Operasi Israel di Lebanon Selatan, Empat Orang Dilaporkan Tewas
JAKARTA – Situasi keamanan di Lebanon selatan kembali memanas setelah serangkaian operasi militer Israel menewaskan empat orang, termasuk seorang anak berusia tiga tahun. Insiden ini terjadi dalam dua serangan terpisah yang dilakukan pasukan Israel dan diklaim menargetkan anggota kelompok Hizbullah. Perkembangan tersebut menambah daftar korban sipil sejak gencatan senjata pascaperang 2024 diberlakukan.
Berdasarkan laporan Al Arabiya dan Reuters, Selasa (10/02/2026), serangan tersebut berlangsung di sejumlah desa di Lebanon selatan. Selain operasi udara yang menimbulkan korban jiwa, pasukan Israel juga melancarkan penggerebekan darat yang berujung pada penangkapan seorang pejabat kelompok al-Jamaa al-Islamiya, kelompok Sunni Lebanon, pada Senin (09/02/2026) waktu setempat. Militer Israel menyebut pejabat tersebut sebagai tokoh penting dan membawanya ke wilayah Israel untuk menjalani pemeriksaan.
Sejak konflik besar antara Israel dan Hizbullah pada 2024, wilayah perbatasan Lebanon-Israel terus mengalami ketegangan. Menurut data dari sumber keamanan Lebanon, sekitar 400 orang dilaporkan tewas akibat serangan Israel sejak gencatan senjata diberlakukan, menunjukkan rapuhnya kesepakatan damai yang ada.
Korban terbanyak dalam insiden terbaru dilaporkan terjadi di desa Yanouh. Kantor Berita Nasional Lebanon (National News Agency/NNA), mengutip Kementerian Kesehatan Lebanon, menyebut tiga orang tewas dalam serangan udara Israel di wilayah tersebut, termasuk seorang anak berusia tiga tahun. Peristiwa ini kembali memunculkan kekhawatiran terkait dampak operasi militer terhadap warga sipil yang tinggal di kawasan konflik.
Menanggapi laporan tersebut, militer Israel menyatakan bahwa target serangan di Yanouh adalah seorang militan Hizbullah. Israel mengidentifikasi sosok tersebut sebagai kepala unit artileri Hizbullah di wilayah itu dan menuduhnya aktif melancarkan serangan ke wilayah Israel selama perang serta tengah berupaya membangun kembali kemampuan militer kelompoknya.
Militer Israel juga menanggapi laporan jatuhnya korban sipil dalam serangan tersebut. Mereka menyatakan telah melakukan berbagai langkah pencegahan untuk meminimalkan risiko terhadap warga yang tidak terlibat dalam konflik. Militer Israel mengatakan mereka “menyadari klaim bahwa warga sipil yang tidak terlibat telah tewas.” Militer Israel juga mengatakan bahwa langkah-langkah telah diambil untuk mengurangi dampak terhadap warga sipil termasuk penggunaan amunisi presisi, dan bahwa mereka menyesali jatuhnya korban yang dialami warga sipil yang tidak terlibat. “Insiden tersebut sedang diselidiki,” katanya.
Korban jiwa lainnya dilaporkan terjadi di desa perbatasan Aita al-Shaab. Kementerian Kesehatan Lebanon, melalui NNA, menyebut seorang pria tewas akibat serangan Israel di wilayah tersebut. Dengan demikian, total korban tewas dari rangkaian serangan terbaru ini mencapai empat orang.
Hizbullah merespons keras insiden tersebut. Dalam pernyataan resminya, kelompok itu menyebut serangan Israel sebagai bentuk peningkatan agresi militer. Hizbullah menilai peristiwa tersebut menandai “eskalasi berbahaya” dan “menandakan awal fase baru agresi Israel.”
Israel, di sisi lain, menuduh Hizbullah berusaha mempersenjatai diri kembali dan melanggar kesepakatan gencatan senjata yang telah disepakati dengan Lebanon. Tuduhan ini dibantah oleh Hizbullah, yang menyatakan pihaknya tetap mematuhi kesepakatan tersebut di wilayah Lebanon selatan.
Selain serangan udara, operasi Israel juga mencakup penangkapan seorang pejabat al-Jamaa al-Islamiya di desa Habbariyeh, dekat kota Hasbaiyaa. Kelompok tersebut diketahui sempat menembakkan roket ke Israel selama perang Gaza. Penangkapan ini menambah dimensi baru dalam konflik yang melibatkan berbagai kelompok bersenjata di kawasan tersebut. []
Siti Sholehah.
