Di Tengah Ancaman AS, Iran Pilih Jalur Damai

Iran's President Masoud Pezeshkian gives a joint press conference with the Iraqi Prime Minister after their meeting at the government palace in Baghdad on September 11, 2024. Pezeshkian is leading a high-ranking Iranian delegation on a visit to Baghdad, the first trip abroad since he took office in July. (Photo by Ahmed JALIL / POOL / AFP) (Photo by AHMED JALIL/POOL/AFP via Getty Images)

JAKARTA — Pemerintah Iran menegaskan sikapnya yang menolak eskalasi konflik di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat (AS). Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan bahwa Teheran tidak memiliki kepentingan untuk terlibat dalam perang, menyusul ancaman serangan militer yang kembali disuarakan oleh Washington.

Dalam pernyataannya, Masoud menilai bahwa konfrontasi bersenjata tidak akan memberikan keuntungan bagi siapa pun, baik bagi Iran, Amerika Serikat, maupun kawasan Timur Tengah secara keseluruhan. Ia menekankan bahwa perang justru akan membawa dampak destruktif yang luas dan berkepanjangan.

“Republik Islam Iran tidak pernah menginginkan, dan sama sekali tidak menginginkan, perang dan sangat yakin bahwa perang tidak akan menguntungkan Iran, Amerika Serikat, maupun kawasan ini,” katanya, seperti dilansir kantor berita AFP, Minggu (01/02/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan Masoud di tengah dinamika diplomatik yang intens antara Iran dan sejumlah negara kunci di kawasan. Berdasarkan keterangan resmi dari kantor kepresidenan Iran, Masoud diketahui melakukan percakapan via telepon dengan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi. Mesir merupakan sekutu dekat Amerika Serikat dan disebut telah diundang untuk bergabung dalam inisiatif “Dewan Perdamaian” yang digagas Presiden AS Donald Trump.

Langkah komunikasi ini dipandang sebagai sinyal bahwa Iran masih membuka ruang dialog dan diplomasi, meskipun tekanan militer dan politik dari Washington terus meningkat. Di sisi lain, Amerika Serikat juga menunjukkan sikap keras terhadap Teheran, terutama terkait program nuklir dan persenjataan rudal Iran.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan harapannya agar Iran memilih jalur negosiasi ketimbang menghadapi konfrontasi militer. Trump mengungkapkan bahwa AS telah mengerahkan kekuatan militer yang signifikan ke wilayah dekat Iran sebagai bentuk tekanan.

“Saya dapat mengatakan ini, mereka memang ingin mencapai kesepakatan,” kata Trump saat berbicara kepada wartawan di Ruang Oval Gedung Putih, seperti dilansir AFP, Sabtu (31/01/2026).

Trump bahkan membandingkan pengerahan armada militer tersebut dengan operasi militer AS sebelumnya. Ia menyebut armada yang dikerahkan ke dekat wilayah Iran lebih besar dibandingkan kekuatan yang digunakan Washington saat menggulingkan pemimpin Venezuela Nicolas Maduro pada awal Januari lalu. Menurut Trump, langkah itu diambil sebagai sinyal keseriusan AS dalam menekan Iran agar kembali ke meja perundingan.

Ketika ditanya mengenai tenggat waktu yang diberikan kepada Iran untuk memulai pembicaraan terkait program nuklir dan rudalnya, Trump mengonfirmasi bahwa batas waktu tersebut memang ada.

“Iya, saya sudah memberikannya,” ujarnya, meski menolak merinci durasi tenggat tersebut. “Hanya mereka yang tahu pasti,” imbuhnya.

Trump juga kembali menegaskan kesiapan militer AS jika negosiasi gagal membuahkan hasil. “Kita memiliki armada besar, armada kapal, sebut saja apa pun yang Anda inginkan, yang sedang bergerak menuju ke Iran saat ini,” ucapnya, merujuk pada kelompok kapal induk Angkatan Laut AS yang dikerahkan ke perairan lepas pantai Iran.

Meski demikian, Trump masih membuka peluang tercapainya kesepakatan. “Semoga kita akan mencapai kesepakatan. Jadi kita membuat kesepakatan, itu bagus. Jika kita tidak mencapai kesepakatan, kita akan lihat apa yang terjadi,” cetusnya.

Situasi ini menempatkan kawasan Timur Tengah kembali dalam posisi rawan, dengan diplomasi dan tekanan militer berjalan beriringan. Pernyataan Presiden Masoud menunjukkan bahwa Iran berupaya menegaskan posisinya sebagai pihak yang tidak menginginkan perang, sembari menunggu langkah lanjutan dari Washington. []

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *