Siswa Demo Desak Transparansi Kasus Dugaan Pelecehan Guru di Pasar Rebo

JAKARTA – Dugaan kasus pelecehan yang melibatkan oknum guru di salah satu sekolah menengah atas (SMA) di kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur, memantik reaksi keras dari kalangan pelajar. Puluhan siswa menggelar aksi demonstrasi sebagai bentuk protes sekaligus solidaritas terhadap para korban yang diduga mengalami pelecehan. Aksi tersebut juga menjadi sorotan publik karena dinilai mencerminkan kegelisahan pelajar terhadap rasa aman di lingkungan sekolah.

Berdasarkan laporan Antara, aksi unjuk rasa berlangsung pada Senin (09/02/2026). Para pelajar menyuarakan tuntutan agar dugaan pelecehan yang melibatkan tenaga pendidik tersebut diusut secara tuntas, terbuka, dan adil. Mereka membawa poster serta menyampaikan orasi yang menekankan pentingnya perlindungan terhadap siswa dan transparansi dalam penanganan kasus.

Dalam orasinya, para pelajar menilai dugaan pelecehan tersebut bukan persoalan sepele. Mereka menyebut bahwa indikasi tindakan tidak pantas telah berlangsung cukup lama. Dugaan itu diperkuat oleh munculnya suara dari sejumlah alumni yang mengaku mengalami atau mengetahui peristiwa serupa saat masih bersekolah di institusi tersebut.

Kasus ini kini telah memasuki ranah hukum. Wanda Al-Fathi Akbar selaku kuasa hukum salah satu korban berinisial N mengungkapkan bahwa korban dugaan pelecehan tidak hanya satu orang. Ia menyebut adanya kemungkinan jumlah korban lebih dari dua siswi.

“Yang kita dapat ada beberapa korban. Memang mungkin selama ini mereka nggak berani speak up. Estimasi mungkin lebih dari dua orang,” kata Wanda, dilansir Antara, Rabu (10/02/2026).

Menurut Wanda, selama ini para korban memilih bungkam karena diliputi rasa takut dan tekanan. Situasi tersebut berubah ketika salah satu korban memberanikan diri melapor ke pihak kepolisian. Keberanian tersebut kemudian mendorong korban lain untuk mulai bersuara.

“Jadi, kasus ini diam selama ini. Ketika korban yang sekarang, yang kita tangani ini, baru bermunculan korban-korban lainnya,” imbuhnya.

Laporan resmi telah disampaikan ke Polres Metro Jakarta Timur. Saat ini, aparat kepolisian masih melakukan penyelidikan awal terhadap dugaan pelecehan tersebut. Namun, kuasa hukum menyebut perkara ini berpeluang naik ke tahap penyidikan dalam waktu dekat.

“Saat ini, masih tahap penyelidikan. Kemungkinan akan segera naik ke tahap penyidikan,” ucap Wanda.

Selain menempuh jalur hukum, pihak kuasa hukum juga berupaya meminta tanggung jawab institusi pendidikan. Mereka telah mendatangi pihak sekolah untuk mengonfirmasi status terduga pelaku serta memastikan sekolah tidak bersikap pasif.

“Ini kita bermusyawarah supaya ada solusi dari pihak sekolah. Kita meminta bahwa dengan adanya laporan dan pemberhentian terhadap oknum dua guru tadi, pihak sekolah tidak lepas tangan,” jelas Wanda.

Terkait bentuk dugaan pelecehan, Wanda menjelaskan bahwa saat ini bukti yang telah dikantongi berupa dugaan pelecehan verbal yang terjadi melalui percakapan di grup WhatsApp. Percakapan tersebut diduga berisi pembahasan tidak pantas mengenai korban dan siswi lainnya.

“Oknum guru itu saling chat-chat-an lewat WhatsApp. Dari situ, saling membicarakan korban dan siswa-siswa lainnya mengenai fisik,” kata Wanda.

Meski demikian, ia menyebut adanya informasi tambahan mengenai dugaan pelecehan fisik terhadap korban lain, meskipun identitas korban tersebut belum terungkap.

“Bukti yang kita pegang saat ini baru verbal, lewat WA (WhatsApp). Tapi info dari teman-teman yang lain, ada yang main fisik juga. Hanya, korbannya belum diketahui,” ujar Wanda.

Aksi demonstrasi pelajar ini menjadi simbol desakan agar lingkungan pendidikan kembali menjadi ruang aman bagi siswa, sekaligus menegaskan pentingnya keberanian untuk melawan praktik kekerasan dan pelecehan di dunia pendidikan. []

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *