New START Usai, Transparansi Nuklir AS-Rusia Terhenti
WASHINGTON DC – Berakhirnya perjanjian pengurangan senjata nuklir New START antara Amerika Serikat (AS) dan Rusia pada Rabu (04/02/2026) malam waktu Amerika Serikat bagian Timur atau Kamis (05/02/2026) pukul 12.00 WIB menandai babak baru ketidakpastian dalam tatanan keamanan global. Kesepakatan bilateral yang selama lebih dari satu dekade menjadi pilar utama pengendalian senjata nuklir strategis kedua negara tersebut kini resmi tidak lagi berlaku.
New START, kependekan dari Strategic Arms Reduction Treaty, ditandatangani pada 2010 oleh Presiden AS Barack Obama dan Presiden Rusia Dmitry Medvedev. Perjanjian ini menjadi satu-satunya instrumen hukum yang masih membatasi kepemilikan senjata nuklir strategis dua kekuatan nuklir terbesar dunia, setelah runtuhnya berbagai kesepakatan pengendalian senjata era Perang Dingin.
Dalam ketentuannya, New START membatasi jumlah hulu ledak nuklir strategis aktif sebanyak 1.550 unit per negara serta membatasi jumlah sistem peluncur strategis, termasuk pesawat pembom berat, rudal balistik antarbenua (ICBM), dan rudal balistik kapal selam (SLBM), hingga maksimal 800 unit. Selain itu, perjanjian ini juga mengatur mekanisme inspeksi bersama dan pertukaran data guna menjaga transparansi dan mencegah salah perhitungan militer.
Sejarah pengendalian senjata nuklir AS dan Rusia telah berlangsung panjang. Perjanjian START pertama kali muncul melalui Strategic Arms Limitation Talks atau SALT I pada 1972. Selanjutnya, START I yang digagas Presiden AS Ronald Reagan ditandatangani oleh Presiden George H.W. Bush dan Presiden Uni Soviet Mikhail Gorbachev, berlaku mulai 1994 hingga 2009. Adapun START II yang disepakati pada 1993 tidak pernah diimplementasikan akibat memburuknya hubungan kedua negara.
New START awalnya berlaku selama 10 tahun dan dijadwalkan berakhir pada Februari 2021. Namun, Presiden AS saat itu Joe Biden dan Presiden Rusia Vladimir Putin sepakat memperpanjangnya selama lima tahun hingga 2026. Perpanjangan tersebut kini berakhir tanpa adanya kesepakatan pengganti.
Dampak berakhirnya New START dinilai signifikan. Tanpa batasan hukum, AS dan Rusia tidak lagi terikat pada pembatasan jumlah persenjataan nuklir strategis yang mereka miliki.
“Ini sangat buruk bagi keamanan global,” kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov dalam konferensi pers pada Selasa (03/02/2026).
Hilangnya mekanisme inspeksi dan transparansi juga memicu kekhawatiran meningkatnya risiko salah tafsir intelijen yang dapat berujung pada eskalasi konflik nuklir. Selama ini, New START dipandang sebagai instrumen penting untuk menjaga predictability dan stabilitas strategis.
Upaya memperpanjang atau merumuskan perjanjian baru sempat muncul. Pada September 2025, Presiden Rusia Vladimir Putin menawarkan agar Moskow tetap mematuhi perjanjian tersebut secara sepihak selama satu tahun tambahan. Presiden AS Donald Trump kala itu menilai usulan tersebut “terdengar seperti ide yang bagus,” namun tidak memberikan komitmen konkret.
Namun, sikap Trump berubah. Dalam wawancara dengan The New York Times pada Januari 2026, dia menyatakan, “kalau memang berakhir, ya berakhir saja,” sembari menyebut harapannya untuk membuat perjanjian yang lebih baik. Trump juga kembali menegaskan pandangannya bahwa China harus dilibatkan dalam perjanjian pengendalian senjata nuklir yang baru.
China, yang saat ini diperkirakan memiliki sekitar 600 hulu ledak nuklir dan terus meningkatkan kapasitas militernya, menolak keterlibatan tersebut dengan alasan stok nuklirnya masih jauh lebih kecil dibandingkan AS dan Rusia.
Konteks perang Rusia di Ukraina turut memperumit situasi. Pada 2023, Moskow menangguhkan partisipasinya dalam New START dengan alasan dukungan militer AS terhadap Ukraina, meski Rusia tetap mematuhi batas jumlah persenjataan yang diatur perjanjian.
Kekhawatiran juga mencuat di Eropa. Sejumlah negara mempertanyakan keberlanjutan payung nuklir AS di bawah kepemimpinan Trump. Diskursus mengenai kemungkinan Prancis dan Inggris memperluas perlindungan nuklir kepada negara Eropa lain pun mengemuka.
“Kami tahu bahwa kami perlu mengambil sejumlah keputusan strategis dan kebijakan militer, tetapi saat ini belum waktunya,” ujar Kanselir Jerman Friedrich Merz.
Sementara itu, mantan Presiden AS Barack Obama mendesak Kongres AS agar mengambil langkah penyelamatan terhadap New START. Ia menilai berakhirnya perjanjian tersebut akan “menghapus puluhan tahun diplomasi secara sia-sia dan berpotensi memicu perlombaan senjata baru yang membuat dunia semakin tidak aman.”
Di sisi Rusia, Dmitry Medvedev memperingatkan bahwa absennya pengaturan pengganti akan mempercepat pergerakan “Jam Kiamat,” simbol ancaman kehancuran global akibat konflik nuklir. []
Siti Sholehah.
