Bank Sentral Australia Rem Inflasi dengan Kenaikan Suku Bunga

Bank Sentral Australia atau Reserve Bank of Australia (RBA) kembali mengambil langkah pengetatan kebijakan moneter dengan menaikkan suku bunga acuannya sebesar 0,25 poin pada Selasa (3/2/2026). Keputusan tersebut diambil di tengah tekanan inflasi yang dinilai masih belum sepenuhnya terkendali, meskipun sejumlah indikator ekonomi menunjukkan perlambatan.

JAKARTA – Dengan kebijakan terbaru ini, suku bunga acuan RBA kini berada di level 3,85 persen, naik dari sebelumnya 3,6 persen. Kenaikan ini sejalan dengan prediksi sebagian besar pengamat ekonomi, yang telah mengantisipasi langkah RBA setelah data inflasi menunjukkan tren yang kembali meningkat pada paruh kedua 2025.

RBA menilai kebijakan tersebut diperlukan untuk menjaga stabilitas harga dan menekan laju inflasi agar kembali ke target yang telah ditetapkan. Saat ini, tingkat inflasi Australia tercatat sebesar 3,4 persen, masih berada di atas sasaran bank sentral yang berada di kisaran 2 hingga 3 persen.

“Meskipun inflasi turun secara substansial sejak puncaknya pada tahun 2022, inflasi meningkat secara signifikan pada paruh kedua tahun 2025,” kata Dewan RBA dalam sebuah pernyataan.

“Dewan sudah memantau perekonomian dengan cermat dan menilai sebagian dari peningkatan inflasi mencerminkan adanya tekanan yang lebih besar. Akibatnya, Dewan merasa inflasi kemungkinan akan tetap di atas target untuk beberapa waktu.”

Sebelumnya, RBA sempat melonggarkan kebijakan moneternya dengan memangkas suku bunga sebanyak tiga kali sepanjang tahun lalu, seiring melandainya inflasi. Pemangkasan terakhir dilakukan pada Agustus, sebelum tren kenaikan harga kembali menguat menjelang akhir tahun.

Kebijakan kenaikan suku bunga ini dinilai akan membawa dampak luas, termasuk bagi warga diaspora Indonesia yang tinggal dan bekerja di Australia. Menurut penasihat sektor keuangan yang berbasis di Sydney dan Jakarta, Michael Lukman, dampak kebijakan moneter tersebut pada dasarnya akan dirasakan oleh semua lapisan masyarakat, termasuk diaspora Indonesia, meskipun tingkat pengaruhnya bisa berbeda-beda.

Ia menjelaskan bahwa kelompok yang paling terdampak adalah pemilik rumah dengan cicilan berbunga variabel. Kenaikan suku bunga otomatis akan meningkatkan besaran cicilan bulanan, terutama bagi mereka yang berada di ambang batas kemampuan pembayaran.

“Mereka yang akan merasakan dampak paling besar adalah para pemilik rumah yang cicilannya sedikit di atas persyaratan pembayaran minimum … mereka yang berada di ambang batas,” kata Michael.

Selain itu, penyewa rumah juga berpotensi ikut terdampak. Menurut Michael, pemilik properti bisa saja meneruskan beban kenaikan biaya pinjaman kepada penyewa melalui penyesuaian harga sewa.

“Jika memungkinkan, pemilik rumah akan mencoba membebankan kenaikan bunga dan cicilan kepada penyewa,” ujarnya.

Di sisi lain, kenaikan suku bunga membuat instrumen tabungan dan deposito perbankan tampak lebih menarik, terutama di tengah kondisi pasar saham yang berfluktuasi serta harga emas dan perak yang mengalami penurunan tajam. Harga emas sempat menyentuh rekor tertinggi sebelum akhirnya terkoreksi signifikan, sementara harga perak tercatat turun lebih dalam.

Meski demikian, Michael menilai menabung di bank bukan selalu pilihan terbaik untuk semua tujuan keuangan.

“Semua tergantung apa yang menjadi goal kamu, apakah untuk jangka pendek atau jangka panjang?”

Ia menekankan bahwa tabungan cocok untuk kebutuhan jangka pendek dan likuiditas, namun untuk tujuan jangka panjang seperti pensiun, diversifikasi aset tetap menjadi kunci.

“Dalam inflasi jangka panjang, nilai uang kita selalu berkurang seiring waktu. Sementara sejarah menunjukkan investasi di aset, seperti saham dan logam mulia, akan mengungguli aset yang berisiko rendah, seperti deposito bank dan uang tunai,” jelas Michael.

Kenaikan suku bunga juga berpotensi memperkuat nilai tukar dolar Australia. Namun, menurut Michael, penguatan tersebut kemungkinan tidak akan terlalu signifikan karena dolar Australia telah lebih dulu menguat akibat melemahnya dolar Amerika Serikat.

Meski demikian, penguatan dolar Australia terhadap rupiah masih dianggap menguntungkan bagi diaspora Indonesia, khususnya bagi mereka yang rutin mengirimkan uang ke Tanah Air. Di sisi lain, kondisi tersebut membuat ekspor Australia menjadi relatif lebih mahal, sementara impor dari Indonesia ke Australia menjadi lebih kompetitif.

“Suku bunga selalu naik dan turun setiap saat, tapi yang direkomendasikan adalah untuk kembali meninjau ulang anggaran rumah tangga secara cermat dan lakukan apa yang bisa untuk bisa bertahan,” ujar Michael. []

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *