Abbas Araghchi: Diplomasi Iran Berjalan Seiring Kesiapsiagaan Perang

JAKARTA — Pemerintah Iran kembali menegaskan sikap kebijakan luar negerinya yang mengedepankan diplomasi, namun tetap disertai kesiapsiagaan militer sebagai bentuk perlindungan terhadap kedaulatan negara. Penegasan tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di tengah dinamika hubungan Teheran dan Washington yang kembali memanas dalam beberapa pekan terakhir.

Pernyataan itu disampaikan Araghchi saat menghadiri Kongres Nasional Kebijakan Luar Negeri Republik Islam Iran yang digelar di Teheran pada Minggu (08/02/2026) waktu setempat. Forum tersebut berlangsung hanya dua hari setelah Iran dan Amerika Serikat melakukan pembicaraan nuklir tidak langsung di Oman. Dialog tersebut digelar menyusul meningkatnya ketegangan akibat retorika bernada konfrontatif dari Washington terhadap Teheran.

Dalam pidatonya, Araghchi menegaskan bahwa diplomasi dan kesiapan militer bukanlah dua hal yang saling bertentangan dalam kebijakan Iran. Menurutnya, kemampuan bertahan dan kesiapan menghadapi konflik justru menjadi fondasi agar jalur diplomasi tetap dapat berjalan secara seimbang dan bermartabat.

“Kita adalah bangsa yang berdiplomasi, kita juga bangsa yang siap berperang; bukan dalam arti kita mencari perang, tetapi… kita siap berperang agar tidak ada yang berani melawan kita,” katanya.

Araghchi menekankan bahwa prinsip utama kebijakan luar negeri Iran saat ini adalah martabat nasional. Prinsip tersebut, menurutnya, mencakup upaya menjaga kemerdekaan negara, menolak segala bentuk dominasi asing, serta mempertahankan kedaulatan Iran di tengah tekanan geopolitik global.

Ia juga menyampaikan bahwa sikap Iran terhadap negara lain akan sangat bergantung pada pendekatan yang digunakan pihak tersebut. Jika pihak luar memilih jalur diplomasi dan penghormatan, maka Iran akan merespons dengan cara yang sama. Sebaliknya, penggunaan tekanan dan kekuatan, kata Araghchi, juga akan dihadapi dengan sikap tegas.

Lebih lanjut, Araghchi menyatakan bahwa Iran tetap membuka ruang dialog untuk menyelesaikan berbagai keraguan internasional terkait program nuklirnya. Ia menegaskan bahwa program nuklir Iran bersifat damai dan berada dalam kerangka hukum internasional. Menurutnya, jalur diplomasi merupakan satu-satunya cara realistis untuk menyelesaikan perbedaan pandangan tersebut.

“Mereka (musuh) membom fasilitas kami, tetapi mereka gagal mencapai hasil yang mereka inginkan. Pengetahuan tidak dapat dihancurkan oleh pemboman; teknologi tidak dapat dihancurkan. Ada teknologi dan ada pengetahuan, jadi tidak ada pilihan selain bernegosiasi,” katanya.

Dalam konteks tersebut, Araghchi menilai bahwa tekanan militer maupun sanksi tidak akan mampu menghentikan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi Iran. Ia justru melihat dialog dan negosiasi sebagai jalan yang paling rasional untuk mencapai kesepahaman antara Iran dan komunitas internasional.

Diplomat senior itu juga menegaskan bahwa Iran memiliki hak sah untuk mengembangkan program energi nuklir damai. Hak tersebut, menurutnya, telah diakui secara internasional dan seharusnya dihormati oleh semua pihak tanpa diskriminasi.

“Saya percaya rahasia kekuatan Republik Islam Iran terletak pada kemampuannya untuk melawan intimidasi, dominasi, dan tekanan dari pihak lain,” kata Araghchi.

Pernyataan Araghchi ini mencerminkan strategi Iran dalam menghadapi dinamika geopolitik yang semakin kompleks. Dengan mengombinasikan diplomasi dan ketegasan, Teheran berupaya mempertahankan posisi tawarnya di tengah tekanan global, sekaligus menegaskan bahwa stabilitas kawasan hanya dapat dicapai melalui dialog yang setara dan saling menghormati.[]

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *