Empat Jam Berenang, Satu Keputusan yang Selamatkan Nyawa

JAKARTA – Keputusan cepat seorang remaja berusia 13 tahun menjadi penentu keselamatan satu keluarga yang terseret arus ke laut lepas di Australia Barat. Dalam situasi yang terus memburuk, Austin Appelbee memilih berenang berjam-jam menuju pantai demi mencari pertolongan, sementara ibunya dan dua adiknya bertahan di tengah laut dengan kondisi serba terbatas.

Kepada BBC, Austin menyampaikan pandangannya dengan rendah hati. “Saya hanya melakukan apa yang seharusnya. Saya tidak kemudian menganggap diri saya sebagai pahlawan.” Namun, tindakan yang ia ambil justru dinilai para penyelamat sebagai upaya yang “di luar kemampuan manusia”.

Peristiwa itu bermula ketika keluarga Appelbee menikmati waktu liburan di perairan dangkal dekat Pantai Quindalup, Australia Barat. Mereka menggunakan dua papan selancar dan sebuah kayak dengan rencana kembali ke Perth pada Jumat (30/01/2026). Namun, kondisi laut berubah cepat.

“Ketika anak-anak makin jauh, angin semakin kencang dan semuanya menjadi lebih buruk,” kenang Joanne Appelbee (47). “Kami kehilangan dayung dan semakin jauh dari pantai. Semuanya menjadi kacau dengan sangat cepat.”

Saat terseret semakin jauh ke laut lepas, Joanne dihadapkan pada dilema berat. Ia tidak mungkin meninggalkan Beau (12) dan Grace (8), tetapi juga menyadari seseorang harus mencari bantuan. Keputusan pun diambil agar Austin kembali ke pantai.

“Kami sepakat Austin kembali ke pantai untuk mencari bantuan, karena sepertinya kami tidak terlalu jauh dari pantai,” ujarnya.

Austin berangkat menggunakan kayak tanpa mengetahui bahwa peralatan tersebut sudah rusak dan kemasukan air. Situasi memburuk ketika kayak terbalik dan dayung terlepas.

“Kayak itu mulai terbalik, saya kehilangan dayung. Saya sadar sedang dalam masalah. Saya pun mulai mendayung dengan tangan,” katanya.

Ia akhirnya terpaksa meninggalkan kayak dan berenang di laut terbuka. Dalam kondisi kelelahan ekstrem dan ketakutan, Austin mengandalkan doa, lagu rohani, serta pikiran positif agar tetap bertahan.

“Saya memikirkan ibu saya, Beau dan Grace. Saya juga memikirkan teman-teman dan pacar saya; saya memiliki sekelompok teman yang luar biasa,” tuturnya.

Setelah berenang hampir empat jam dan menempuh sekitar empat kilometer, Austin akhirnya mencapai daratan. “Ketika saya mencapai daratan, saya berpikir: bagaimana mungkin saya bisa sampai di daratan? Apakah ini mimpi?”

Tanpa membuang waktu, ia segera mencari bantuan. Sekitar pukul 18.00 waktu setempat, Austin menemukan tas ibunya di pantai dan menggunakan telepon untuk meminta pertolongan. Polisi menyebut panggilan tersebut memicu operasi pencarian besar-besaran.

Sementara itu, Joanne dan dua anaknya hanyut hingga 14 kilometer ke laut lepas. Ombak membesar, cahaya mulai meredup, dan jarak pandang semakin terbatas. Meski mengenakan jaket pelampung, mereka tidak membawa makanan maupun air.

“Seiring berjalannya waktu, kami tidak melihat ada kapal atau apa pun yang datang untuk menyelamatkan kami,” kata Joanne. Dalam benaknya, ia mempertanyakan keputusannya sendiri. “Jika Austin tidak berhasil, apa yang sebenarnya telah saya lakukan?”

Beberapa jam kemudian, kapal penyelamat akhirnya tiba. Joanne menyebut momen itu sebagai “akhir yang sempurna ketika melihat mereka semua baik-baik saja, bahagia, tanpa luka, meski diliputi kelelahan.”

Setelah dievakuasi, seluruh anggota keluarga mendapatkan perawatan medis akibat luka ringan dan kelelahan. Austin sendiri sempat pingsan dan dirawat di rumah sakit.

Kini, Austin telah kembali ke sekolah dengan bantuan kruk. Meski banyak pihak menyebutnya pahlawan, ia tetap menolak label tersebut dan justru memuji respons cepat layanan darurat.

Komandan Grup Penyelamatan Laut Sukarela Naturaliste, Paul Bresland, menyebut tindakannya sebagai “tindakan manusia super”. Inspektur James Bradley menambahkan bahwa keberanian Austin “layak mendapat pujian tertinggi”.[]

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *