Sanae Takaichi Kokohkan Kekuasaan Usai Menang Telak Pemilu Jepang
TOKYO — Peta politik Jepang mengalami pergeseran signifikan setelah Perdana Menteri Sanae Takaichi mencatat kemenangan besar dalam pemilu sela yang digelar pada Minggu (08/02/2026) waktu setempat. Partai Demokratik Liberal (Liberal Democratic Party/LDP) yang dipimpin Takaichi berhasil mengamankan mayoritas dua pertiga kursi di majelis rendah parlemen Jepang, sebuah capaian yang memperkuat posisi pemerintahan sekaligus memberi ruang luas bagi agenda kebijakan strategisnya.
Hasil pemilu tersebut tidak hanya menegaskan dominasi LDP sebagai partai penguasa, tetapi juga menjadi legitimasi politik bagi Takaichi yang baru menjabat sejak Oktober 2025. Kemenangan telak ini dinilai membuka jalan bagi sejumlah kebijakan besar, mulai dari pemotongan pajak hingga peningkatan anggaran pertahanan, yang sebelumnya menuai perdebatan publik dan mengguncang pasar keuangan.
Pemilu sela ini tergolong tidak lazim karena digelar pada musim dingin. Namun, langkah politik tersebut sengaja diambil Takaichi untuk memanfaatkan lonjakan tingkat popularitasnya setelah terpilih sebagai ketua LDP dan kemudian menjabat sebagai perdana menteri perempuan pertama Jepang. Keputusan tersebut terbukti tepat sasaran, sekaligus menjadi pertaruhan politik yang berbuah manis.
Sebagai perdana menteri kelima Jepang dalam kurun lima tahun terakhir, Takaichi menghadapi tantangan stabilitas pemerintahan yang cukup besar. Namun, hasil pemilu kali ini justru memberinya mandat yang jauh lebih kuat dibandingkan para pendahulunya.
Seperti dilansir Reuters dan AFP, Senin (09/02/2026), LDP di bawah kepemimpinan Takaichi berhasil meraih 316 dari total 465 kursi di majelis rendah. Capaian ini disebut sebagai hasil terbaik yang pernah diraih LDP sepanjang sejarah pemilu Jepang. Dominasi tersebut semakin kokoh dengan bergabungnya mitra koalisi, Partai Inovasi Jepang (Ishin), sehingga total kursi koalisi pemerintahan mencapai 352 kursi.
Dengan perolehan tersebut, pemerintahan Takaichi menguasai lebih dari ambang batas dua pertiga kursi parlemen. Kondisi ini memberikan apa yang disebut sebagai supermajority, yang memungkinkan pemerintah meloloskan undang-undang penting dengan relatif mudah, bahkan berpotensi mengesampingkan majelis tinggi parlemen, tempat koalisi ini tidak memiliki mayoritas.
Dalam wawancara dengan televisi setempat pada Minggu (08/02/2026) malam, saat hasil pemilu mulai diumumkan, Takaichi menegaskan bahwa pemilu ini menjadi titik balik arah kebijakan nasional Jepang.
“Pemilu ini melibatkan perubahan kebijakan besar — khususnya perubahan besar dalam kebijakan ekonomi dan fiskal, serta penguatan kebijakan keamanan,” kata Takaichi.
Ia mengakui bahwa sejumlah agenda tersebut menuai kritik dan penolakan dari berbagai pihak. Meski demikian, dukungan pemilih yang tercermin dari hasil pemilu dianggapnya sebagai mandat kuat untuk melangkah lebih jauh.
“Ini adalah kebijakan yang telah menuai banyak pertentangan… Jika kita telah menerima dukungan publik, maka kita benar-benar harus mengatasi masalah-masalah ini dengan segenap kekuatan kita,” ucapnya.
Takaichi, yang kerap menyebut dirinya terinspirasi oleh mantan Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher, juga mendapatkan perhatian internasional. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan ucapan selamat atas kemenangan tersebut dan memuji keputusan Takaichi menggelar pemilu sela.
“Keputusan Sanae yang berani dan bijaksana untuk menyerukan pemilu membuahkan hasil yang besar,” kata Trump.
Trump juga menyampaikan harapannya agar Takaichi sukses meloloskan agenda konservatifnya, seraya menekankan konsep “perdamaian melalui kekuatan”. Bahkan, Trump dijadwalkan akan menjamu Takaichi di Gedung Putih pada bulan depan, menandai eratnya hubungan kedua negara di tengah dinamika geopolitik kawasan Asia Timur.
Dengan mandat politik yang kuat dan dukungan parlemen yang solid, pemerintahan Sanae Takaichi kini berada pada posisi menentukan arah kebijakan Jepang dalam beberapa tahun ke depan, baik di bidang ekonomi, fiskal, maupun keamanan regional. []
Siti Sholehah.
