama dirancang untuk menghadapi potensi ancaman eksternal.
“Sesuai dengan ancaman yang kita hadapi, mempertahankan dan meningkatkan keunggulan strategis untuk pertempuran cepat dan respons yang menghancurkan terhadap invasi apa pun… selalu ada dalam agenda militer,” kata Amir Hatami.
Pernyataan itu muncul setelah Amerika Serikat mengerahkan armada militernya ke kawasan sekitar Iran. Trump sebelumnya menyebut bahwa armada tambahan sedang bergerak menuju wilayah tersebut, tak lama setelah pengumuman masuknya kapal induk USS Abraham Lincoln beserta sejumlah aset tempur pendukung.
Meski demikian, Trump juga menyampaikan harapan agar Iran bersedia mencapai kesepakatan dengan Washington, menandakan bahwa opsi diplomasi masih dipertimbangkan di tengah pendekatan tekanan militer.
Ketegangan yang terus meningkat ini menempatkan kawasan pada persimpangan krusial antara konflik terbuka dan diplomasi. Rusia menilai bahwa keputusan yang diambil dalam waktu dekat akan sangat menentukan arah stabilitas kawasan, apakah menuju deeskalasi atau justru memasuki fase kekacauan yang lebih luas. []
Siti Sholehah.
