Operasi Balasan Pakistan Tewaskan 145 Militan di Balochistan
ISLAMABAD – Eskalasi konflik bersenjata di Provinsi Balochistan, Pakistan, kembali memunculkan kekhawatiran serius terhadap stabilitas keamanan kawasan tersebut. Dalam operasi militer besar-besaran yang berlangsung selama sekitar 40 jam atau dua hari terakhir, pasukan keamanan Pakistan dilaporkan menewaskan sedikitnya 145 militan separatis. Operasi itu digelar sebagai respons atas rangkaian serangan bersenjata dan bom terkoordinasi yang menewaskan hampir 50 orang pada akhir pekan lalu.
Mengutip laporan Reuters, Senin (02/02/2025), bentrokan terjadi setelah kelompok separatis meningkatkan intensitas serangan di berbagai wilayah Balochistan. Provinsi yang berbatasan langsung dengan Iran dan Afghanistan ini telah lama dilanda pemberontakan bersenjata, terutama oleh kelompok yang menuntut kemerdekaan atau otonomi lebih luas dari pemerintah pusat Pakistan.
Otoritas setempat menyebut gelombang kekerasan terbaru sebagai salah satu yang paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir. Serangan dilakukan secara terorganisir dan menyasar berbagai fasilitas publik, mulai dari rumah sakit, sekolah, bank, hingga pasar tradisional. Para pelaku disebut menyamar sebagai warga sipil sebelum melancarkan aksi penembakan secara brutal.
“Dalam setiap kasus, para penyerang datang dengan berpakaian seperti warga sipil dan secara membabi-buta menargetkan orang-orang biasa yang bekerja di toko-toko,” kata Menteri Dalam Negeri junior Pakistan, Talal Chaudhry.
Ia juga menuding kelompok militan menggunakan warga sipil sebagai tameng manusia untuk menghambat pergerakan pasukan keamanan. Pernyataan tersebut menegaskan kekhawatiran pemerintah Pakistan atas meningkatnya risiko keselamatan masyarakat sipil di tengah konflik bersenjata yang kian meluas.
Kelompok separatis terlarang, Tentara Pembebasan Baloch (BLA), mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Dalam pernyataannya, BLA menyebut operasi itu sebagai bagian dari kampanye yang mereka namai “Herof” atau “badai hitam”, dengan target utama pasukan keamanan Pakistan di seluruh Balochistan.
Serangan dilaporkan terjadi hampir bersamaan di sejumlah wilayah strategis, termasuk Quetta sebagai ibu kota provinsi, serta Gwadar, Mastung, dan Noshki. Para pelaku menembaki instalasi keamanan, mencoba melakukan bom bunuh diri, hingga memblokir ruas-ruas jalan utama. Dampak kerusakan terlihat jelas di Quetta, di mana kendaraan hangus terbakar, gedung kepolisian dipenuhi lubang peluru, dan garis polisi membentang di sepanjang jalan.
Kepala Menteri Balochistan, Sarfraz Bugti, menyampaikan bahwa sedikitnya 17 personel penegak hukum dan 31 warga sipil tewas akibat serangan separatis tersebut. Korban sipil menjadi perhatian utama pemerintah daerah, mengingat banyak serangan terjadi di area publik yang padat aktivitas warga.
Serangan itu kemudian dibalas dengan operasi keamanan skala besar yang melibatkan tentara, kepolisian, dan unit antiterorisme. Militer Pakistan mengumumkan bahwa 92 militan tewas dalam pertempuran pada Sabtu (31/01/2026), sementara 41 militan lainnya dilumpuhkan dalam operasi pendahuluan sehari sebelumnya.
“Kami memiliki laporan intelijen bahwa operasi semacam ini sedang direncanakan, dan sebagai hasilnya, kami memulai pra-operasi sehari sebelumnya,” kata Bugti.
Sementara itu, BLA mengklaim telah menewaskan 84 personel pasukan keamanan dan menangkap 18 lainnya. Namun, klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen dan belum mendapat tanggapan resmi dari pihak militer Pakistan. []
Siti Sholehah.
