India Tegaskan Risiko Nipah Sangat Rendah
JAKARTA – Pemerintah India menegaskan bahwa kabar mengenai merebaknya wabah virus Nipah di negara bagian Benggala Barat tidak sesuai dengan fakta di lapangan. Otoritas kesehatan menyatakan hingga akhir Januari hanya terdapat dua kasus terkonfirmasi secara laboratorium, sementara laporan lain yang beredar dinilai bersumber dari informasi awal yang belum tervalidasi.
Klarifikasi tersebut disampaikan di tengah meningkatnya kewaspadaan sejumlah negara Asia yang mulai menerapkan pemeriksaan kesehatan terhadap pelancong asal Benggala Barat. Pemerintah India menilai kebijakan skrining di sejumlah bandara luar negeri merupakan reaksi berlebihan yang tidak sepenuhnya didukung oleh data epidemiologis terkini.
Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga India menjelaskan bahwa laporan awal yang sempat menyebut adanya lima kasus berasal dari pemeriksaan pendahuluan. Setelah dilakukan uji lanjutan, hanya dua kasus yang dinyatakan positif virus Nipah.
Langkah kewaspadaan regional tetap dilakukan. Thailand dan Nepal dalam beberapa hari terakhir mengumumkan pemeriksaan kesehatan terhadap penumpang dari Benggala Barat. Hong Kong juga menyampaikan telah meminta informasi resmi dari otoritas kesehatan India, sembari melakukan pemeriksaan terhadap pelancong dari wilayah tersebut.
Pemerintah India menegaskan bahwa kedua kasus terkonfirmasi terjadi pada Desember lalu dan hingga kini tidak menunjukkan adanya perluasan penularan. Sebanyak 196 orang yang memiliki riwayat kontak erat dengan dua pasien tersebut telah dikarantina. Mereka sebagian besar merupakan tenaga medis dan anggota keluarga, dan seluruhnya berada dalam pemantauan ketat.
Virus Nipah diketahui memiliki masa inkubasi antara empat hingga 21 hari. Dalam konteks ini, otoritas kesehatan India menyatakan proses pelacakan kontak telah dilakukan secara menyeluruh dan tidak ditemukan indikasi penularan lanjutan.
Sejarah wabah virus Nipah di India menunjukkan bahwa penyebarannya cenderung terbatas secara geografis. Kantor berita ANI melaporkan bahwa negara bagian Kerala di India selatan telah mengalami sembilan wabah virus Nipah sejak 2018 hingga 2025. Pada 2018, wabah tersebut menewaskan lebih dari selusin orang, sementara pada 2021 seorang anak laki-laki dilaporkan meninggal dunia akibat infeksi ini.
Virus Nipah merupakan penyakit zoonosis yang dapat menular dari hewan ke manusia. Virus ini pertama kali teridentifikasi pada 1999 dalam wabah di peternakan babi di Malaysia dan Singapura. Kelelawar buah diketahui sebagai reservoir alami utama, meskipun penularan juga dapat melibatkan hewan lain seperti babi dan anjing.
Penularan pada manusia dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi atau konsumsi produk buah yang terkontaminasi. Dalam sejumlah kasus, penularan antarmanusia juga dilaporkan, terutama melalui kontak dekat dan intens dengan penderita.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan virus Nipah sebagai penyakit prioritas karena tingkat kematiannya yang tinggi dan potensi wabah cepat, meski frekuensi kejadiannya rendah. Hingga kini, belum tersedia vaksin maupun pengobatan khusus, dan penanganan bersifat suportif.
Profesor asosiasi epidemiologi dan dinamika penyakit menular di London School of Hygiene and Tropical Medicine serta Universitas Nagasaki, Dr. Kaja Abbas, menilai kekhawatiran global terhadap Nipah perlu ditempatkan secara proporsional.
“Sejak virus Nipah pertama kali diidentifikasi pada 1999 hingga sekarang, jumlah kasus globalnya kurang dari 750,” kata Abbas kepada DW.
“Ketika kami mengatakan global, kasus-kasus ini terutama terbatas di dua negara, yaitu India dan Bangladesh. Pada 1999 memang ada beberapa wabah di Singapura dan Malaysia, tetapi sejak 2001, dalam 25 tahun terakhir, sebagian besar kasus terjadi di India dan Bangladesh, dengan jumlah yang sangat sedikit.”
Ia menjelaskan bahwa virus Nipah memerlukan kontak tertutup dan intens untuk dapat menular.
“Sekitar 40% hingga 70% orang yang terinfeksi virus Nipah dapat meninggal dunia akibat infeksi tersebut. Itulah yang membuat virus ini sangat berbahaya, meskipun risiko penularannya rendah,” ujarnya.
Abbas juga menekankan bahwa Nipah tidak dapat dibandingkan dengan virus corona dalam hal potensi penyebaran.
“Dalam kasus virus corona, angka reproduksinya berada di kisaran dua hingga tiga, sehingga penyebarannya sangat cepat secara global,” kata Abbas. “Sementara pada virus Nipah, penularannya cenderung berhenti dengan sendirinya.”
Menurutnya, pelacakan kontak dan pemeriksaan kesehatan yang telah dilakukan saat ini sudah memadai.
“Risiko penyebaran lintas negara tidak sepenuhnya nol, tetapi sangat, sangat kecil,” kata Abbas. []
Siti Sholehah.
