Trump Tolak Minta Maaf atas Video Rasis Obama

WASHINGTON DC – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuai kecaman luas setelah sebuah video bernuansa rasis yang diunggah melalui akun media sosialnya menjadi sorotan publik. Video tersebut menampilkan gambaran mantan Presiden AS Barack Obama dan mantan Ibu Negara Michelle Obama sebagai monyet, yang memicu kemarahan lintas partai dan kritik keras, termasuk dari kalangan Partai Republik sendiri.

Video itu diunggah Trump melalui platform Truth Social pada Kamis (05/02/2026) malam waktu setempat. Unggahan tersebut sempat bertahan hampir 12 jam sebelum akhirnya dihapus oleh Gedung Putih, menyusul gelombang kecaman dari berbagai pihak. Konten video tersebut muncul di tengah sejumlah unggahan lain Trump dan baru ditarik setelah reaksi publik semakin meluas.

Gedung Putih kemudian menyatakan bahwa unggahan itu terjadi akibat kesalahan staf. Pihak Istana menyebut seorang staf telah “secara keliru membuat unggahan tersebut”, tanpa menjelaskan lebih lanjut mekanisme pengawasan konten yang diunggah melalui akun presiden.

Dalam pernyataannya kepada wartawan di atas pesawat kepresidenan Air Force One, Trump memberikan penjelasan versinya terkait video tersebut. Seperti dilansir CNN dan USA Today, Sabtu (07/02/2026), Trump mengaku hanya melihat bagian awal video berdurasi sekitar satu menit itu dan tidak menyadari adanya potongan yang menampilkan keluarga Obama secara rasis.

“Saya melihat bagian awalnya. Baik-baik saja,” ucapnya, merujuk pada bagian pertama video rasis tersebut. “Itu adalah unggahan yang sangat kuat terkait kecurangan pemilu,” sebut Trump.

Video tersebut, pada bagian awal, memuat promosi teori konspirasi terkait kekalahan Trump dari mantan Presiden Joe Biden dalam pemilihan presiden tahun 2020. Namun, mendekati akhir video, wajah Barack Obama dan Michelle Obama ditampilkan di tubuh monyet selama kurang lebih satu detik, bagian yang kemudian memicu kecaman luas.

“Tidak ada yang mengetahui bahwa ada hal itu di bagian akhir. Jika mereka menontonnya, mereka akan melihatnya, dan mungkin mereka akan cukup bijaksana untuk menghapusnya,” katanya.

Trump mengklaim bahwa setelah menonton bagian awal video, dirinya langsung meneruskan konten tersebut kepada stafnya. Menurut Trump, staf yang bertanggung jawab seharusnya meninjau video secara menyeluruh sebelum diunggah ke publik.

“Seseorang lalai dan melewatkan bagian yang sangat kecil,” ucapnya. “Saya kira mungkin tidak ada yang meninjau bagian akhirnya,” kata Trump.

Meski demikian, ketika ditanya secara langsung apakah dirinya bersedia meminta maaf atas unggahan tersebut, Trump menegaskan penolakannya. Sikap ini justru memperpanjang kontroversi, terutama di tengah desakan dari sejumlah tokoh Partai Republik.

“Tidak. Saya tidak membuat kesalahan,” tegas Trump dalam pernyataannya.

Saat kembali didesak, Trump menyatakan bahwa dirinya mengutuk bagian rasis dalam video tersebut. “Tentu saja,” ucapnya.

Trump juga menepis anggapan bahwa unggahan video rasis itu dapat merugikan posisi Partai Republik di mata pemilih kulit hitam di Amerika Serikat. Ia justru membela rekam jejaknya selama menjabat sebagai presiden.

“Ngomong-ngomong, saya adalah presiden yang paling tidak rasis yang pernah Anda miliki dalam waktu yang lama,” klaim Trump.

Kecaman atas unggahan tersebut datang tidak hanya dari Partai Demokrat, yang menyebut tindakan Trump sebagai sesuatu yang “keji”, tetapi juga dari sejumlah politisi Partai Republik. Senator Tim Scott, satu-satunya senator kulit hitam dari Partai Republik dan sekutu dekat Trump, menyebut video tersebut sebagai “hal yang paling rasis yang pernah saya lihat dari Gedung Putih ini”.

Senator John Curtis, Senator Pete Ricketts, dan Senator Roger Wicker juga menyampaikan kritik terbuka. Curtis menyebut unggahan itu “sangat rasis dan tidak dapat dimaafkan”, Ricketts mengatakan bahwa “orang waras” akan menganggap video tersebut “rasis”, sementara Wicker menilai unggahan itu “sama sekali tidak dapat diterima”. Ketiganya menyerukan agar Trump menyampaikan permintaan maaf, meskipun video tersebut telah dihapus.

Kontroversi ini kembali menempatkan Trump dalam pusaran kritik terkait isu ras, yang berulang kali menjadi salah satu sorotan paling sensitif dalam perjalanan politiknya. []

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *