Murid Tikam Guru Seni di Prancis, Korban Kritis
PARIS – Dunia pendidikan Prancis kembali diguncang insiden kekerasan serius setelah seorang murid berusia 14 tahun menikam guru seni di sebuah sekolah menengah di wilayah selatan negara tersebut. Peristiwa yang terjadi pada Selasa (03/02/2026) waktu setempat ini menempatkan korban, seorang guru perempuan berusia 60 tahun, dalam kondisi kritis dan harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit setempat.
Penikaman berlangsung di sekolah menengah La Guicharde yang berlokasi di kota Sanary-sur-Mer, Prancis bagian selatan. Informasi tersebut disampaikan oleh otoritas penegak hukum setempat dan dikonfirmasi oleh laporan kantor berita AFP pada Rabu (04/02/2026).
Jaksa wilayah kota Toulon, Raphael Balland, menyatakan bahwa korban mengalami beberapa luka akibat serangan tersebut. Berdasarkan hasil penyelidikan awal, guru seni itu ditikam setidaknya tiga kali oleh muridnya sendiri. Pelaku yang merupakan remaja laki-laki langsung diamankan aparat keamanan dan kini ditahan atas dugaan percobaan pembunuhan.
Hingga saat ini, pihak kejaksaan belum menemukan motif pasti di balik aksi kekerasan tersebut. Balland menegaskan bahwa penyelidikan masih berlangsung untuk mengungkap latar belakang tindakan pelaku.
“Yang kami ketahui hanyalah bahwa ada ketegangan dengan guru ini beberapa waktu terakhir, dan bahwa dia (murid) marah padanya,” kata Balland dalam konferensi pers.
Ia juga menegaskan bahwa sejauh ini tidak ditemukan unsur ideologi tertentu dalam kasus tersebut. Menurut Balland, tidak ada indikasi yang mengarah pada motif agama maupun politik dalam penyerangan ini.
Motif penikaman tersebut belum diketahui secara jelas. Balland mengatakan bahwa tidak ada “konotasi agama atau politik” yang diketahui sejauh ini.
Insiden ini langsung mendapat perhatian serius dari pemerintah Prancis. Menteri Pendidikan Prancis, Edouard Geffray, mendatangi sekolah tempat kejadian untuk memberikan dukungan kepada korban, keluarga, serta komunitas pendidikan yang terdampak.
“Pikiran saya langsung tertuju kepada korban, keluarganya, dan seluruh komunitas pendidikan, yang rasa kagetnya juga saya rasakan,” ucapnya.
Presiden Prancis Emmanuel Macron juga dilaporkan telah menerima laporan lengkap mengenai kondisi korban dan perkembangan penanganan kasus tersebut. Pemerintah pusat menyatakan keprihatinan mendalam dan kembali menegaskan komitmen untuk meningkatkan keamanan di lingkungan sekolah.
Kasus penikaman ini menambah daftar panjang insiden kekerasan di institusi pendidikan Prancis dalam beberapa tahun terakhir. Publik masih mengingat peristiwa pada tahun lalu ketika seorang siswa laki-laki berusia 14 tahun didakwa atas pembunuhan seorang asisten pengajar perempuan berusia 31 tahun di kota Nogent. Korban yang merupakan seorang ibu itu tewas setelah ditikam saat pemeriksaan tas di sekolah.
Selain itu, pada April tahun lalu, seorang siswa di kota Nantes juga melakukan serangan penikaman yang menewaskan seorang siswi dan melukai beberapa siswa lainnya. Rangkaian kejadian tersebut memicu perdebatan luas mengenai kesehatan mental remaja, pengawasan di sekolah, serta sistem pencegahan kekerasan di lingkungan pendidikan.
Tragedi paling mengguncang publik Prancis sendiri terjadi pada tahun 2020, ketika seorang guru sejarah dan geografi bernama Samuel Paty dibunuh secara brutal setelah dipenggal kepalanya oleh seorang pemuda radikal. Kasus tersebut menjadi titik balik bagi kebijakan keamanan sekolah di Prancis.
Insiden terbaru di Sanary-sur-Mer kembali menimbulkan kekhawatiran akan keselamatan tenaga pendidik serta urgensi langkah konkret untuk mencegah kekerasan serupa terulang di masa mendatang.[]
Siti Sholehah.
