Meski Drone Iran Ditembak, AS Tegaskan Negosiasi Tak Batal
WASHINGTON DC – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah insiden militer di Laut Arab, namun pemerintah AS menegaskan jalur diplomasi tetap terbuka. Meski sebuah jet tempur siluman milik AS dilaporkan menembak jatuh drone Iran yang mendekati kapal induk USS Abraham Lincoln, perundingan antara kedua negara tetap dijadwalkan berlangsung pada pekan ini.
Penegasan tersebut disampaikan langsung oleh Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, di tengah sorotan internasional terhadap dinamika hubungan Washington dan Teheran. Insiden penembakan drone itu terjadi hanya beberapa hari menjelang rencana pertemuan pejabat kedua negara, sehingga memicu spekulasi mengenai kelanjutan proses negosiasi.
Kepada wartawan pada Selasa (03/02/2026) waktu setempat, Leavitt menyatakan bahwa agenda perundingan masih berjalan sesuai rencana. Ia menegaskan bahwa pemerintah AS tidak membatalkan jalur dialog meski terjadi eskalasi di lapangan.
“Saya baru saja berbicara dengan utusan khusus (Steve) Witkoff, dan perundingan ini hingga saat ini masih dijadwalkan,” tegas Leavitt dalam pernyataannya.
Ia menambahkan bahwa pertemuan antara perwakilan Washington dan Teheran dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat. “Akhir pekan ini,” kata Leavitt, merujuk pada waktu pelaksanaan perundingan tersebut.
Menurut Leavitt, pendekatan diplomatik tetap menjadi prioritas utama Presiden Donald Trump dalam menghadapi Iran, meskipun situasi keamanan di kawasan Timur Tengah masih rentan.
“Presiden (Donald) Trump selalu ingin mengutamakan diplomasi terlebih dahulu, tetapi jelas dibutuhkan kerja sama kedua pihak,” kata Leavitt.
Sumber yang memahami rencana perundingan menyebutkan bahwa Steve Witkoff, Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah yang juga ditunjuk Trump sebagai negosiator konflik global, kemungkinan akan bertemu dengan pejabat Iran di Turki. Istanbul disebut sebagai lokasi awal yang direncanakan untuk pertemuan tersebut, yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat (06/02/2026).
Namun, laporan terbaru menyebut adanya perubahan dinamika terkait lokasi perundingan. Reuters, mengutip seorang sumber regional, melaporkan bahwa Iran mengajukan permintaan agar lokasi pertemuan dipindahkan ke Oman, bukan Turki. Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pihak AS terkait usulan perubahan tempat tersebut.
Di sisi lain, militer AS mengonfirmasi telah menembak jatuh sebuah drone Iran menggunakan jet tempur siluman F-35C. Drone tersebut disebut mendekati kapal induk USS Abraham Lincoln secara “agresif” di perairan Laut Arab. Kapal induk itu diketahui dikerahkan ke wilayah dekat Iran seiring meningkatnya ketegangan antara kedua negara.
Dalam wawancara terpisah dengan Fox News, Leavitt menyatakan bahwa meskipun diplomasi diutamakan, opsi militer tetap berada di meja Presiden Trump.
“Tentu saja, presiden selalu memiliki berbagai pilihan, dan itu termasuk penggunaan kekuatan militer,” kata Leavitt.
Ia menambahkan bahwa Iran memahami risiko tersebut dengan sangat baik. “Iran lebih tahu tentang hal itu daripada siapa pun,” ujarnya, merujuk pada serangan udara AS terhadap fasilitas nuklir Iran pada tahun lalu.
Situasi ini menunjukkan rapuhnya keseimbangan antara tekanan militer dan upaya diplomasi dalam hubungan AS-Iran. Meski insiden bersenjata terjadi di lapangan, kedua pihak masih membuka ruang dialog untuk mencegah konflik yang lebih luas. Perundingan yang akan digelar pekan ini dipandang sebagai ujian penting bagi komitmen kedua negara dalam meredam eskalasi dan mencari titik temu di tengah ketegangan yang terus berlanjut. []
Siti Sholehah.
