Ratusan Jurnalis The Washington Post Terkena PHK, Redaksi Menyusut Tajam

WASHINGTON DC – Gelombang krisis yang melanda industri media kembali menelan korban. Kali ini, salah satu surat kabar paling berpengaruh di Amerika Serikat, The Washington Post, mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran terhadap ratusan jurnalisnya. Keputusan tersebut menandai fase baru restrukturisasi media arus utama yang kian tertekan oleh perubahan lanskap bisnis, politik, dan teknologi.

Pengumuman PHK disampaikan pada Rabu (04/02/2026) waktu setempat. Dalam pernyataan resminya, manajemen The Washington Post menyebut langkah tersebut sebagai keputusan yang “menyakitkan”, namun dinilai perlu untuk menjaga keberlanjutan perusahaan. Surat kabar yang pernah menjadi simbol jurnalisme investigatif dunia saat membongkar skandal Watergate itu kini menghadapi tantangan ekonomi yang disebut semakin kompleks.

Pemimpin Redaksi The Washington Post, Matt Murray, menyatakan bahwa pengurangan jumlah karyawan di ruang redaksi akan dilakukan secara signifikan. Ia menegaskan bahwa perubahan ini bukan sekadar efisiensi biasa, melainkan penyesuaian besar terhadap realitas industri media saat ini.

“Hal ini akan membantu mengamankan masa depan kita… dan memberikan kita stabilitas ke depan,” kata Murray dalam pernyataannya kepada para karyawan.

Menurut Murray, model bisnis lama yang terlalu bertumpu pada media cetak tidak lagi relevan. Ia menyebut struktur perusahaan masih “terlalu berakar pada era yang berbeda”, ketika The Washington Post menjadi produk cetak lokal yang dominan. Di tengah kemunculan kreator independen berbiaya rendah dan konten berbasis kecerdasan buatan (AI), media konvensional dinilai harus beradaptasi agar tetap bertahan.

Penyusutan redaksi ini juga terjadi di tengah iklim politik Amerika Serikat yang semakin menantang bagi media. The Washington Post disebut menghadapi tekanan berkelanjutan sejak Presiden Donald Trump kembali menjabat untuk periode kedua. Trump kerap melontarkan kritik terhadap media arus utama dengan menyebutnya sebagai “fake news” serta melayangkan sejumlah gugatan hukum terkait pemberitaan soal kepresidenannya.

Kepemilikan The Washington Post oleh pendiri Amazon, Jeff Bezos, turut menjadi sorotan. Bezos dilaporkan semakin dekat dengan Trump dalam beberapa waktu terakhir. Salah satu yang menuai kontroversi adalah kesepakatan Amazon yang membayar Ibu Negara AS, Melania Trump, sebesar US$ 40 juta untuk produksi film dokumenter berjudul Melania, ditambah US$ 35 juta untuk biaya pemasarannya. Kondisi ini memicu kekhawatiran publik mengenai independensi redaksi.

Pihak The Washington Post tidak merinci jumlah pasti karyawan yang terdampak. Namun laporan New York Times menyebut sekitar 300 jurnalis dari total 800 jurnalis diberhentikan. Dampak PHK terasa signifikan pada liputan internasional, dengan seluruh tim jurnalis di Timur Tengah serta koresponden Ukraina yang berbasis di Kyiv termasuk dalam daftar terdampak.

Selain itu, sejumlah departemen seperti olahraga, grafis, dan berita lokal mengalami pemangkasan drastis. Podcast harian Post Reports yang selama ini menjadi salah satu kanal audio andalan surat kabar tersebut juga ditangguhkan.

Manajemen menyatakan bahwa ke depan The Washington Post akan memfokuskan liputan pada isu-isu utama seperti politik, keamanan nasional, teknologi, investigasi, dan bisnis. Namun langkah tersebut menuai kritik dari serikat pekerja.

“PHK ini bukanlah hal yang tak terhindarkan. Ruang redaksi tidak dapat dikosongkan tanpa konsekuensi terhadap kredibilitas, jangkauan, dan masa depannya,” demikian pernyataan serikat pekerja yang mewakili jurnalis The Washington Post.

Mantan Pemimpin Redaksi The Washington Post hingga 2021, Marty Baron, turut mengkritik kebijakan tersebut. Ia menyebut pengumuman PHK massal sebagai “salah satu hari terkelam dalam sejarah salah satu organisasi berita terbesar di dunia”.

Keputusan ini memperlihatkan bahwa krisis industri media telah mencapai tahap yang mengkhawatirkan, bahkan bagi institusi jurnalistik yang selama puluhan tahun menjadi rujukan kebebasan pers dunia. []

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *