Dari Desa Loh Sumber ke Balikpapan, Keripik Tempe Lokal Naik Kelas!
KUTAI KARTANEGARA – Desa Loh Sumber, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), semakin mengokohkan diri sebagai sentra produksi tempe terbesar di wilayah tersebut. Diperkirakan sekitar 80 persen pengrajin tempe di Loa Kulu berasal dari desa ini, termasuk Wahyu, pengusaha keripik tempe yang kini mulai melebarkan sayap pasarnya hingga luar daerah.
Keripik tempe Wahyu memiliki keunggulan dibanding produk sejenis. Selain menggunakan tempe segar hasil produksi lokal Desa Loh Sumber, proses pengolahan dilakukan secara higienis, dengan cita rasa khas yang gurih dan renyah. Hal ini membuat produknya tetap diminati meski persaingan keripik tempe di Loa Kulu cukup ketat. “Keunggulan kami ada pada rasa dan kualitas tempe. Karena bahan bakunya langsung dari pengrajin lokal, jadi kesegarannya terjaga,” ujar Wahyu saat ditemui Sabtu (31/01/2026).
Meski awalnya pasar masih terbatas di sekitar Loa Kulu, kini permintaan mulai merambah Tenggarong dan Balikpapan. Wahyu pun memanfaatkan media sosial, khususnya Facebook, sebagai strategi pemasaran online untuk menjangkau konsumen lebih luas.
Dari usaha tersebut, Wahyu mengaku mampu meraih omzet rata-rata sekitar Rp2,5 juta per bulan, dengan produksi yang disesuaikan dengan permintaan pasar. Jumlah tersebut berpotensi meningkat pada momen-momen tertentu.
Produksi keripik tempe biasanya meningkat saat momen tertentu. Wahyu menjelaskan, lonjakan permintaan kerap terjadi pada bulan Ramadan dan menjelang Hari Raya Idulfitri. Selain itu, pesanan dalam jumlah besar juga datang dari PT Multi Harapan Utama (MHU), sehingga memacu kapasitas produksi untuk memenuhi permintaan. “Persaingan cukup ketat karena banyak juga yang memproduksi keripik tempe di sini. Kami harus terus menjaga kualitas supaya tetap dipercaya konsumen,” kata Wahyu.
Kehadiran usaha keripik tempe di Desa Loh Sumber tidak hanya memberi nilai tambah bagi produk tempe lokal, tetapi juga turut menguatkan ekonomi masyarakat setempat. Banyak warga desa yang terlibat dalam rantai produksi, mulai dari penyediaan bahan baku hingga pengemasan dan distribusi.
Menurut Wahyu, inovasi produk juga menjadi kunci untuk menarik pasar lebih luas. Beberapa variasi rasa dan kemasan modern tengah dikembangkan untuk memenuhi selera konsumen di perkotaan. “Kami ingin keripik tempe Loh Sumber tidak hanya dikenal di Loa Kulu, tapi juga bisa bersaing di pasar regional, bahkan nasional,” ujar Wahyu optimis.
Dengan dukungan pemasaran, inovasi produk, dan kualitas terjaga, keripik tempe Loh Sumber berpotensi menjadi produk unggulan UMKM Kutai Kartanegara yang mampu menembus pasar yang lebih luas, sekaligus mendukung ekonomi kreatif lokal dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat desa. []
Penulis: Anggi Triomi | Penyunting: Aulia Setyaningrum
