India Kurangi Impor Minyak Rusia Jelang Deal dengan AS

JAKARTA – Upaya India mempererat hubungan dagang dengan Amerika Serikat (AS) mulai tercermin dalam kebijakan sektor energinya. Sejumlah perusahaan pengilangan minyak milik negara maupun swasta di India dilaporkan mengurangi, bahkan menghindari, pembelian minyak mentah asal Rusia untuk pengiriman April 2026. Langkah ini dinilai sebagai bagian dari strategi diplomasi ekonomi New Delhi di tengah negosiasi perdagangan dengan Washington.

Perkembangan tersebut muncul seiring semakin intensifnya pembahasan kerangka kerja sama perdagangan antara India dan AS. Pada Jumat (06/02/2026), kedua negara mengumumkan kerangka kesepakatan yang ditargetkan rampung pada Maret 2026. Kesepakatan itu diharapkan mampu menurunkan tarif serta memperluas kerja sama ekonomi bilateral.

Mengutip laporan Reuters, Senin (09/02/2026), tiga perusahaan besar India yakni Indian Oil, Bharat Petroleum, dan Reliance Industries saat ini tidak menerima tawaran pembelian minyak mentah Rusia untuk periode Maret hingga April 2026. Sikap tersebut menandai perubahan pendekatan dibandingkan periode sebelumnya ketika minyak Rusia menjadi salah satu sumber utama pasokan energi India.

Meski demikian, sebagian pengiriman minyak Rusia untuk Maret 2026 tetap berjalan sesuai kontrak yang telah disepakati sebelumnya. Sumber di sektor pengilangan menyebutkan bahwa jadwal pengiriman yang sudah ditetapkan tetap dipenuhi. Namun, untuk kontrak baru, sebagian besar kilang disebut telah menghentikan pembelian minyak mentah Rusia.

Kebijakan ini sejalan dengan pernyataan pemerintah India mengenai pentingnya diversifikasi energi. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri India menegaskan bahwa kebijakan energi nasional mempertimbangkan kondisi pasar global serta dinamika geopolitik yang terus berkembang.

“Diversifikasi sumber energi sejalan dengan kondisi pasar objektif dan dinamika internasional yang berkembang adalah inti dari strategi kita,” katanya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa India berupaya menjaga fleksibilitas pasokan energi sekaligus menyesuaikan diri dengan perkembangan hubungan internasional. Sejak konflik Rusia-Ukraina pecah, India menjadi salah satu pembeli utama minyak Rusia dengan harga diskon. Namun, tekanan geopolitik dan kepentingan perdagangan dengan negara-negara Barat turut memengaruhi arah kebijakan tersebut.

Walau dalam pernyataan bersama AS-India mengenai kerangka kesepakatan dagang tidak disebutkan secara eksplisit soal minyak Rusia, Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengambil langkah signifikan dengan mencabut tarif 25% atas sejumlah barang India. Tarif itu sempat diberlakukan sebagai respons atas pembelian minyak Rusia oleh India.

Pencabutan tarif tersebut dilakukan dengan alasan bahwa New Delhi telah berkomitmen untuk menghentikan impor minyak Rusia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kebijakan itu dipandang sebagai sinyal positif bagi kelanjutan negosiasi perdagangan kedua negara.

Analis menilai, keputusan sejumlah kilang India untuk menghindari pembelian minyak Rusia dapat menjadi faktor penting dalam memperlancar proses finalisasi kesepakatan dagang dengan AS. Namun, langkah ini juga berpotensi memengaruhi struktur pasokan energi domestik India, yang selama ini memanfaatkan harga kompetitif dari Rusia untuk menekan biaya impor.

Ke depan, arah kebijakan energi India diperkirakan akan terus menyesuaikan dinamika geopolitik global, sembari menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi dan stabilitas pasokan energi nasional. []

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *