Tragedi Sekeluarga di Perth Soroti Dukungan bagi Keluarga Anak Autisme

PERTH – Tragedi kematian empat orang dalam satu keluarga di Mosman Park, Perth, Australia Barat, memicu duka mendalam sekaligus perdebatan luas di ruang publik mengenai sistem dukungan bagi keluarga yang membesarkan anak dengan kebutuhan khusus. Peristiwa yang diduga merupakan kasus pembunuhan disertai bunuh diri itu kembali menyoroti pertanyaan krusial tentang sejauh mana negara hadir membantu orang tua yang menghadapi tekanan berat dalam pengasuhan anak penyandang disabilitas.

Kepolisian Australia Barat, seperti dilansir AFP, Jumat (06/02/2026), menyatakan bahwa aparat kepolisian dipanggil ke sebuah rumah di kawasan Mosman Park pada Jumat (30/01/2026) lalu. Setibanya di lokasi, petugas menemukan empat orang dalam satu keluarga telah meninggal dunia. Polisi menduga peristiwa tersebut merupakan tindak pembunuhan dan bunuh diri.

Empat korban yang ditemukan tewas terdiri atas seorang pria dan seorang wanita paruh baya, serta dua remaja laki-laki. Selain itu, polisi juga menemukan sebuah catatan di lokasi kejadian. Tidak hanya itu, tiga hewan peliharaan keluarga tersebut turut ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa.

Otoritas Australia hingga kini memilih untuk tidak mengungkap identitas resmi para korban. Namun demikian, sejumlah media lokal secara luas melaporkan bahwa korban adalah Maiwenna Goasdoue, seorang perempuan kelahiran Prancis, bersama suaminya, Jarrod Clune, serta dua putra mereka yang bernama Leon dan Otis.

Jejak kehidupan keluarga tersebut sebelumnya terlihat normal di media sosial. Unggahan di akun Goasdoue menampilkan potret keluarga yang tampak bahagia, menikmati waktu bersama di pantai, hingga merayakan ulang tahun dengan kue dan lilin. Namun di balik potret tersebut, terungkap fakta bahwa kedua anak mereka diketahui mengidap autisme.

“Kami mengetahui bahwa kedua anak tersebut mengalami tantangan kesehatan yang signifikan. Ini adalah situasi yang sangat menyedihkan bagi semua pihak yang terlibat,” kata Pelaksana Tugas Inspektur Detektif Jessica Securo kepada wartawan.

Sejumlah laporan media lokal, yang mengutip keterangan sahabat dekat keluarga tersebut, menyebutkan bahwa Goasdoue dan Clune merasa kewalahan dalam menghadapi kondisi anak-anak mereka. Mereka juga disebut merasa ditinggalkan karena dinilai tidak mendapatkan dukungan yang memadai dari Skema Asuransi Disabilitas Nasional Australia atau National Disability Insurance Scheme (NDIS).

Isu tersebut kemudian memicu kritik dan diskusi luas mengenai efektivitas sistem bantuan negara bagi keluarga penyandang disabilitas. Menteri Disabilitas Australia, Mark Butler, turut memberikan tanggapan atas peristiwa ini.

Ia menggambarkan kejadian tersebut sebagai sebuah “tragedi yang mengerikan”, namun menolak memberikan komentar lebih jauh terkait dugaan kurangnya dukungan sistemik yang diterima keluarga korban.

Di sisi lain, sejumlah aktivis dan pendukung hak disabilitas menyuarakan kekhawatiran terhadap narasi yang berkembang di publik. Mereka menilai pemberitaan yang menyiratkan bahwa orang tua terpaksa membunuh anak-anak mereka akibat kurangnya dukungan berpotensi menciptakan pembenaran moral yang berbahaya.

Komisioner Diskriminasi Disabilitas Australia, Rosemary Kayess, secara tegas menolak pandangan tersebut.

“Pembunuhan bukanlah pilihan,” tegas Kayess.

“Kita harus menolak gagasan bahwa disabilitas adalah beban. Setiap anak berhak atas kehidupan, keselamatan, dan dukungan, dan keluarga-keluarga harus memiliki akses terhadap bantuan jauh sebelum krisis terjadi,” lanjutnya.

Kasus ini kini tidak hanya dipandang sebagai tragedi keluarga, tetapi juga sebagai cermin bagi sistem perlindungan sosial Australia. Publik menanti langkah konkret pemerintah untuk memastikan keluarga dengan anak berkebutuhan khusus memperoleh dukungan yang memadai, agar tragedi serupa tidak kembali terulang.[]

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *