Trump Sebut Ada Kesepakatan dengan Putin Soal Serangan Ukraina
JAKARTA – Situasi konflik antara Rusia dan Ukraina kembali menjadi sorotan internasional setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin menyetujui permintaannya untuk menghentikan sementara serangan terhadap Ukraina. Klaim tersebut disampaikan Trump di tengah kondisi cuaca musim dingin ekstrem yang melanda kawasan Eropa Timur dan Amerika Serikat, yang dinilai memperburuk dampak kemanusiaan akibat perang berkepanjangan.
Pernyataan Trump muncul ketika Ukraina menghadapi gangguan serius terhadap infrastruktur vital, khususnya jaringan listrik, pemanas, dan pasokan air. Serangan Rusia yang menyasar fasilitas energi dinilai berdampak signifikan, terutama saat suhu udara turun drastis hingga berada pada level ekstrem. Kondisi ini meningkatkan risiko krisis kemanusiaan, terutama bagi warga sipil yang tinggal di wilayah perkotaan dan daerah yang terdampak langsung konflik.
Meski Trump mengklaim telah memperoleh persetujuan dari Putin terkait penghentian serangan sementara, hingga saat ini Kremlin belum memberikan konfirmasi resmi atas pernyataan tersebut. Ketidakjelasan sikap Moskow membuat komunitas internasional masih menanti kepastian terkait realisasi penghentian serangan yang dimaksud.
Di sisi lain, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyampaikan apresiasi kepada Trump atas upaya diplomatik yang diklaim telah dilakukan. Zelensky menegaskan bahwa Ukraina berharap Washington dapat berperan aktif dalam mengamankan penghentian serangan Rusia, terutama di tengah kondisi cuaca ekstrem yang mengancam keselamatan warga sipil.
Trump menjelaskan bahwa permintaan tersebut ia sampaikan secara langsung kepada Putin dengan pertimbangan kemanusiaan. Menurut Trump, cuaca dingin yang tidak biasa menjadi faktor utama yang mendorongnya mengajukan permintaan tersebut.
“Karena cuacanya sangat dingin… Saya secara pribadi meminta Presiden Putin untuk tidak menembaki Kyiv dan kota-kota di sekitarnya selama seminggu terakhir,” kata Trump dalam rapat kabinet di Gedung Putih dilansir AFP, Jumat (30/01/2026).
Ia menggambarkan kondisi cuaca yang sedang berlangsung sebagai situasi ekstrem yang jarang terjadi dan berdampak luas bagi masyarakat di wilayah konflik maupun di AS.
“Ini bukan hanya dingin biasa, ini sangat dingin. Dingin yang memecahkan rekor, di sana juga, mereka mengalami hal yang sama, cuacanya sangat buruk,” tambah Trump, membandingkannya dengan gelombang dingin yang saat ini melanda Washington.
Trump menyebut bahwa permintaan tersebut secara spesifik ditujukan untuk menghentikan serangan terhadap Kyiv dan kota-kota besar lainnya selama kurun waktu satu minggu. Menurutnya, Putin menyetujui permintaan tersebut atas dasar kondisi cuaca yang ekstrem.
“Mereka belum pernah mengalami cuaca dingin seperti itu. Dan saya secara pribadi meminta Presiden Putin untuk tidak menyerang Kyiv dan berbagai kota selama seminggu. Dan dia setuju untuk melakukannya, dan harus saya katakan, itu sangat menyenangkan,” ucap Trump.
Klaim ini memunculkan beragam respons dari pengamat internasional. Sejumlah pihak menilai bahwa jika benar terjadi, penghentian serangan sementara dapat memberikan ruang bagi upaya kemanusiaan dan perbaikan infrastruktur penting di Ukraina. Namun, tanpa konfirmasi resmi dari Rusia, klaim tersebut masih dipandang sebagai pernyataan sepihak yang perlu diverifikasi lebih lanjut.
Di tengah konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, kondisi cuaca ekstrem dinilai menjadi tantangan tambahan bagi negara-negara yang terlibat. Situasi ini menegaskan pentingnya diplomasi internasional dalam mendorong perlindungan terhadap warga sipil, terutama saat faktor alam memperburuk dampak perang yang sudah berlangsung lama. []
Siti Sholehha.
