Pentagon Jadi Lokasi Pertemuan Rahasia Jenderal AS dan Israel
WASHINGTON DC – Hubungan militer antara Amerika Serikat (AS) dan Israel kembali menjadi sorotan setelah para jenderal senior dari kedua negara menggelar pertemuan tertutup di Pentagon. Pertemuan tersebut berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait sikap keras kedua negara terhadap Iran dan program nuklirnya.
Dua sumber pejabat AS yang mengetahui langsung pertemuan tersebut mengungkapkan bahwa Jenderal Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan AS, bertemu dengan Jenderal Eyal Zamir, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel. Informasi ini disampaikan kepada Reuters dengan syarat anonim dan dikutip pada Senin (02/02/2026).
Pertemuan itu dilaksanakan secara tertutup di markas Departemen Pertahanan AS, Pentagon, pada Jumat (30/01/2026) waktu setempat. Namun, pertemuan tersebut baru diketahui publik dua hari kemudian, yakni pada Minggu (01/02/2026), dan tidak dilaporkan oleh media sebelumnya. Kondisi ini menambah spekulasi mengenai sensitivitas isu yang dibahas oleh kedua petinggi militer tersebut.
Meski demikian, para pejabat AS yang dikutip Reuters tidak memberikan penjelasan rinci mengenai materi pembicaraan antara Caine dan Zamir. Tidak ada keterangan resmi apakah diskusi tersebut berkaitan langsung dengan opsi militer terhadap Iran, koordinasi pertahanan regional, atau strategi menghadapi dinamika keamanan Timur Tengah yang terus berkembang.
Di sisi lain, sinyal perbedaan pendekatan antara Washington dan Tel Aviv terhadap Iran kembali mencuat. Seorang pejabat Israel yang tidak disebutkan namanya, seperti dilansir media Turki TRT World, mengungkapkan bahwa Presiden AS Donald Trump saat ini lebih mendorong jalur diplomasi dengan Teheran. Menurut pejabat tersebut, Trump meyakini bahwa negosiasi dapat mengarah pada pembongkaran program nuklir Iran.
Namun, pandangan itu tidak sepenuhnya sejalan dengan sikap Israel. Pejabat Israel tersebut menyebutkan bahwa Tel Aviv justru mendorong Amerika Serikat untuk mengambil langkah militer secara langsung terhadap Iran. Israel menilai tindakan keras diperlukan untuk mencegah Iran mencapai kemampuan senjata nuklir.
Israel bahkan telah menyampaikan peringatan kepada Washington terkait potensi dampak jika AS memilih untuk menahan diri. Peringatan tersebut mencakup apa yang mereka gambarkan sebagai percepatan kemajuan Iran dalam mengembangkan senjata nuklir, yang dinilai dapat mengancam stabilitas kawasan dan keamanan Israel secara langsung.
Selain itu, para pejabat Israel juga menyampaikan “kekhawatiran” mereka kepada mitra AS mengenai perkembangan terbaru program nuklir Iran. Kekhawatiran ini disampaikan dalam berbagai forum komunikasi bilateral, termasuk di tingkat militer dan keamanan.
Dalam beberapa pekan terakhir, Amerika Serikat terlihat meningkatkan kehadiran militernya di Timur Tengah. Langkah tersebut mencakup penguatan sistem pertahanan udara dan penambahan aset militer strategis di kawasan. Peningkatan ini dilakukan setelah Presiden Donald Trump berulang kali mengeluarkan pernyataan keras terhadap Iran sekaligus berupaya menekan negara tersebut agar bersedia kembali ke meja perundingan.
Sementara itu, pihak Iran juga tidak tinggal diam. Para pemimpin Teheran telah memperingatkan bahwa serangan militer AS akan memicu konflik regional berskala besar. Iran menegaskan bahwa mereka siap merespons setiap bentuk agresi yang mengancam kedaulatan negaranya.
Pertemuan tertutup antara jenderal AS dan Israel ini pun dinilai mencerminkan kompleksitas hubungan strategis kedua negara, yang di satu sisi solid secara militer, namun di sisi lain menghadapi perbedaan pandangan mengenai cara terbaik menangani Iran di tengah situasi geopolitik yang semakin rapuh. []
Siti Sholehah.
