Dokumen Epstein Seret Elite Dunia, Penyelidikan Dibuka
JAKARTA – Rilis jutaan dokumen baru terkait pelaku kejahatan seksual Jeffrey Epstein oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat kembali memicu dampak luas di berbagai negara. Dokumen tersebut menyeret sejumlah tokoh ternama lintas sektor, mulai dari kalangan pengusaha, elite politik, hingga mantan kepala negara, yang namanya tercantum dalam berkas penyelidikan kasus Epstein.
Dalam dokumen-dokumen yang dibuka ke publik itu, disebutkan berbagai nama besar, termasuk miliarder Bill Gates serta Mantan Pangeran Inggris Andrew Mountbatten-Windsor. Meski pencantuman nama tidak serta-merta membuktikan keterlibatan pidana, kemunculan tokoh-tokoh tersebut memicu reaksi serius dari sejumlah pemerintah Eropa yang kini mulai melakukan penelusuran lanjutan.
Salah satu negara yang bergerak cepat adalah Polandia. Pemerintah setempat membentuk tim khusus untuk menyelidiki kemungkinan keterkaitan negara tersebut dengan jaringan Epstein. Langkah ini diambil menyusul temuan dalam dokumen yang menyebut adanya individu berkewarganegaraan Polandia dalam lingkaran Epstein.
Dilansir AFP, Kamis (05/02/2026), Menteri Kehakiman Polandia, Waldemar Zurek, ditunjuk untuk memimpin tim investigasi tersebut. “Seperti yang Anda ketahui dari laporan media, lingkaran Epstein termasuk orang Polandia,” kata Zurek kepada wartawan.
Ia menambahkan, “Dikatakan bahwa stafnya, yang mengelola operasi rahasia yang dramatis ini, termasuk dua orang Polandia.”
Zurek menjelaskan bahwa pihaknya telah mengetahui identitas dua individu yang dimaksud, namun belum membuka detailnya ke publik. Ia menyebut keduanya merupakan “seorang wanita Polandia dan seorang pria Polandia”. Penyelidikan difokuskan untuk memastikan apakah ada aktivitas Epstein atau jaringannya di wilayah Polandia yang memerlukan proses hukum lebih lanjut, termasuk kemungkinan adanya korban berkewarganegaraan Polandia.
Menurut Zurek, hingga kini belum ada laporan resmi dari korban di Polandia. Namun, ia menegaskan penyelidikan tetap diperlukan mengingat pola kejahatan Epstein yang melibatkan perekrutan perempuan, termasuk yang diduga masih di bawah umur. “Belum ada korban dari praktik ini yang melapor… tetapi kita tahu bahwa perekrutan perempuan ini mungkin juga dilakukan oleh anak di bawah umur”.
Lebih jauh, Zurek menyebut hasil kerja tim ini dapat berujung pada pembentukan komisi resmi yang akan meminta dokumen rahasia dari otoritas Amerika Serikat guna memperdalam penyelidikan.
Sementara itu, Perdana Menteri Polandia Donald Tusk turut menyampaikan rencana untuk menelusuri kemungkinan hubungan Epstein dengan intelijen Rusia. Tuduhan tersebut langsung mendapat respons dari Kremlin. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menanggapi singkat dengan mengatakan “jangan buang waktu kita,”. Tim investigasi Polandia dijadwalkan menggelar pertemuan perdana pekan depan.
Tak hanya Polandia, Norwegia juga mengambil langkah hukum. Kepolisian setempat membuka penyelidikan terhadap mantan Perdana Menteri Norwegia, Thorbjorn Jagland, terkait hubungannya dengan Epstein di masa lalu. Penyelidikan ini difokuskan pada dugaan “korupsi berat”.
Kementerian Luar Negeri Norwegia, seperti dilansir AFP, Jumat (06/02/2026), menyatakan akan mengajukan pencabutan kekebalan Jagland sebagai mantan kepala organisasi internasional guna mempermudah proses penyelidikan.
Jagland diketahui menjabat sebagai PM Norwegia pada periode 1996–1997 dan kemudian menduduki posisi Sekretaris Jenderal Dewan Eropa pada 2009–2019. Ia juga pernah memimpin komite pemilihan penerima Nobel Perdamaian.
Media Norwegia, VG, melaporkan bahwa penyelidikan didasarkan pada dokumen AS yang mengungkap adanya kontak intens antara Jagland dan Epstein. Dokumen tersebut menyebut Jagland pernah tinggal di properti milik Epstein di New York dan Paris, serta merencanakan perjalanan ke pulau pribadi Epstein. Jagland membantah menerima bantuan finansial dari Epstein dan menyatakan seluruh pinjaman propertinya berasal dari bank Norwegia.
Kasus Epstein yang kembali mencuat ini menegaskan bahwa dampaknya belum berakhir. Rilis dokumen AS kini membuka babak baru penyelidikan lintas negara yang berpotensi menyeret lebih banyak tokoh dunia ke dalam pusaran skandal global tersebut. []
Siti Sholehah.
