Mari Elka: Ekonomi Hijau Bukan Beban, tapi Investasi Masa Depan

JAKARTA – Wacana ekonomi hijau kini tidak lagi diposisikan sebatas agenda lingkungan, melainkan mulai dilihat sebagai strategi pembangunan ekonomi jangka panjang. Utusan Khusus Presiden Indonesia Bidang Perdagangan dan Kerja Sama Multilateral, Mari Elka Pangestu, menilai pendekatan ekonomi hijau justru dapat menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi nasional, termasuk untuk mencapai target ambisius pertumbuhan hingga 8%.

Menurut Mari, paradigma lama yang memandang kebijakan hijau sebagai beban biaya perlu ditinggalkan. Ia menegaskan bahwa upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim harus dipahami sebagai investasi yang mampu menciptakan nilai tambah bagi perekonomian. Investasi tersebut tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga membuka lapangan kerja baru, memperluas peluang usaha, dan memperkuat daya saing Indonesia di pasar global.

“Ini bukan soal komitmen terhadap perubahan iklim semata, tetapi ini tentang pertumbuhan,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (29/01/2026).

Mari menjelaskan bahwa dinamika perdagangan internasional saat ini semakin dipengaruhi oleh isu keberlanjutan. Banyak negara dan korporasi global mulai mensyaratkan standar lingkungan yang ketat dalam rantai pasok mereka. Penggunaan energi bersih, efisiensi sumber daya, hingga tata kelola lingkungan menjadi indikator penting dalam menentukan akses pasar.

Jika Indonesia tidak beradaptasi, menurut Mari, peluang ekspor berisiko terhambat. Salah satu tantangan yang perlu diantisipasi adalah kebijakan global seperti carbon border adjustment mechanism (CBAM), yang berpotensi mengenakan beban tambahan pada produk ekspor dengan emisi karbon tinggi.

Dari berbagai sektor, energi disebut sebagai fondasi utama dalam strategi pertumbuhan hijau. Transisi menuju energi terbarukan dinilai tidak hanya berkontribusi pada penurunan emisi, tetapi juga membuka ruang investasi baru serta mendorong lahirnya industri-industri berbasis teknologi bersih.

“Menangani mitigasi dan adaptasi bukan cost. Itu adalah investment yang bisa menghasilkan growth,” ujar Mari.

Namun demikian, Mari menekankan bahwa transformasi menuju ekonomi hijau tidak bisa hanya mengandalkan teknologi dan pendanaan. Kesiapan sumber daya manusia menjadi faktor krusial. Saat ini, sebagian besar tenaga kerja Indonesia masih belum memiliki keterampilan yang sesuai untuk mendukung pengembangan sektor energi terbarukan dan industri hijau lainnya.

Oleh karena itu, program peningkatan kapasitas dan re-skilling tenaga kerja dinilai mendesak untuk menciptakan green jobs yang berkelanjutan. Tanpa kesiapan SDM, peluang ekonomi hijau dikhawatirkan tidak dapat dimanfaatkan secara optimal.

Selain sektor energi, Mari juga menyoroti potensi besar sektor pertanian, kehutanan, dan kelautan. Ketiga sektor tersebut tidak hanya berperan dalam menekan emisi, tetapi juga memiliki kapasitas besar dalam penyerapan karbon. Ia mendorong pengembangan pasar karbon domestik yang kredibel dan selaras dengan standar internasional, termasuk pemanfaatan potensi karbon biru di wilayah laut Indonesia.

Meski peluang terbuka lebar, Mari menilai tantangan utama justru terletak pada koordinasi kebijakan. Selama ini, kebijakan antar sektor masih berjalan sendiri-sendiri tanpa arah yang terintegrasi. Ia menegaskan perlunya peta jalan ekonomi hijau nasional yang jelas, penentuan sektor prioritas, serta sinkronisasi antara kebijakan makro dan sektoral.

“Perlu kebijakan yang konsisten. Jadi tanpa itu agak susah kita merealisasi our green golden vision,” kata Mari.

Dengan pendekatan yang terarah dan konsisten, ekonomi hijau diyakini dapat menjadi mesin pertumbuhan baru yang tidak hanya mendorong kinerja ekonomi, tetapi juga memastikan pembangunan yang berkelanjutan bagi Indonesia. []

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *